Senin, 19 Agustus 2019

KEBAHAGIAAN

Menurut anda, apakah anda orang yang bahagia? Jika ya, apa yang membuat Anda bahagia? Keluarga, pekerjaan, kegiatan ibadah? Atau, mungkin anda sedang menanti-nantikan sesuatu yang menyenangkan, lulus sekolah, mendapat segala sesuatu sesuai harapan dan impian, mungkin pekerjaan, mobil, rumah, pasangan, dll.

Banyak orang merasa senang saat mereka berhasil melakukan sesuatu atau mendapatkan apa yang mereka inginkan, cenderung menempuh berbagai cara, dari yang baik sampai yang berujung merugikan orang lain. Tapi, berapa lama mereka merasa senang? Sayangnya, rasa senang itu biasanya hanya sesaat dan sementara.

Menempatkan kebahagiaan pada standar yang salah, yaitu pada hal yang hanya berujung pada kesenangan cenderung merusak. 

Sebagai contoh, jika alasan kebahagiaan karena pekerjaan dan kegiatan ibadah, orang akan berkompetisi untuk saling mengalahkan pihak lain, dengan segala cara. 

Kebahagiaan adalah perasaan tenteram yang terus ada. Perasaan bahagia bisa bermacam-macam, mulai dari rasa puas sampai perasaan sangat bersukacita dan senang menjalani kehidupan. Orang yang bahagia akan terus ingin merasa bahagia.

Kebahagiaan bukanlah perasaan yang datang dan pergi, tapi itu terus ada. Kebahagiaan bergantung pada cara seseorang menjalani hidup, bukan pada apa yang dia dapatkan.

Jadi orang yang mengatakan, ”Saya akan bahagia jika. . . ” mereka justru tidak akan bahagia. Sebagai gambaran, kita akan membandingkan kebahagiaan dengan kesehatan yang baik. Bagaimana kita bisa tetap sehat? Dengan terus menjaga pola makan, berolahraga, dan punya gaya hidup yang baik. Begitu juga, kita bisa bahagia kalau kita terus menjalani kehidupan yang benar dan mengikuti nasihat Kitab Suci atau kebenaran Firman Tuhan.

Sebagai orang yang telah mengenal kasih Allah dan kebenaran-Nya, kita harus memiliki standar kebahagiaan yang berbeda, bukan sekedar berujung pada kesenangan sementara. Firman Tuhan mencatat beberapa hal yang harus menjadi dasar kebahagiaan orang percaya, salah satunya ada dalam Mazmur 128:1 yang mengatakan “berbahagialah setiap orang yang takut akan Tuhan, yang hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya! Itulah inti kebahagiaan orang percaya, yang hanya dapat di peroleh dengan satu cara, bagaimana seseorang hidup dalam ketaatan pada kebenaran. 

Kekayaan yang diperoleh melalui kekuatan kebenaran, dan kesehatan yang di dapat melalui kekuatan kedamaian, keduanya memberikan kebahagiaan. Dan kebahagiaan bisa didapat jika perbuatan, sikap dan sifat kita suci dan tidak mementingkan diri sendiri.

Indie 22/05/18

IMAN DAN ETIKA

Iman dan etika menjadi sesuatu yang berkaitan erat dan saling menentukan. Kepada siapa iman kita letakkan akan menentukan etika kita dalam berprilaku. Kisah Daniel bersama ketiga temannya sangat menarik untuk dipelajari, karena pribadi mereka yang setia dalam iman dan etika. Meskipun mereka orang-orang Yahudi (buangan) dalam Kerajaan Babel, golongan minoritas, dan masih berusia muda pada saat itu, tetapi mereka dapat menghidupi prinsip spirit of excellent. Daniel yang pada saat itu seorang pelayan raja, tetapi berani untuk mempertahankan nilai yang ia percayai, prinsip hidupnya di tengah-tengah suasana yang berbeda.

Pada jaman modern dan serba bebas seperti sekarang ini, beranikah kita tetap berpegang pada prinsip untuk menjaga kekudusan meski orang di sekitar kita tidak melakukannya? Beranikah kita berprinsip seperti Daniel yang excellence dalam hal karakter, iman dan etika.

Daniel 1:8-9 “Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan raja dan dengan anggur yang biasa diminum raja; dimintanyalah kepada pemimpin pegawai istana itu, supaya ia tak usah menajiskan dirinya. Maka Allah mengaruniakan kepada Daniel kasih dan sayang dari pemimpin pegawai istana itu.”

Tuhan bukan hanya sekedar interested terhadap Hati kita, tetapi Tuhan juga tertarik untuk memakai Otak kita. Tuhan menganugerahkan kecerdasan, kepandaian, pengertian dan kebijaksanaan kepada kita. Pada saat Daniel berhasil dan diberikan kedudukan yang besar,

dia tidak lupa akan teman-teman-nya. Sukses hari ini bukan sukses besok. Excellent bukan perbuatan tunggal tapi prinsip hidup.

Daniel 1:17 “Kepada keempat orang muda itu Allah memberikan pengetahuan dan kepandaian tentang berbagai-bagai tulisan dan hikmat, sedang Daniel juga mempunyai pengertian tentang berbagai-bagai penglihatan dan mimpi.”

“Dalam tiap-tiap hal yang memerlukan kebijaksanaan dan pengertian, yang ditanyakan raja kepada mereka, didapatinya bahwa mereka sepuluh kali lebih cerdas dari pada semua orang berilmu dan semua ahli jampi di seluruh kerajaannya” (Daniel 1:20 TB)


Yang menakjubkan dari Kisah Daniel adalah dia dapat membuat raja mengakui kebesaran Allah, tempat dimana dia meletakkan imannya. Dalam hidupnya, Daniel memegang teguh nilai-nilai yang akhirnya mempermuliakan nama Tuhan. 

Biarlah setiap kita sebagai orang percaya bukan hanya bisa menjaga kemurnian hati, tapi pada saat bersamaan juga punya tingkat kecerdasan yang luar biasa. Seperti Daniel, yang berhasil melayani tiga raja dalam tiga pemerintahan, karena hidup-nya yang excellent, sementara orang lain sibuk menjatuhkan dia dan mempromosikan diri sendiri, Daniel tidak perlu melakukan semua itu. Sama halnya dengan pekerjaan kita, jika kita memiliki produk dan servis yang excellent, maka kita tidak perlu mempromosikan hal itu, karena orang lain dan para pelanggan/customer yang akan melakukan hal itu untuk kita.

Indie 21/03/18

JANGAN TERGESA-GESA


Pertumbuhan bukanlah sebuah momen, melainkan suatu proses yang memerlukan waktu tertentu.  Semua tergantung jenisnya, tumbuhan dan hewan, memiliki waktu yang berbeda.
Kita mungkin sering mendengar sebuah ilustrasi, proses sebuah telur menjadi hewan, atau sebuah ulat menjadi kupu-kupu. Kita tidak bisa membantu mempercepat bakal hewan dalam cangkang telur untuk segera keluar, atau membantu kupu-kupu keluar dari kepompong, hanya karena ketidaks abaran kita. Karena sama artinya kita merusak kehidupan mereka yang akan datang.
Itu sebabnya, kita tidak bisa tergesa-gesa. Sama halnya dengan pertumbuhan manusia, baik secara rohani, jiwa maupun fisik.

Ada beberapa cara untuk bekerja sama dengan Allah dalam menikmati proses pertumbuhan menuju kedewasaan rohani.
Yang pertama : Percaya bahwa Allah sedang bekerja di dalam kehidupan Anda bahkan ketika Anda tidak merasakannya. Menanti kemajuan pertumbuhan rohani kadang merupakan pekerjaan yang membosankan, satu langkah kecil setiap kali. Alkitab mengatakan, “Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya.” Dalam hidup kita mengalami berbagai musim. Adakalanya kita mengalami ledakan pertumbuhan yang singkat dan hebat (musim semi) yang diikuti oleh suatu masa penstabilan dan ujian (musim gugur dan musim dingin).
Lalu bagaimana dengan masalah-masalah, kebiasaan-kebiasaan, dan luka-luka hati yang mengiringi proses yang kita lewati, apakah dapat lenyap secara ajaib, dengan doa dan ketekunan? Jawabannya belum tentu, karena bisa jadi jawabannya datang melalui perubahan secara bertahap.

Kedua : Miliki sebuah buku catatan spiritual jurnal. Untuk mencatat momen-momen yang didalamnya ada pelajaran yang Allah singkapkan. Bukan sekedar catatan harian yang berisi perasaan-perasaan kita saja, tetapi sebuah catatan dari apa yang sedang kita pelajari. Tulislah berbagai wawasan dan pelajaran-pelajaran tentang kehidupan yang Allah ajarkan kepada kita tentang Dia, tentang diri kita sendiri, tentang kehidupan, hubungan, dan segala hal yang kita tahu dengan pasti itu adalah pelajaran penting tentang mengembangkan karakter Allah. Catatan itu akan menjadi pengingat bagi kita, terutama ketika kita sedang dalam kondisi menurun, kita dapat membaca ulang, dan kembali kuat, bahwa kita pernah menghadapi hal paling berat dan dapat melewatinya. Alasan kita harus belajar kembali beberapa pelajaran adalah karena kita mudah melupakannya, terlebih ketika kita berada dalam kondisi nyaman dan sangat nyaman. Dengan meninjau kembali catatan rohani kita secara teratur, kita dapat terhindar dari banyak penderitaan dan luka hati yang tidak perlu. Alkitab mengatakan, “Karena itu kita harus lebih teliti memperhatikan apa yang telah kita dengar, supaya kita jangan hanyut dibawa arus.”

Ketiga : Bersabar dengan Allah dan dengan diri Anda sendiri. Kita sering mengalami kegagalan untuk memahami bahwa waktu Allah tidak sama dengan waktu kita, itu yang membuat kita gagal untuk bersabar. Tidak jarang kita merasa frustrasi dengan lambatnya kemajuan kehidupan kita.
Allah menggunakan proses panjang untuk mengembangkan karakter, khususnya di dalam diri para pemimpin. Dia mengambil waktu 80 tahun untuk mempersiapkan Musa, termasuk 40 tahun di padang gurun. Selama 14.600 hari Musa tetap menanti dan bertanya dalam hati, "Apakah sudah tiba waktunya?" Tetapi Allah tetap berkata, "Belum."
Tidak ada Langkah-Langkah Mudah atau rahasia-rahasia yang ditempuh dengan intan untuk Mencapai karakter Allah. Orang-orang besar bertumbuh melalui pergumulan dan badai dan musim-musim penderitaan. Bersabarlah dengan proses tersebut. Yakobus memberi nasihat, “Jangan mencoba melepaskan diri dari sesuatu sebelum waktunya. Biarkanlah ia bekerja supaya kamu menjadi dewasa dan berkembang dengan baik.”

Keempat : Jangan menjadi kecil hati. Ketika Habakuk menjadi sedih karena dia mengira Allah tidak bertindak dengan cukup cepat, Allah mengatakan hal ini : “Segala hal yang telah kurencanakan ini tidak akan terjadi dengan segera. Meskipun demikian pasti saat penggenapan penglihatan itu akan tiba. Jika tampaknya lambat, janganlah putus asa, karena semua itu pasti akan terjadi. Bersabarlah! Semua itu tidak akan terlambat barang sehari pun!” Suatu penundaan bukan berarti penolakan dari Allah.
Ingatlah seberapa jauh kita telah sampai, bukan seberapa jauh kita harus pergi. Kita tidak berada di tempat yang kita inginkan, tetapi kita juga tidak berada di tempat yang biasanya kita berada.
Ketika kita mulai tergesa-gesar dan berkecil hati katakan hal ini "Please Be Patient, God Is Not Finished With Me Yet (Bersabarlah, Allah Belum Selesai Dengan Saya).” Allah juga belum selesai dengan Anda, jadi tetaplah maju. Bahkan siput mencapai bahtera Nuh karena tekun!


Indie 13/08/19

PERLU WAKTU


Untuk segala sesuatu yang mengandung proses perubahan didunia ini perlu waktu. Kita harus berani melihat pada diri sendiri, hal-hal apa yang sekiranya harus kita ubah dan berakibat kebaikan.  Tapi seringkali kita justru takut untuk menghadapi kebenaran tentang diri sendiri. Padahal kita tahu bahwa kebenaran akan memerdekakan kita, tetapi sering kali kebenaran membuat kita sakit lebih dulu. Rasa takut terhadap kemungkinan yang kita temukan tentang berbagai cacat dari karakter kita, telah membuat kita tetap tinggal di dalam penjara penyangkalan dibanding mengakui dengan jujur atas kekurangan tsb. Hanya ketika Allah diizinkan untuk memancarkan terang kebenaran-Nya atas kesalahan, kegagalan, dan kesukaran kita, baru kita bisa mulai mengatasinya.
Karena itu kita tidak bisa bertumbuh tanpa sikap rendah hati dan mau diajar.

Pertumbuhan adalah sebuah proses, bukan sekedar peristiwa. Setiap proses pertumbuhan selalu mengandung rasa sakit, ketidaknyamanan, bahkan rasa menakutkan. Tidak ada pertumbuhan tanpa perubahan; tidak ada perubahan tanpa ketakutan atau kehilangan; dan tidak ada kehilangan tanpa rasa sakit. Setiap perubahan bisa menimbulkan semacam rasa kehilangan: Kita harus membiarkan pergi cara-cara lama yang biasa kita gunakan untuk mengalami yang baru. Yang sering terjadi, kita merasa sayang dan takut kehilangan cara-cara lama, walaupun kita tahu cara-cara lama itu menipu diri sendiri. Seperti  sepasang sepatu yang jebol, sepatu tersebut setidaknya nyaman dan terbiasa dipakai.

Orang sering membangun identitas di sekitar kelemahan mereka. Bagi yang sudah berkeluarga dan memiliki anak akan berkata, "Persis seperti aku kalau ia sedang... " atau "Seperti itulah aku." Kecemasan yang tidak disadari itu adalah “jika saya membuang kebiasaan saya, luka hati saya, atau kesukaran saya, akan seperti apa saya?” Ketakutan itu bisa memperlambat pertumbuhan Anda secara pasti.

Kebiasaan membutuhkan waktu untuk berkembang. Kita perlu mengingat bahwa karakter merupakan hasil dari kebiasaan-kebiasaan kita. Orang lain akan menyebut kita baik ketika mereka melihat kita mempunyai kebiasaan, berbuat kebaikan bahkan tanpa memikirkannya. Kita dinilai berintegritas oleh orang lain, ketika kita memiliki kebiasaan hidup jujur.
Satu-satunya cara mengembangkan karakter serupa Kristus adalah dengan mempraktikannya setiap hari dan membutuhkan waktu!
Tidak ada kebiasaan-kebiasaan instan. Paulus mendorong Timotius, "Lakukan hal-hal ini. Abdikan hidupmu untuk melakukannya sehingga semua orang bisa melihat kemajuanmu.”
Pengulangan merupakan induk dari karakter dan keterampilan. Jika kita mempraktikkan sesuatu berulang-ulang tanpa menjadi jemu, kita akan mahir melakukannya.

Jadi pada hematnya, cara terbaik melewati proses adalah menikmatinya, selangkah demi selangkah, dengan sebuah keyakinan, bahwa kita sedang melewati jalan ini menuju suatu kehidupan yang lebih baik dan lebih penting. Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia,
yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya. (Filipi 1:6).

Indie 18/03/18

WORK # MONEY

Tidak dapat dipungkiri bahwa setiap orang bekerja mencari uang, tapi ketika kita melandaskan pekerjaan pada hal selain uang, maka kita akan memperoleh benefit (keuntungan) yang lebih berharga, yaitu menemukan jati diri/identitas, mengaktualisasi diri dan berdampak.

Hikmat adalah hal yang sangat diperlukan setiap orang, bukan saja untuk bekerja tapi juga menjalani kehidupan. 
Setiap orang memiliki cara pandang yang berbeda mengenai hal terbaik dalam hidup, tergantung prioritas dan nilai hidup yang dengan sadar dikembangkan oleh masing-masing. 
Sebagai orang percaya kita bersyukur, karena telah memiliki role model terbaik untuk bisa memiliki prioritas dan nilai hidup benar, yang akan kita kembangkan. Untuk bisa mengerti apa saja nilai itu dan bagaimana mengembangkannya, kita harus memenuhi pikiran dengan nilai hidup yang ada dalam kebenaran.
Salomo raja yang tercatat paling sukses menjalin hubungan bisnis dengan kerjaan lain, terkaya bukan saja dengan hikmat, tapi juga harta dan segala hal, mengingatkan , supaya kita mengarahkan perhatian kepada didikan, telinga kepada kata-kata pengetahuan, dan berhenti bersusah payah menjadi kaya, tapi sebaliknya dengan giat mengejar hikmat. Membuka wawasan seluas-luasnya sampai pada kekekalan dan menemukan kekuatan yang kita perlukan ketika harus menghadapi kesulitan hidup.

Orang berhikmat adalah orang yang :
Arif bijaksana dalam segala tindakan dan keputusan. Mampu menerima setiap proses kehidupdan dengan lapang dada dan merespon setiap situasi dengan baik.
Pkh 10:10 “Jika besi menjadi tumpul dan tidak diasah, maka orang harus memperbesar tenaga, tetapi yang terpenting untuk berhasil adalah hikmat”.
Memiliki akal sehat dan perencanaan dalam hidupnya (Luk 14:28-31)
Memiliki perbuatan yang lemah lembut (penuh kasih dan kesabaran)
Yakobus 3:13 “Siapakah di antara kamu yang bijak dan berbudi? Baiklah ia dengan cara hidup yang baik menyatakan perbuatannya oleh hikmat yang lahir dari kelemahlembutan”. 

Bekerja dengan hikmat akan membawa kita menjadi versi terbaik dari hidup kita. 
Bekerja dengan hikmat akan membuat kita menemukan jati diri/identitas, sehingga kita tidak perlu menjadi orang lain, atau hidup dibawah bayang-bayang orang lain.
Bekerja dengan hikmat membuat kita dapat mengaktualisasi diri dan menemukan panggung kita, sehingga kita dapat lebih bersyukur dan menghargai diri sendiri.
Bekerja dengan hikmat membuat hidup kita lebih berdampak, orang akan melihat kita melakukan pekerjaan bukan saja dengan hasil terbaik, tapi juga dengan cara terbaik. Hikmat diperoleh dari takut akan Tuhan (Amsal 9:10a).

Takut akan Tuhan berarti menjauhi dosa dan hidup dalam terang kasih-Nya.


Indie 9/03/18

TOTALLY WORK

Work atau Kerja adalah bagian sentral di dalam kehidupan manusia, aktivitas yang dinamis dan bernilai yang tidak dapat dilepaskan dari faktor fisik, psikis dan sosial. Kerja merupakan sesuatu yang dikeluarkan oleh seseorang sebagai profesi, pengeluaran energi secara sengaja untuk kegiatan yang dibutuhkan oleh seseorang dalam mencapai tujuan tertentu, termasuk mendapatkan penghasilan. 
Apapun yang bisa disebut pekerjaan, asal halal, diperkenan oleh Allah.

Totally atau Totalitas berarti mempersembahkan seluruhnya (semua tanpa terkecuali dan tanpa sisa), bukan tentang jumlah (seberapa banyak) kepada pribadi yang kita cintai dan layani.
Totalitas adalah sesuatu yang berkaitan erat dengan kualitas atau mutu.
Moto bagi mutu adalah “segenap hati” dan dasar bagi mutu adalah “seperti untuk Tuhan”, (kolose 3:23 – apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hati seperti untuk Tuhan). Seperti untuk Tuhan adalah melakukan pekerjaan apapun seolah-olah langsung untuk Tuhan. Diatas dasar itu kita membangun kinerja yang sebaik-baiknya dalam keadaan apapun, sebab kita yakin, apapun yang kita kerjakan untuk Tuhan pasti ada upahnya.
Mutu menjadi satu hal yang menjadi kesenangan Allah. Dengan mutu-lah Allah mencipta segala sesuatu, dalam kejadian 1 jika kita cermati, diakhir penciptaan Allah selalu mengucapkan “sungguh amat baik”.
Mutu harus menjadi cap kerja orang Kristen, dalam bidang apapun yang digeluti, termasuk standar mutu seperti yang Allah tetapkan yaitu “sungguh amat baik”.
Upah dan bagian yang ditentukan berbicara tentang masa depan yang cerah. Upah dimasa depan harus memberi semangat dalam apapun yang menjadi pekerjaan kita (Mat 25:21).

Ketika kita kehilangan kekuatan dalam bekerja karena melihat situasi, ingat hal penting ini, bah Kristus selamanya adalah tuan atas segala sesuatu. Dia tuan atas segala yang dapat di olah dan dikerjakan manusia. Segala karya dan hidup, akan diukur menurut patokan kepuasan hati-Nya.
Inti dari Totally Work atau Totalitas kerja adalah penyerahan total, sepenuhnya untuk Tuhan. Pkh 9:10-11 “Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi. Lagi aku melihat di bawah matahari bahwa kemenangan perlombaan bukan untuk yang cepat, dan keunggulan perjuangan bukan untuk yang kuat, juga roti bukan untuk yang berhikmat, kekayaan bukan untuk yang cerdas, dan karunia bukan untuk yang cerdik cendekia, karena waktu dan nasib dialami mereka semua”

Indie 16/03/18

IDENTITAS

Secara umum identitas adalah tanda pengenal, berupa nama, Akte Kelahiran, Kartu Keluarga, KTP, SIM, Paspor, Visa, atau jika pelajar KTM.

Pemberian identitas kepada makhluk lain merupakan salah satu mandat langsung Allah kepada manusia, dalam konteks taman eden (kejadian 2:19-20). Sementara untuk manusia sendiri Allah telah memberi identitas secara khusus dan jelas, yaitu diciptakan serupa dengan gambar Allah (kejadian 1:26a), dalam bahasa aslinya Imago Deo. Manusia diciptakan dengan bahan dasar karakter Kristus, kehidupannya dirancang untuk merefleksikan sang pencipta (sebagai reflektor).

Hal ini senada dengan penjelasan Stella Ting Toomey, bahwa identitas merupakan refleksi diri atau cerminan diri yang berasal dari keluarga, gender, budaya, etnis dan proses sosialisasi. Identitas pada dasarnya merujuk pada refleksi dari diri kita sendiri dan persepsi orang lain terhadap diri kita.

Setiap manusia memiliki identitasnya masing-masing, sehingga orang yang satu tidak akan sama dengan orang lain. Bayangkan jika semua manusia tidak memiliki nama, atau jika semua memiliki nama yang sama! Pasti akan muncul banyak masalah ketika menjalani kehidupan sehari-hari seperti memanggil, menuliskan, dan menceritakan orang tersebut ke orang lain, itu baru nama,belum yang lainnya. 

Identitas yang anda timbulkan atau munculkan dari diri anda akan membuat anda mudah di ingat dan di kenal oleh orang-orang disekitar anda, bahkan langkah awal sebuah masalah untuk dapat diselesaikan selalu menggunakan identitas. 

Sebagai orang percaya yang memahami bahwa identitas kita adalah segambar dengan Allah, maka mengenal karakter Allah melalui kebenaran Firma Tuhan menjadi satu-satunya cara untuk menguatkan identitas diri. Sampai karakter itu muncul dalam setiap respon, ketika menghadapi berbagai situasi, melalui perkataan, prilaku dan pengambilan keputusan, orang-orang disekitar kita akan melihat bahwa kita adalah orang yang beriman kepada Kristus. 

Dari hal ini kita dapat mengambil kesimpulan, bahwa identitas begitu penting untuk setiap makluk hidup, untuk menunjang sosialnya, terutama bagi manusia akan mempermudah berhubungan satu sama lain. 

Alat uji identitas terbaik bagi kita adalah masalah, bagaimana kita merespon situasi, terhadap tekanan yang muncul, ketika disalahpahami, disalah mengerti, diabaikan. Apakah yang muncul kasih, pengampunan, simpati dan empati atau sebaliknya. Atau yang lebih berat dari itu, kehilangan kesehatan, kehilangan materi, tragedi, apakah yang muncul adalah kekuatan iman. 

Indie 28/07/18

MAGIC EYE


Iman bagi orang percaya seperti Magic Eye yang memungkinkan kita bisa memandang sesuatu dalam perspektif  Allah.
Sebagai orang yang percaya kepada Tuhan, kita tahu, bahwa mencari Dia dan kebenaran-Nya dengan sungguh-sungguh adalah hal terpenting dalam hidup. Seperti ada tertulis "Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia." Ibrani 11:6
Tapi beberapa diantara kita kurang telaten untuk bertekun dalam Iman, terutama jika merasa bahwa segala ketekunannya tidak membuahkan hasil sedikitpun. Seseorang dapat bertekun untuk sebuah tujuan yang ingin dicapai atau sesuatu yang membuatnya penasaran. Dari hal sepele sampai dengan hal penting. Tapi sayang, kadang penerapannya untuk hal yang jauh lebih penting tidak semaksimal ketika berusaha mencapai tujuan, mungkin karena hasil yang diperoleh tidak terlihat secara langsung, tapi dampaknya sampai pada kekekalan. Apalagi karena begitu banyak peristiwa yang terjadi secara bertubi-tubi, bisa menutup mata Iman kita untuk melihat bahwa Tuhan tidak pernah berhenti bekerja, menyempurnakan hidup kita.
Membuat kita cenderung, mengatur, menghitung dan membuat sumber berkat kita sendiri, dan merasa lebih pandai dari Tuhan. Padahal kita tahu, Alkitab dengan jelas mengatakan di Amsal 10:22 Berkat TUHAN-lah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya. Kita tidak perlu susah payah menambahi berkat dengan kecurangan, atau perbuatan jahat kepada sesama karena "Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia." 
Dan yang lebih jauh dari itu, berpikir tidak ada orang yang tahu, toh banyak orang yang melakukan hal yang sama dengan kita, sehingga dengan tenang menuruti kecondongan hati untuk berbuat jahat seperti kata Amsal 14:16 (TB) Orang bijak berhati-hati dan menjauhi kejahatan, tetapi orang bebal melampiaskan nafsunya dan merasa aman.
Miliki ketekunan karena iman dan kasih kpd Allah, serta pemahaman yang mendalam tentang prinsip ketaatan dan otoritas.

Indie 19/01/19

Minggu, 18 Agustus 2019

TINDAKAN NYATA


Hampir semua orang menghadapi hari dengan bekal to do list atau “daftar hal-hal yang harus dikerjakan”. Namun, Alkitab mendorong kita untuk memiliki “daftar cita-cita”.
​Sementara memang penting untuk mengerjakan tugas-tugas tertentu, melibatkan diri dalam proyek-proyek tertentu, atau mengadakan pertemuan tertentu, namun yang lebih penting demi kekekalan adalah menjadi orang seperti apa di sepanjang hari itu.
​Dari perspektif “hal-hal yang harus dikerjakan”, kita cenderung datang ke hadapan Tuhan dan mengatakan, “Inilah daftarku dan inilah jadwalku. Tolong sertai aku, bantu aku, dan berkati aku”.
​Dari perspektif “cita-cita”, kita boleh memohon hal-hal berikut ini kepada Tuhan :
• Bantu aku mencerminkan kasihMu hari ini.
• Bantu aku memperlihatkan sukacitaMu, kelemahlembutanMu, penguasaan diriMu.
• Bantu aku mewujudkan damai sejahteraMu.
• Bantu aku mempraktekkan kesabaranMu.
• Bantu aku mengungkapkan kemurahanMu.
• Bantu aku memaklumkan kebaikanMu.
• Bantu aku mengungkapkan kesetiaanMu.
Namun, berharap saja tidaklah akan menghasilkan ciri-ciri ini. Ciri-ciri ini datang dari kehidupan yang dijalani dengan komunikasi yang erat dengan Tuhan, yaitu kehadiran-Nya yang akan membuat hidup kita berbeda. Oleh karena itu, daftar “cita-cita” kita haruslah selalu dimulai dengan undangan kepada Roh Kudus untuk menginspirasikan kita dan mendorong kita ke arah pekerjaan baik.
Sebagai contoh, untuk mengungkapkan kemurahan Tuhan, kita terlebih dulu harus memandang diri kita sebagai penerima kemurahan Tuhan. Dalam menerima kemurahanNya, kita menjadi jauh lebih tanggap terhadap berbagai kesempatan di mana kita boleh memperlihatkan kemurahanNya kepada orang lain. “Bersikap murah hati” menjadi bagian dari segala yang kita kerjakan. Cara kita mengerjakan pekerjaan sehari-hari, mengadakan rapat, melaksanakan titipan-titipan, serta melibatkan diri dalam proyek-proyek, memperlihatkan kemurahanNya kepada orang-orang di sekeliling kita.
Memprioritaskan daftar cita-cita, akan membuat hal-hal yang harus kita kerjakan menjadi jauh lebih jelas – dan jauh lebih ringan.


Indie 6/12/2018

TAHU BERTERIMA KASIH

Dalam hidup mungkin kita pernah, bahkan sering menjumpai orang-orang yang tidak tahu berterimakasih, pun setelah berkali-kali menerima pertolongan dari kita, kadang justru memperlakukan hal yang sebaliknya kepada kita. Sebagai manusia, kita bisa merasa kecewa, marah, dan bosan memberi bantuan. Bahkan kadang kita berjanji dalam hati, tidak akan lagi memberi bantuan pada orang yang tidak tahu berterimakasih. 
Jika memang tidak mampu membalas kebaikan dengan kebaikan, paling tidak jangan berbuat jahat. Adalah sebuah nasihat baik bagi kita yang ingin belajar berterimakasih.

Adakalanya, tanpa sadar kita melakukan hal yang sama kepada Tuhan, ketika mengalami kesuksesan dalam melakukan banyak hal yang luar biasa, kita merasa, seolah semua karena kehebatan kita. Kita lupa bahwa Allah yang telah memberi kita akal budi, kekuatan, kesehatan, kemauan, kesempatan dan kemampuan untuk mengerjakan semua hal tersebut. Sehingga lupa untuk berterimakasih. 

Hal yang sudah umum kita jumpai di dunia ini, sudah pernah dicatat dalam injil Lukas 17:15-16 “Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu tersungkur didepan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya.” Dari sepuluh orang yang ditolong hanya satu yang tahu berterimakasih. Itu gambaran yang alkitab berikan, bisa jadi yang Tuhan jumpai saat ini lebih kecil dari sepuluh persen. 

Tapi kita bersyukur, karena Allah bukanlah manusia seperti kita, yang bisa merasa bosan, kecewa atau marah kepada kita. Dia selalu ada bagi kita, dan bersedia menolong kita setiap saat, tanpa merasa bosan, sekalipun orangnya tidak tahu berterima kasih. 

Biarlah setiap kita dalam setiap kesempatan, besar maupun kecil kita selalu berlatih menjadi orang yang tahu berterima kasih, terutama kepada Allah, tapi juga berterimakasih kepada sesama.

Indie 7/12/2018

SETENGAH KETAATAN

Ketika anda mendengar kata “taat”, apa yang muncul di pikiran anda? Gambaran “positif” atau “negatif”? Apakah anda menyukai “ketaatan”? Ada orang yang tidak suka “taat” karena merasa kebebasannya dibatasi. Anak-anak umumnya tidak suka mentaati perintah orang tuanya. Apa reaksi mereka ketika orang tua meminta mereka belajar dulu baru boleh main? Atau selama seminggu ini tidak boleh menonton televisi karena sedang menghadapi ujian semester? Apakah mereka taat kepada perintah orang tua? Anak-anak suka taat pada sesuatu yang mereka sukai. Mereka tidak suka taat pada perintah yang mereka tidak sukai. Inilah kecenderungan manusia sejak kejatuhan Adam dan Hawa. Cenderung mengikuti keinginan sendiri, cenderung memuaskan daging.

Banyak orang ingin berkat, tetapi tidak taat. Padahal, berkat datang dari ketaatan pada perintah Tuhan, sedangkan kutuk datang dari ketidaktaatan (Ulangan 11). Ketaatan adalah sebuah kualitas karakter yang menentukan masa depan seseorang. Sejauh mana anda diberkati adalah tergantung sejauh mana anda taat pada Tuhan. Namun lebih dari sekedar berkat, yang lebih penting adalah apakah Tuhan masih menyertai kita atau tidak dalam segala yang hal yang kita lakukan.

Yesus adalah Pribadi yang memberi contoh kepada kita bagaimana Ia menunjukkan ketaatan pada Bapa dalam hidupNya selama 33 ½ tahun di bumi. Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat melalui apa yang telah diderita-Nya (Ibr. 5:8). Itulah sebabnya, Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama (Fil. 2:9). Kesimpulannya, Allah sangat berkenan kepada orang yang taat kepada-Nya dalam situasi sulit sekalipun. Pertanyaannya, maukah anda menjadi orang yang berkenan di hati Tuhan?

Ketaatan menjadi hal penting dan sangat menarik bagi Allah. Ketaatan harus karena kasih, karena iman dan karena memahami prinsip ketaatan dan otoritas. Firman Tuhan menjanjikan bahwa ketaatan menggandeng berkat surgawi. Namun sesungguhnya yang Tuhan janjikan lebih dari sekedar berkat, yaitu penyertaan-Nya yang berlaku sampai pada kekekalan. Hal penting yang harus kita waspadai bukan hanya hidup kita terlihat diberkati, tapi apakah dalam menjalanakan ketaatan iman kita masih tertuju kepada Tuhan atau tidak. 

Ketaatan bersifat utuh dan sepenuhnya atau absolut, lawan dari ketaatan adalah ketaatan setengah, dan ketaatan setengah diperhitungkan sebagai ketidaktaatan. Sedikit berbohong dengan alasan apapun, sedikit berkata kotor, sedikit menambahi berita bohong, sedikit memfitnah, sedikit berbuat jahat. Dan segala hal yang melanggar perintah Tuhan yang kadarnya serba sedikit. 

Allah tidak pernah tertarik dengan harta, kehebatan, keperkasaan dan kesuksesan kita, terlebih yang kita hasilkan dari diri sendiri tanpa melibatkan Dia. Karena hal itu berpotensi membuat ketaatan dan rasa takut kita akan Tuhan jadi berkurang. 

Miliki hati yang mengasihi Tuhan, hati yang takut akan Dia dan Iman yang teguh. Supaya kita dapat taat secara total dan dengan sadar mau meninggalkan dosa.


Indie 2/12/2018

BERHENTI MENYALAHKAN ORANG LAIN

Menyalahkan orang lain atau diri sendiri sama-sama tidak baik. Sama-sama menyakitkan dan merusak hubungan dengan sesama manusia. Di saat perasaan sedang tak nyaman, menghadapi kegagalan, sakit hati dan marah, menyalahkan orang lain dan mengutuk diri sendiri biasanya menjadi hal pertama yang dilakukan. Mencari kambing hitam lebih sering didahulukan daripada mencari kebenaran. Di sinilah pentingnya belajar bersikap tenang dan bijak menghadapi setiap permasalahan.

Mengapa kita harus belajar berhenti menyalahkan?

Pertama, kesalahan bisa dilakukan siapa saja, termasuk orang-orang yang kita cintai. Namun, bukan berarti hubungan yang terjadi antarmanusia selalu didasari benar atau salah. Kesalahan itu pasti terjadi, baik besar maupun kecil. Besar dan kecilnya, ditentukan oleh cara pandang manusia itu sendiri, terlepas dari ada/tidaknya konsensus sosial melalui nilai dan norma yang menentukan besar kecilnya kesalahan itu. Semakin banyak menyalahkan orang lain, semakin sulit diri kita berkembang. Waktu yang kita punya, paling tidak akan habis buat memikirkan orang yang kita anggap salah itu. Akhirnya, kita melakukan apapun demi rasa marah terhadapnya atau bahkan kita tidak melakukan apa-apa, hanya sibuk mengutuk diri dan menyalahkannya. 

Kedua, kegagalan dalam mencapai sesuatu memang sering berimbas kepada tindakan menyalahkan orang lain. Sekalipun ada unsur kesalahan itu, tidak seharusnya kita menjustifikasi secara mutlak bahwa itu kesalahan orang lain. Ketika kita menilai orang lain seperti pemikiran kita, orang juga akan menilai kita seperti itu. Prasangka baik sejatinya akan berbuah baik, demikian pula prasangka buruk. Sering-seringlah bertanya kepada diri sendiri, apa saja yang telah orang lain berikan untuk kita, sehingga kita akan menyadari betapa kita berutang banyak kepada orang lain dan harus berbuat baik kepada orang lain. 

Ketiga, perlu kita ingat bahwa masalah dan konflik seringkali berawal dari hadirnya isu atau masalah merasa dirugikan. Kita merasa orang lain tidak pernah bisa memenuhi harapan kita, tidak sesuai dengan keinginan kita, sehingga tuntutan-tuntutan terhadap orang lain untuk bisa menjadi seperti yang kita harapkan semakin membesar. Sedikit saja orang tidak sesuai sama kita, kita merasa kecewa dan ujung-ujungnya bisa disalahkan. Padahal, kalau kita berpikir dalam, pikiran dan harapan orang lain kepada kita pun gak jauh berbeda. 

Bagaimana caranya agar kita tidak terjebak dalam rasa bersalah dan menyalahkan? 

Belajar introspeksi diri dan belajar menerima kenyataan harus didahulukan supaya kita tidak larut dalam kemarahan, kebencian dan menyalahkan diri sendiri juga orang lain. Kedua, kembalikan semua pada porsinya, memaksimalkan ikhtiar, menyempurnakan doa. Jangan menyalahkan orang lain ketika kita gagal, dan jangan hal itu dijadikan senjata untuk menutupi kegagalan kita karena akan berakibat fatal bagi perkembangan diri kita sendiri. Sikap seperti ini hanya akan menjadi pola kegagalan yang berakar dalam diri kita, yang bisa menjadikannya sulit diperbaiki. 

1/01/2019

BUKAN TANDA JASA

Jasa didefinisikan sebagai perbuatan yang baik atau berguna dan bernilai bagi orang lain, negara, instansi, atau orang banyak dengan memberikan segala sesuatu yang diperlukan orang lain, bisa berupa pelayanan, aktivitas, kemudahan, manfaat, dsb yang dapat dijual kepada orang lain (konsumen) yang menggunakan atau menikmatinya. Dan yang berlaku didunia ini, jasa biasanya bermuatan transaksional (timbal balik).

Ketika kita melakukan banyak perbuatan baik dalam hidup dan merasa berjasa, mungkin kita bisa mendapatkan sedikit kepuasan, karena sejujurnya lebih banyak kekecewaan yang kita jumpai. 

Kita harus memahami bahwa mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama, adalah ringkasan perintah Tuhan bagi orang percaya. Alkitab menjamin, setiap orang yang melakukannya, disebut orang yang berbahagia. 

Allah menjadikan manusia segambar dengan Dia, bukan hanya secara fisik, tapi juga secara karakter. Dia juga memberikan Roh-Nya, untuk menolong manusia melewati proses pembentukan karakter serupa Dia. 

Kita harus secara sadar mengembangkan nilai-nilai kerajaan Allah setiap waktu. Bukan supaya kita dapat menikmati kebahagiaan atau kehidupan terbaik sebagai tanda jasa dari Allah, tetapi sebagai wujud kasih dan Iman kita kepada Allah, yang telah mengerjakan karya termegah dalam hidup kita.

Didunia ini banyak sekali daftar kebaikan yang bisa kita kerjakan, kapanpun, dimanapun dan untuk siapapun yang kita jumpai, keluarga, lingkungan kerja maupun komunitas. Jika kita hanya memiliki satu kebaikan, lakukan itu terus menerus, sampai kita lupa atau tidak sadar sedang berbuat kebaikan. 

Jika selama ini kita telah menjalani hidup dalam ketaatan, dan mengabdikan hidup kita untuk melakukan kehendak dan tujuan Allah, tambahkan lagi ketaatan, tanpa harus merasa lebih baik dari orang lain, atau merasa menjadi orang yang berjasa dihadapan Allah. Sebab kemauan dan kesanggupan semua hanya datang dari Allah, karena Dia sangat mengasihi kita, dan menginginkan kita untuk hidup didalam kasih karunia-Nya.

Indie 5/12/2018

BERSYUKUR ATAS INTERUPSI


Interupsi adalah pemotongan pembicaraan, atas ulasan yang sedang berlangsung atau sedang disampaikan. Sering diartikan negatif, karena bisa mengesankan ketidaksabaran sang pemberi dan menimbulkan rasa tidak nyaman bagi penerima. Motif orang memberi interupsipun beragam, karena ingin meluruskan atau memperbaiki pernyataan yang disampaikan biasanya dengan tulus, tapi ada juga yang menyampaikan dengan rasa marah karena ingin menjatuhkan. Itulah kondisi umum ketika interupsi datang dari sesama.
Berbeda dengan interupsi yang Tuhan berikan kepada manusia, selalu bertujuan untuk kebaikan dan atas dasar kasih. Yang pasti akan mendatangkan kesempatan dan berbagai tugas baru, sekalipun mungkin pada awalnya terasa cukup mengacaukan. Contoh tokoh alkitab yang hidupnya mendapat interupsi dari Allah adalah Maria dan Paulus. Maria seorang perawan yang sudah bertunangan tiba-tiba harus mengandung. Kita bisa membayangkan rasa bingung, malu, yang dialami maria sebagai wanita biasa, belum lagi kecemasannya ketika harus menjelaskan kepada tunangannya. Tetapi jika tanpa interupsi maka kita yang akan kebingungan, karena seorang juruselamat tidak akan pernah dilahirkan bagi dunia.
Paulus, seorang bangsawan yang penuh semangat menjalankan rencana awalnya menumpas semua orang yang percaya kepada Yesus, ditengah perjalanan harus merelakan agendanya dikacaukan, tapi karena interupsi, lahirlah seorang rasul besar yang Tuhan pakai untuk menjadi saksi bagi dunia ini, bahwa Allah ada dan Dia hidup.
Jika saat ini kita merasa, banyak rencana, yang tidak berjalan seperti keinginan dan ekspektasi, serahkan semua kedalam tangan Tuhan dengan sebuah pemahaman bahwa Allah berkuasa penuh atas hidup kita. Bisa jadi itu adalah bentuk interupsi Allah bagi kita yang akan mendatangkan kebaikan bukan saja untuk pribadi atau seseorang, tapi untuk banyak orang. Seperti keyakinan Daud dia tulis dalam Mazmur 33:10-11 "TUHAN menggagalkan rencana bangsa-bangsa; Ia meniadakan rancangan suku-suku bangsa; tetapi rencana TUHAN tetap selama-lamanya, rancangan hati-Nya turun-temurun."
Itu sebabnya sediakan hidup kita untuk di interupsi oleh Allah, dan siapkan diri kita untuk tugas-tugas baru yang Allah berikan.

Indie 9/01/2019

Abigail Indiana

Foto saya
I am a product of GOD's Grace. Single, Simple person but will always be an extraordinary person. Just a nature, Truth lover, jazzy lover, coffee lover. Selalu mendefinisikan setiap fase hidup dengan ucapan syukur. I love my beloved Savior, He loves me unconditionally.