Senin, 26 November 2012

Secangkir Kopi




Sekelompok alumni, yang sangat mapan dalam karir, berkumpul dan mengunjungi profesor mereka di universitas. Pembicaraan hangat mulai terjadi dan mengarah bagaimana mereka mengeluh tentang tekanan hidup dan pekerjaan.
Profesor itu menawarkan kopi, lalu dia pergi ke dapur dan kembali dengan seteko kopi dan bermacam-macam cangkir - porselain, plastik, beling, kristal, beberapa terlihat biasa, beberapa terlihat mahal dan beberapa tampak indah - lalu meminta mereka untuk menuang kopinya sendiri.
Ketika semua mantan muridnya itu sudah memegang cangkir kopi di tangannya, profesor berkata :
"Jika kalian perhatikan, semua cangkir yang indah dan mahal lah yang kalian pilih untuk  digunakan, dan menyisakan cangkir yang murah dan biasa saja. Meskipun normal kalau kamu ingin yang terbaik untuk diri sendiri, namun ternyata hal itu menjadi sumber masalah dan stres yang kamu alami. Meskipun kalian tahu dengan pasti, bahwa cangkir itu sendiri tidak menambah kualitas kopi. Dalam kebanyakan kasus hanya lebih mahal dan dalam beberapa kasus malah menyembunyikan apa yang kita makan.”
Apa yang kalian inginkan sebenarnya adalah kopi, bukan cangkirnya, tapi kita terfokus pada cangkir yang terbaik dan kemudian kalian mulai melihat kopi orang lain.
Sekarang pertimbangkanlah hal ini :

Kehidupan adalah kopi, sementara pekerjaan, uang dan posisi dalam komunitas adalah cangkirnya. Mereka hanyalah alat untuk menampung dan tidak mengandung kehidupan, dan tipe cangkir yang kita miliki tidak mendefinisikan siapa kita dan tidak juga mengubah kualitas kehidupan yang kita jalani. Kadang, dengan konsentrasi hanya pada cangkir kopi, kita gagal menikmati kopi yang Tuhan sediakan bagi kita."
Tuhan menyediakan kopinya, bukan cangkirnya...nikmati kopi Anda!

Saya dikirimi teman saya tulisan tersebut awal tahun ini.  
Berhubungan dengan tulisan diatas, beberapa hari terakhir saya sedang kecanduan dengan tayangan sinetron di salah satu stasiun televisi swasta, karena menurut penilaian saya masih agak bermutu, dialog-dialognya dan konflik yang muncul belum terlihat aneh. Ada teman yang sempat tanya disela-sela saya nonton tayangan tersebut, “kamu hobby sinetron ya”, saya jawab “jujur engga, cuma kebetulan waktunya pas.
Melihat beberapa dialog dalam sinetron tersebut, tiba-tiba saya teringat tentang apa yang disebutkan dengan mantra, yaitu cara bagaimana kita mengapresiasi dan mengakui setiap hari sebagai sebuah keajaiban jika kita menyadari esensi dari kehidupan itu sendiri. Tentang keberadaan kita, nama kita, orang-orang yang disediakan disekitar kita, udara yang kita hirup dan berkuasanya yang menyertai hidup kita.
Saya melihat tayangan sambil senyum-senyum bahagia, karena ide saya yang semula terlihat konyol indah juga jika divisualisasi seperti itu.
Kurang lebih enam tahun yang lalu saya membiasakan diri mengatakan didepan cermin, setiap pagi, atau waktu saya berpendapat hari itu kurang bersahabat. Deretan kata ajaib itu adalah :
Hallo saya….(sebut nama), sebut usia, saya menarik, saya kuat, saya berharga di mata Tuhan, dan seterusnya, kata-katanya bisa bertambah bisa berkurang sesuai kebutuhan. Waktu itu saya mengucapkan deretan kalimat itu disela-sela saya menunggu pesanan makanan disebuah food court. Teman yang bersama saya langsung nyletuk “mantra konfiden ya kak” sambil senyum saya jawab, “bukan” sebagai pernyataan tidak setuju. Sampai sekarang saya juga tidak memberi nama apapun kepada deretan kalimat ritual yang sering saya ucapkan itu. Meskipun fungsinya sama, untuk tetap kuat, yakin dan percaya diri.
Biasanya yang saya katakan hari kurang bersahabat, adalah arti lain dari kegagalan saya menjaga hati. Yang bisa menyebabkan saya mengamati realita lebih dari harapan.
Realita tentang kegagalan, kemustahilan, tentang tidak adanya dasar untuk tetap berharap. Atau kadang hanya sekedar menyetujui pendapat negatif orang yang sengaja dilemparkan untuk kita. Tentang apapun dari segi hidup kita, yang mungkin sebenarnya itu hanya pelengkap kehidupan, bisa dibilang asesoris, yang berada dibagian luar hidup kita dan melupakan keajaiban dari hidupan itu sendiri, yang kita jalani dari hari ke hari, yang memang terlihat wajar dan seharusnya. Sebenarnya jika diamati, betapa ajaibnya hari dimana kita dibentuk, kelahiran kita, nama kita, keindahan pagi, nafas hidup, perpindahan malam dan orang-orang disekitar kita. Sementara  masih ada orang yang harus berjuang keras untuk mendapatkan hidup itu sendiri.
Jika kita dalam kondisi sehat dan baik-baik saja, mungkin ini yang harus kita perjuangkan, bagaimana hidup dalam kebenaran. Mengapa harus kebenaran yang diperjuangkan, karena seperti yang kita sering dengar, bahwa baik belum tentu benar tapi kalau benar sudah pasti baik. Mengasihi dengan murah hati, memberi kepedulian dengan tulus dan sisanya kita serahkan kepada Sang Pemberi Hidup. Konon segala hal yang baik akan mengikuti.  

Jika hal sederhana tersebut menjadi budaya hidup kita sehari-hari  kalimat bijak ini akan menjadi bagian kita, bahwa orang yang paling berbahagia bukanlah mereka yang mendapatkan semua yang terbaik, tapi mereka yang melakukan yang terbaik dengan semua yang mereka dapatkan.

 

Indie *241112

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Abigail Indiana

Foto saya
I am a product of GOD's Grace. Single, Simple person but will always be an extraordinary person. Just a nature, Truth lover, jazzy lover, coffee lover. Selalu mendefinisikan setiap fase hidup dengan ucapan syukur. I love my beloved Savior, He loves me unconditionally.