Selasa, 29 Oktober 2019

PENERIMAAN


Hidup adalah proses belajar dan proses perubahan, ketika kita merasa lelah kemudian memutuskan untuk berhenti belajar dan berubah artinya kita sedang menghentikan hidup.
Menyadari kekurangan menjadi satu alasan baik yang mendorong kita merasa butuh untuk belajar dan berubah. Kita akan rajin mengevaluasi kekurangan kita dan semangat mencermati sisi baik orang lain dan belajar dari kebaikan itu. Hal semacam ini menawarkan satu pola yang membuat hidup kita bersemangat. Bahkan dalam proses belajar, kita mendapat bonus keahlian menjadi pendengar yang baik, kemampuan mengelola emosi, mengelola reaksi dan mengendalikan diri melalui perkataan serta perilaku.
Sayangnya, tidak banyak orang yang menerapkan pola belajar semacam ini, tetap memiliki alasan dengan kata yang sama, hanya beda penempatan “mencari sisi buruk orang lain dan mengevaluasinya sebagai kekurangan”. Sensasi yang ditimbulkan hanya kepuasan sesaat jika kebetulan kita bisa menepuk dada karena merasa lebih baik, tapi hasilnya sudah jelas bahwa hal itu tidak bermanfaat untuk mengubah hidup, jika kita tidak belajar apapun.
Saya sering terlibat perbincangan dengan beberapa (banyak) orang, baik yang sudah lama kenal maupun yang baru kenal. Saya sering terbentur dengan perbedaan cara pandang, 
Meskipun mungkin tidak terlalu banyak yang bisa kita jumpai disekitar kita, paling tidak itu adalah fakta yang menjadi hasil dan bonus dari orang yang tidak pernah berhenti belajar untuk berubah.
Beberapa dari kita paham, ketika kita masuk dalam sebuah kelompok atau komunitas atas nama apapun, yang didalamnya menawarkan penerimaan pasti akan menghasilkan hubungan baik dan langgeng.
Saya pernah tergabung dalam sebuah obrolan yang pada awalnya membuat saya merasa nyaman dan nyambung, bergerak dan mengikuti aliran spontan, seru dan natural, menurut penilaian saya, hal itu mungkin karena didalamnya ada unsur penerimaan antara satu dengan yang lain, sehingga dalam beberapa saat saya sudah belajar banyak hal.
Itulah kehidupan, penerimaan tanpa syarat antara satu dengan yang lain, akan membuat tiap-tiap individu merasa nyaman untuk belajar banyak hal dan mengalami perubahan.
Kita bisa menerima orang lain dengan kasih karena kita merasa sudah diterima dengan kasih oleh sang maha kasih, dan kasih yang sempurna selalu mampu menyatukan segala bentuk perbedaan. Sehingga tiap-tiap orang akan menjadi teladan perubahan bagi siapapun yang membutuhkan.

Indie 11/10/2019

Rabu, 25 September 2019

MENGHARGAI PEMBERIAN


Tuhan menciptakan segala sesuatu dengan kualitas sungguh amat baik. Meskipun pada waktu Tuhan mencipta hanya dengan perkataan tapi Dia begitu detail memperlengkapi setiap ciptaan-Nya dengan sesuatu yang spesial, sehingga mereka dapat menikmati proses keberlangsungan hidup. Lingkungan dimana mereka hidup, cara memanfaatkan keberdayaan diri dan fungsi yang dimiliki bagi sesama, semua sudah Dia tetapkan dengan begitu rupa.

Sebut saja kelelawar, diciptakan dengan jenis mata faset, oleh ilmu pengetahuan mata faset dijelaskan sebagai mata majemuk yang umumnya dimiliki Arthropoda seperti mata serangga maupun mata krustasea, yaitu mata dengan bentuk unit berulang (ommatidia : mata omaatidium) yang masing-masing memiliki fungsi sebagai visual reseptor terpisah, untuk menangkap berkas-berkas cahaya. Jenis mata tidak memungkinkannya untuk melihat jauh, apalagi pada malam hari. Uniknya, Tuhan  mencipta kelelawar justru untuk hidup di tempat gelap dan terbang pada malam hari. 
Bayangkan jika kelelawar berpikir bahwa sumber kekuatannya hanya pada penglihatan. Ia pasti tidak akan pernah terbang karena takut menabrak benda-benda keras yang dapat melukainya. Ia tidak dapat mencari makanan dan tempat tinggal, lalu akhirnya mati. 
Ternyata Tuhan  memberinya kelebihan lain, yang disebut ekolokasi, suatu kemampuan memperkirakan jarak benda dengan mendengarkan pantulan bunyi yang berfrekuensi tinggi, sehingga kelelawar dapat terbang cepat tanpa takut menabrak berbagai benda.

Dan Kucing, yang sering kita jumpai, dialam aslinya, untuk mempertahankan hidup ia harus berburu pada malam hari, untuk itu kucing membutuhkan kemampuan untuk melihat dengan baik dalam kondisi gelap. Dan dia bisa melakukannya dengan sangat baik, jauh melebihi manusia.
Kemampuan itu dimiliki kucing karena di bagian belakang mata kucing ada tapetum lucidum. Organ yang mirip cermin ini dapat memantulkan cahaya yang membantu kucing untuk melihat dalam gelap. Tapetum lucidum ini juga membuat mata kucing dapat menyala di dalam gelap.
Tetapi ini tidak berarti kucing bisa melihat dalam gelap gulita. Kucing tetap memerlukan cahaya walau tidak banyak. Kucing hanya membutuhkan sekitar 20 persen cahaya yang dibutuhkan manusia untuk melihat.
Dengan kemampuan yang luar biasa ini, ia bisa menangkap buruannya yang berkeliaran pada malam gelap atau mencari yang bersembunyi di dalam kegelapan, kucing tanpa memerlukan bantuan cahaya.

Menurut penelitian kucing juga tergolong hewan dengan pendengaran yang sangat peka, lebih dari pada manusia dan anjing. Pendengaran anjing memang lima kali lebih tajam dari manusia, tetapi pendengaran kucing dua kali lebih tajam dari anjing.
Jika anjing bisa mendengar suara yang sangat rendah, kucing bisa melakukan lebih baik. Jika anjing bisa mendengar suara yang sangat tinggi, kemampuan kucing lebih baik lagi. Kupingnya tidak hanya mampu mendengar suara yang sangat pelan, tetapi juga suara sangat tinggi, yang tidak dapat di terima manusia.

Kemampuan ekolokasi pada kelelawar, tapetum lucidum pada kucing, makanan untuk burung gagak dan pakaian indah untuk bunga bakung, adalah hal yang menunjukkan bahwa Tuhan selalu memperlengkapi setiap ciptaan sesuai dengan kebutuhan yang mereka perlukan untuk hidup. 

Jika ciptaan lain DIA perlengkapi begitu sempurna, apalagi manusia (kita), yang diciptakan bukan hanya dengan perkataan, tapi dengan sebuah perencanaan yang matang, Tuhan pasti juga akan memperhatikan dan memperlengkapi kita dengan segala hal terbaik.

Jangan habiskan waktu hanya untuk mempertanyakan apa yang tidak kita miliki. 

Tuhan tidak pernah salah menempatkan kita dengan berbagai persoalan yang ada. DIA menyediakan segala hal yang melampaui keterbatasan kita, sehingga kita cakap menanggung segala sesuatu dan hidup kita menyatakan kebesaran-NYA.

Indie 22/11/18 




Selasa, 24 September 2019

we can COPY PASTE - but we can't COPY TASTE


Manusia diciptakan dengan perencanaan yang sangat matang. Setiap individu memliki keunikan dan kemampuan yang berbeda-beda, sesuai dengan ketentuan yang Allah tetapkan.Tetapi ada satu hal yang semua orang tanpa terkecuali mampu melakukannya, yaitu “meniru”. Sependiam apapun orangnya akan bisa menirukan, paling tidak, gerakan dan gaya bahasa waktu menceritakan seseorang kepada orang lainnya. Setiap kali terlintas dalam pikiran tentang hal ini, saya selalu kagum, betapa hebat dan jeniusnya orang dalam hal tiru meniru. Apalagi ketika menyaksikan komedian yang melakukannya, saya bisa dibuat terkagum-kagum, meskipun berbalut tawa tanpa henti. Bahkan bisa dsimpulkan bahwa sesuatu yang mampu dilakukan dengan baik oleh semua orang adalah “tiru-meniru”. 

Jika ditarik kembali dari awal penciptaan, ternyata meniru adalah tugas hidup manusia dalam dunia ini. Artinya, dalam kehidupan ini, kita semua senantiasa meniru dalam segala hal. Karena kita diciptakan segambar dan serupa dengan Sang Pencipta. 

Meniru memang merupakan hal yang sangat mudah dilakukan oleh semua kalangan.Tetapi perlu kita ketahui, bahwa pada waktu meniru diperlukan kejelian. Meniru itu tidak selamanya akan mendatangkan sesuatu yang lebih baik, efisiensitas atau pun produktifitas. Bahkan, terkadang kebiasaan meniru sering menjadikan sejumlah orang malas untuk berpikir (pasif), sehingga semua tindakannya serba instan. 

Seorang peniru yang tidak jeli dan tidak pandai memilah akan berakibat pada kehilangan jati diri (keunikan dan otentisitas) yang mereka miliki. Sifat baik yang dimiliki adalah obsersif, dengan tekun mengamat-amati, obyek tiruan dengan cermat. Selalu ingin meniru semua tindakan orang lain baik itu berupa gaya berpakaian, gaya bahasa, gaya menyanyi, tingkah laku, pola pikir dan sebagainya. Obyek tiruan bisa dari berbagai kalangan, komedian, penyanyi, pewarta, motivator, pastor, sampai penulis. Sehingga tidak jarang ditemukan sang imitator lebih baik dan lebih dikenal dari sang master. Karena imitator memiliki olah vokal dan teknik bernyanyi yang lebih baik, jika yang ditiru seorang penyanyi atau gaya bahasa dan intonasi yang lebih baik, jika yang ditiru seorang pewarta, motivator, dll. Tapi yang menjadi catatannya adalah semirip apapun kita copy-paste, kita tidak akan pernah bisa copy-taste, karena untuk bisa copy-taste, seseorang harus bertukar jiwa. 

Taste biasanya diidentikkan dengan makanan dan minuman, tapi tidak beda jauh karena memang digolongkan sebagai kata sifat yang artinya terhubung dengan cita rasa orang yang menikmati. 

Saya pernah mengikuti sebuah mini seri film berjudul, janji di youtube, yang diperankan Darius Sinathriya (Iko), Ringgo Agus Rahman (Ujo), dan Widika Sidmore (Naya). Iko dan Naya adalah pasangan suami istri yang saling mencintai, dengan caranya masing-masing, tapi hal itu tidak bisa mewujudkan keharmonisan hubungan mereka. Iko seorang yang lembut, romantis, pandai dan perfeksionis, sehingga tidak pernah melibatkan Naya dalam permasalahannya dari hal kecil sampai besar, dan lebih memilih bercerita setelah semua selesai bahkan setelah dia mengambil keputusan. Dengan maksud tidak ingin merepotkan dan membuat istrinya ikut pusing. Disisi lain, Naya ingin perannya sebagai seorang istri dimanfaatkan, bukan hanya sebagai pasangan yang terlihat baik-baik tanpa tahu apapun. 

Ujo adalah seorang yang membuat segala sesuatu mudah, tidak pikir panjang dan tidak bisa membedakan situasi. Karakternya sangat berlawanan dengan Iko, tapi mereka bersahabat sejak lama. Naya tidak terlalu menyukai Ujo karena sering muncul dalam situasi yang tidak tepat. 

Singkat cerita dalam sebuah acara minum “teh bersejarah” yang Ujo curi dari klien Iko, mereka bertukar jiwa. Dari sinilah sejarah berbalik, Naya yang tidak terlalu menyukai Ujo mulai tertarik untuk berbagi cerita hatinya. Naya melihat Iko dalam wujud yang berbeda, tapi justru membuat Naya nyaman untuk bercerita apapun, termasuk hal yang tidak terungkapkan tentang perasaannya kepada suaminya. Dari sini Iko yang ada dalam wujud Ujo jadi lebih memahami apa yang Naya inginkan dan apa yang seharusnya dia lakukan untuk istrinya. 

Karena diperankan dengat sangat baik oleh keduanya, membuat saya memahami bahwa dalam pertukaran jiwa, seseorang tidak memerlukan effort apapun untuk meniru, sangat natural, tepat, tidak kurang tidak lebih. Karena memang jiwanya sudah digantikan. 

Sudah menjadi ketetapan Allah dari awal “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita” bahkan tidak hanya berhenti pada kesamaan wujud, tapi dilanjutkan dengan kalimat perintah untuk berkuasa, artinya memiliki cara atau pola memimpin dan berkuasa yang sama dengan Dia, hematnya adalah karakter. Hadirnya sang penebus didunia juga salah satunya untuk ditiru oleh umatnya. Kita harus melakukan hal tersebut dari lahir sampai akhir usia. Meskipun seringkali merasa gagal untuk meniru karakternya karena cara kita yang salah. 

Sama halnya dengan hidup kita dalam meneladani karakter Pencipta, upaya kita akan sia-sia jika hanya berhenti pada meniru saja, tapi kita harus mengijinkan Dia masuk dan menguasai hidup kita (roh, jiwa dan tubuh), untuk menukar jiwa kita yang rentan dan rapuh karena dosa, dengan jiwa-Nya yang illahi. Tanpa pertukaran jiwa mustahil kita bisa meniru senatural atau setepat yang Dia kehendaki. 

Kita tidak akan kehilangan jati diri dan keunikan kita, sebaliknya akan menemukan jati diri sejati yang semakin disempurnakan.

Indie 25/06/19

Senin, 19 Agustus 2019

KEBAHAGIAAN

Menurut anda, apakah anda orang yang bahagia? Jika ya, apa yang membuat Anda bahagia? Keluarga, pekerjaan, kegiatan ibadah? Atau, mungkin anda sedang menanti-nantikan sesuatu yang menyenangkan, lulus sekolah, mendapat segala sesuatu sesuai harapan dan impian, mungkin pekerjaan, mobil, rumah, pasangan, dll.

Banyak orang merasa senang saat mereka berhasil melakukan sesuatu atau mendapatkan apa yang mereka inginkan, cenderung menempuh berbagai cara, dari yang baik sampai yang berujung merugikan orang lain. Tapi, berapa lama mereka merasa senang? Sayangnya, rasa senang itu biasanya hanya sesaat dan sementara.

Menempatkan kebahagiaan pada standar yang salah, yaitu pada hal yang hanya berujung pada kesenangan cenderung merusak. 

Sebagai contoh, jika alasan kebahagiaan karena pekerjaan dan kegiatan ibadah, orang akan berkompetisi untuk saling mengalahkan pihak lain, dengan segala cara. 

Kebahagiaan adalah perasaan tenteram yang terus ada. Perasaan bahagia bisa bermacam-macam, mulai dari rasa puas sampai perasaan sangat bersukacita dan senang menjalani kehidupan. Orang yang bahagia akan terus ingin merasa bahagia.

Kebahagiaan bukanlah perasaan yang datang dan pergi, tapi itu terus ada. Kebahagiaan bergantung pada cara seseorang menjalani hidup, bukan pada apa yang dia dapatkan.

Jadi orang yang mengatakan, ”Saya akan bahagia jika. . . ” mereka justru tidak akan bahagia. Sebagai gambaran, kita akan membandingkan kebahagiaan dengan kesehatan yang baik. Bagaimana kita bisa tetap sehat? Dengan terus menjaga pola makan, berolahraga, dan punya gaya hidup yang baik. Begitu juga, kita bisa bahagia kalau kita terus menjalani kehidupan yang benar dan mengikuti nasihat Kitab Suci atau kebenaran Firman Tuhan.

Sebagai orang yang telah mengenal kasih Allah dan kebenaran-Nya, kita harus memiliki standar kebahagiaan yang berbeda, bukan sekedar berujung pada kesenangan sementara. Firman Tuhan mencatat beberapa hal yang harus menjadi dasar kebahagiaan orang percaya, salah satunya ada dalam Mazmur 128:1 yang mengatakan “berbahagialah setiap orang yang takut akan Tuhan, yang hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya! Itulah inti kebahagiaan orang percaya, yang hanya dapat di peroleh dengan satu cara, bagaimana seseorang hidup dalam ketaatan pada kebenaran. 

Kekayaan yang diperoleh melalui kekuatan kebenaran, dan kesehatan yang di dapat melalui kekuatan kedamaian, keduanya memberikan kebahagiaan. Dan kebahagiaan bisa didapat jika perbuatan, sikap dan sifat kita suci dan tidak mementingkan diri sendiri.

Indie 22/05/18

IMAN DAN ETIKA

Iman dan etika menjadi sesuatu yang berkaitan erat dan saling menentukan. Kepada siapa iman kita letakkan akan menentukan etika kita dalam berprilaku. Kisah Daniel bersama ketiga temannya sangat menarik untuk dipelajari, karena pribadi mereka yang setia dalam iman dan etika. Meskipun mereka orang-orang Yahudi (buangan) dalam Kerajaan Babel, golongan minoritas, dan masih berusia muda pada saat itu, tetapi mereka dapat menghidupi prinsip spirit of excellent. Daniel yang pada saat itu seorang pelayan raja, tetapi berani untuk mempertahankan nilai yang ia percayai, prinsip hidupnya di tengah-tengah suasana yang berbeda.

Pada jaman modern dan serba bebas seperti sekarang ini, beranikah kita tetap berpegang pada prinsip untuk menjaga kekudusan meski orang di sekitar kita tidak melakukannya? Beranikah kita berprinsip seperti Daniel yang excellence dalam hal karakter, iman dan etika.

Daniel 1:8-9 “Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan raja dan dengan anggur yang biasa diminum raja; dimintanyalah kepada pemimpin pegawai istana itu, supaya ia tak usah menajiskan dirinya. Maka Allah mengaruniakan kepada Daniel kasih dan sayang dari pemimpin pegawai istana itu.”

Tuhan bukan hanya sekedar interested terhadap Hati kita, tetapi Tuhan juga tertarik untuk memakai Otak kita. Tuhan menganugerahkan kecerdasan, kepandaian, pengertian dan kebijaksanaan kepada kita. Pada saat Daniel berhasil dan diberikan kedudukan yang besar,

dia tidak lupa akan teman-teman-nya. Sukses hari ini bukan sukses besok. Excellent bukan perbuatan tunggal tapi prinsip hidup.

Daniel 1:17 “Kepada keempat orang muda itu Allah memberikan pengetahuan dan kepandaian tentang berbagai-bagai tulisan dan hikmat, sedang Daniel juga mempunyai pengertian tentang berbagai-bagai penglihatan dan mimpi.”

“Dalam tiap-tiap hal yang memerlukan kebijaksanaan dan pengertian, yang ditanyakan raja kepada mereka, didapatinya bahwa mereka sepuluh kali lebih cerdas dari pada semua orang berilmu dan semua ahli jampi di seluruh kerajaannya” (Daniel 1:20 TB)


Yang menakjubkan dari Kisah Daniel adalah dia dapat membuat raja mengakui kebesaran Allah, tempat dimana dia meletakkan imannya. Dalam hidupnya, Daniel memegang teguh nilai-nilai yang akhirnya mempermuliakan nama Tuhan. 

Biarlah setiap kita sebagai orang percaya bukan hanya bisa menjaga kemurnian hati, tapi pada saat bersamaan juga punya tingkat kecerdasan yang luar biasa. Seperti Daniel, yang berhasil melayani tiga raja dalam tiga pemerintahan, karena hidup-nya yang excellent, sementara orang lain sibuk menjatuhkan dia dan mempromosikan diri sendiri, Daniel tidak perlu melakukan semua itu. Sama halnya dengan pekerjaan kita, jika kita memiliki produk dan servis yang excellent, maka kita tidak perlu mempromosikan hal itu, karena orang lain dan para pelanggan/customer yang akan melakukan hal itu untuk kita.

Indie 21/03/18

JANGAN TERGESA-GESA


Pertumbuhan bukanlah sebuah momen, melainkan suatu proses yang memerlukan waktu tertentu.  Semua tergantung jenisnya, tumbuhan dan hewan, memiliki waktu yang berbeda.
Kita mungkin sering mendengar sebuah ilustrasi, proses sebuah telur menjadi hewan, atau sebuah ulat menjadi kupu-kupu. Kita tidak bisa membantu mempercepat bakal hewan dalam cangkang telur untuk segera keluar, atau membantu kupu-kupu keluar dari kepompong, hanya karena ketidaks abaran kita. Karena sama artinya kita merusak kehidupan mereka yang akan datang.
Itu sebabnya, kita tidak bisa tergesa-gesa. Sama halnya dengan pertumbuhan manusia, baik secara rohani, jiwa maupun fisik.

Ada beberapa cara untuk bekerja sama dengan Allah dalam menikmati proses pertumbuhan menuju kedewasaan rohani.
Yang pertama : Percaya bahwa Allah sedang bekerja di dalam kehidupan Anda bahkan ketika Anda tidak merasakannya. Menanti kemajuan pertumbuhan rohani kadang merupakan pekerjaan yang membosankan, satu langkah kecil setiap kali. Alkitab mengatakan, “Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya.” Dalam hidup kita mengalami berbagai musim. Adakalanya kita mengalami ledakan pertumbuhan yang singkat dan hebat (musim semi) yang diikuti oleh suatu masa penstabilan dan ujian (musim gugur dan musim dingin).
Lalu bagaimana dengan masalah-masalah, kebiasaan-kebiasaan, dan luka-luka hati yang mengiringi proses yang kita lewati, apakah dapat lenyap secara ajaib, dengan doa dan ketekunan? Jawabannya belum tentu, karena bisa jadi jawabannya datang melalui perubahan secara bertahap.

Kedua : Miliki sebuah buku catatan spiritual jurnal. Untuk mencatat momen-momen yang didalamnya ada pelajaran yang Allah singkapkan. Bukan sekedar catatan harian yang berisi perasaan-perasaan kita saja, tetapi sebuah catatan dari apa yang sedang kita pelajari. Tulislah berbagai wawasan dan pelajaran-pelajaran tentang kehidupan yang Allah ajarkan kepada kita tentang Dia, tentang diri kita sendiri, tentang kehidupan, hubungan, dan segala hal yang kita tahu dengan pasti itu adalah pelajaran penting tentang mengembangkan karakter Allah. Catatan itu akan menjadi pengingat bagi kita, terutama ketika kita sedang dalam kondisi menurun, kita dapat membaca ulang, dan kembali kuat, bahwa kita pernah menghadapi hal paling berat dan dapat melewatinya. Alasan kita harus belajar kembali beberapa pelajaran adalah karena kita mudah melupakannya, terlebih ketika kita berada dalam kondisi nyaman dan sangat nyaman. Dengan meninjau kembali catatan rohani kita secara teratur, kita dapat terhindar dari banyak penderitaan dan luka hati yang tidak perlu. Alkitab mengatakan, “Karena itu kita harus lebih teliti memperhatikan apa yang telah kita dengar, supaya kita jangan hanyut dibawa arus.”

Ketiga : Bersabar dengan Allah dan dengan diri Anda sendiri. Kita sering mengalami kegagalan untuk memahami bahwa waktu Allah tidak sama dengan waktu kita, itu yang membuat kita gagal untuk bersabar. Tidak jarang kita merasa frustrasi dengan lambatnya kemajuan kehidupan kita.
Allah menggunakan proses panjang untuk mengembangkan karakter, khususnya di dalam diri para pemimpin. Dia mengambil waktu 80 tahun untuk mempersiapkan Musa, termasuk 40 tahun di padang gurun. Selama 14.600 hari Musa tetap menanti dan bertanya dalam hati, "Apakah sudah tiba waktunya?" Tetapi Allah tetap berkata, "Belum."
Tidak ada Langkah-Langkah Mudah atau rahasia-rahasia yang ditempuh dengan intan untuk Mencapai karakter Allah. Orang-orang besar bertumbuh melalui pergumulan dan badai dan musim-musim penderitaan. Bersabarlah dengan proses tersebut. Yakobus memberi nasihat, “Jangan mencoba melepaskan diri dari sesuatu sebelum waktunya. Biarkanlah ia bekerja supaya kamu menjadi dewasa dan berkembang dengan baik.”

Keempat : Jangan menjadi kecil hati. Ketika Habakuk menjadi sedih karena dia mengira Allah tidak bertindak dengan cukup cepat, Allah mengatakan hal ini : “Segala hal yang telah kurencanakan ini tidak akan terjadi dengan segera. Meskipun demikian pasti saat penggenapan penglihatan itu akan tiba. Jika tampaknya lambat, janganlah putus asa, karena semua itu pasti akan terjadi. Bersabarlah! Semua itu tidak akan terlambat barang sehari pun!” Suatu penundaan bukan berarti penolakan dari Allah.
Ingatlah seberapa jauh kita telah sampai, bukan seberapa jauh kita harus pergi. Kita tidak berada di tempat yang kita inginkan, tetapi kita juga tidak berada di tempat yang biasanya kita berada.
Ketika kita mulai tergesa-gesar dan berkecil hati katakan hal ini "Please Be Patient, God Is Not Finished With Me Yet (Bersabarlah, Allah Belum Selesai Dengan Saya).” Allah juga belum selesai dengan Anda, jadi tetaplah maju. Bahkan siput mencapai bahtera Nuh karena tekun!


Indie 13/08/19

PERLU WAKTU


Untuk segala sesuatu yang mengandung proses perubahan didunia ini perlu waktu. Kita harus berani melihat pada diri sendiri, hal-hal apa yang sekiranya harus kita ubah dan berakibat kebaikan.  Tapi seringkali kita justru takut untuk menghadapi kebenaran tentang diri sendiri. Padahal kita tahu bahwa kebenaran akan memerdekakan kita, tetapi sering kali kebenaran membuat kita sakit lebih dulu. Rasa takut terhadap kemungkinan yang kita temukan tentang berbagai cacat dari karakter kita, telah membuat kita tetap tinggal di dalam penjara penyangkalan dibanding mengakui dengan jujur atas kekurangan tsb. Hanya ketika Allah diizinkan untuk memancarkan terang kebenaran-Nya atas kesalahan, kegagalan, dan kesukaran kita, baru kita bisa mulai mengatasinya.
Karena itu kita tidak bisa bertumbuh tanpa sikap rendah hati dan mau diajar.

Pertumbuhan adalah sebuah proses, bukan sekedar peristiwa. Setiap proses pertumbuhan selalu mengandung rasa sakit, ketidaknyamanan, bahkan rasa menakutkan. Tidak ada pertumbuhan tanpa perubahan; tidak ada perubahan tanpa ketakutan atau kehilangan; dan tidak ada kehilangan tanpa rasa sakit. Setiap perubahan bisa menimbulkan semacam rasa kehilangan: Kita harus membiarkan pergi cara-cara lama yang biasa kita gunakan untuk mengalami yang baru. Yang sering terjadi, kita merasa sayang dan takut kehilangan cara-cara lama, walaupun kita tahu cara-cara lama itu menipu diri sendiri. Seperti  sepasang sepatu yang jebol, sepatu tersebut setidaknya nyaman dan terbiasa dipakai.

Orang sering membangun identitas di sekitar kelemahan mereka. Bagi yang sudah berkeluarga dan memiliki anak akan berkata, "Persis seperti aku kalau ia sedang... " atau "Seperti itulah aku." Kecemasan yang tidak disadari itu adalah “jika saya membuang kebiasaan saya, luka hati saya, atau kesukaran saya, akan seperti apa saya?” Ketakutan itu bisa memperlambat pertumbuhan Anda secara pasti.

Kebiasaan membutuhkan waktu untuk berkembang. Kita perlu mengingat bahwa karakter merupakan hasil dari kebiasaan-kebiasaan kita. Orang lain akan menyebut kita baik ketika mereka melihat kita mempunyai kebiasaan, berbuat kebaikan bahkan tanpa memikirkannya. Kita dinilai berintegritas oleh orang lain, ketika kita memiliki kebiasaan hidup jujur.
Satu-satunya cara mengembangkan karakter serupa Kristus adalah dengan mempraktikannya setiap hari dan membutuhkan waktu!
Tidak ada kebiasaan-kebiasaan instan. Paulus mendorong Timotius, "Lakukan hal-hal ini. Abdikan hidupmu untuk melakukannya sehingga semua orang bisa melihat kemajuanmu.”
Pengulangan merupakan induk dari karakter dan keterampilan. Jika kita mempraktikkan sesuatu berulang-ulang tanpa menjadi jemu, kita akan mahir melakukannya.

Jadi pada hematnya, cara terbaik melewati proses adalah menikmatinya, selangkah demi selangkah, dengan sebuah keyakinan, bahwa kita sedang melewati jalan ini menuju suatu kehidupan yang lebih baik dan lebih penting. Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia,
yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya. (Filipi 1:6).

Indie 18/03/18

WORK # MONEY

Tidak dapat dipungkiri bahwa setiap orang bekerja mencari uang, tapi ketika kita melandaskan pekerjaan pada hal selain uang, maka kita akan memperoleh benefit (keuntungan) yang lebih berharga, yaitu menemukan jati diri/identitas, mengaktualisasi diri dan berdampak.

Hikmat adalah hal yang sangat diperlukan setiap orang, bukan saja untuk bekerja tapi juga menjalani kehidupan. 
Setiap orang memiliki cara pandang yang berbeda mengenai hal terbaik dalam hidup, tergantung prioritas dan nilai hidup yang dengan sadar dikembangkan oleh masing-masing. 
Sebagai orang percaya kita bersyukur, karena telah memiliki role model terbaik untuk bisa memiliki prioritas dan nilai hidup benar, yang akan kita kembangkan. Untuk bisa mengerti apa saja nilai itu dan bagaimana mengembangkannya, kita harus memenuhi pikiran dengan nilai hidup yang ada dalam kebenaran.
Salomo raja yang tercatat paling sukses menjalin hubungan bisnis dengan kerjaan lain, terkaya bukan saja dengan hikmat, tapi juga harta dan segala hal, mengingatkan , supaya kita mengarahkan perhatian kepada didikan, telinga kepada kata-kata pengetahuan, dan berhenti bersusah payah menjadi kaya, tapi sebaliknya dengan giat mengejar hikmat. Membuka wawasan seluas-luasnya sampai pada kekekalan dan menemukan kekuatan yang kita perlukan ketika harus menghadapi kesulitan hidup.

Orang berhikmat adalah orang yang :
Arif bijaksana dalam segala tindakan dan keputusan. Mampu menerima setiap proses kehidupdan dengan lapang dada dan merespon setiap situasi dengan baik.
Pkh 10:10 “Jika besi menjadi tumpul dan tidak diasah, maka orang harus memperbesar tenaga, tetapi yang terpenting untuk berhasil adalah hikmat”.
Memiliki akal sehat dan perencanaan dalam hidupnya (Luk 14:28-31)
Memiliki perbuatan yang lemah lembut (penuh kasih dan kesabaran)
Yakobus 3:13 “Siapakah di antara kamu yang bijak dan berbudi? Baiklah ia dengan cara hidup yang baik menyatakan perbuatannya oleh hikmat yang lahir dari kelemahlembutan”. 

Bekerja dengan hikmat akan membawa kita menjadi versi terbaik dari hidup kita. 
Bekerja dengan hikmat akan membuat kita menemukan jati diri/identitas, sehingga kita tidak perlu menjadi orang lain, atau hidup dibawah bayang-bayang orang lain.
Bekerja dengan hikmat membuat kita dapat mengaktualisasi diri dan menemukan panggung kita, sehingga kita dapat lebih bersyukur dan menghargai diri sendiri.
Bekerja dengan hikmat membuat hidup kita lebih berdampak, orang akan melihat kita melakukan pekerjaan bukan saja dengan hasil terbaik, tapi juga dengan cara terbaik. Hikmat diperoleh dari takut akan Tuhan (Amsal 9:10a).

Takut akan Tuhan berarti menjauhi dosa dan hidup dalam terang kasih-Nya.


Indie 9/03/18

TOTALLY WORK

Work atau Kerja adalah bagian sentral di dalam kehidupan manusia, aktivitas yang dinamis dan bernilai yang tidak dapat dilepaskan dari faktor fisik, psikis dan sosial. Kerja merupakan sesuatu yang dikeluarkan oleh seseorang sebagai profesi, pengeluaran energi secara sengaja untuk kegiatan yang dibutuhkan oleh seseorang dalam mencapai tujuan tertentu, termasuk mendapatkan penghasilan. 
Apapun yang bisa disebut pekerjaan, asal halal, diperkenan oleh Allah.

Totally atau Totalitas berarti mempersembahkan seluruhnya (semua tanpa terkecuali dan tanpa sisa), bukan tentang jumlah (seberapa banyak) kepada pribadi yang kita cintai dan layani.
Totalitas adalah sesuatu yang berkaitan erat dengan kualitas atau mutu.
Moto bagi mutu adalah “segenap hati” dan dasar bagi mutu adalah “seperti untuk Tuhan”, (kolose 3:23 – apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hati seperti untuk Tuhan). Seperti untuk Tuhan adalah melakukan pekerjaan apapun seolah-olah langsung untuk Tuhan. Diatas dasar itu kita membangun kinerja yang sebaik-baiknya dalam keadaan apapun, sebab kita yakin, apapun yang kita kerjakan untuk Tuhan pasti ada upahnya.
Mutu menjadi satu hal yang menjadi kesenangan Allah. Dengan mutu-lah Allah mencipta segala sesuatu, dalam kejadian 1 jika kita cermati, diakhir penciptaan Allah selalu mengucapkan “sungguh amat baik”.
Mutu harus menjadi cap kerja orang Kristen, dalam bidang apapun yang digeluti, termasuk standar mutu seperti yang Allah tetapkan yaitu “sungguh amat baik”.
Upah dan bagian yang ditentukan berbicara tentang masa depan yang cerah. Upah dimasa depan harus memberi semangat dalam apapun yang menjadi pekerjaan kita (Mat 25:21).

Ketika kita kehilangan kekuatan dalam bekerja karena melihat situasi, ingat hal penting ini, bah Kristus selamanya adalah tuan atas segala sesuatu. Dia tuan atas segala yang dapat di olah dan dikerjakan manusia. Segala karya dan hidup, akan diukur menurut patokan kepuasan hati-Nya.
Inti dari Totally Work atau Totalitas kerja adalah penyerahan total, sepenuhnya untuk Tuhan. Pkh 9:10-11 “Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi. Lagi aku melihat di bawah matahari bahwa kemenangan perlombaan bukan untuk yang cepat, dan keunggulan perjuangan bukan untuk yang kuat, juga roti bukan untuk yang berhikmat, kekayaan bukan untuk yang cerdas, dan karunia bukan untuk yang cerdik cendekia, karena waktu dan nasib dialami mereka semua”

Indie 16/03/18

IDENTITAS

Secara umum identitas adalah tanda pengenal, berupa nama, Akte Kelahiran, Kartu Keluarga, KTP, SIM, Paspor, Visa, atau jika pelajar KTM.

Pemberian identitas kepada makhluk lain merupakan salah satu mandat langsung Allah kepada manusia, dalam konteks taman eden (kejadian 2:19-20). Sementara untuk manusia sendiri Allah telah memberi identitas secara khusus dan jelas, yaitu diciptakan serupa dengan gambar Allah (kejadian 1:26a), dalam bahasa aslinya Imago Deo. Manusia diciptakan dengan bahan dasar karakter Kristus, kehidupannya dirancang untuk merefleksikan sang pencipta (sebagai reflektor).

Hal ini senada dengan penjelasan Stella Ting Toomey, bahwa identitas merupakan refleksi diri atau cerminan diri yang berasal dari keluarga, gender, budaya, etnis dan proses sosialisasi. Identitas pada dasarnya merujuk pada refleksi dari diri kita sendiri dan persepsi orang lain terhadap diri kita.

Setiap manusia memiliki identitasnya masing-masing, sehingga orang yang satu tidak akan sama dengan orang lain. Bayangkan jika semua manusia tidak memiliki nama, atau jika semua memiliki nama yang sama! Pasti akan muncul banyak masalah ketika menjalani kehidupan sehari-hari seperti memanggil, menuliskan, dan menceritakan orang tersebut ke orang lain, itu baru nama,belum yang lainnya. 

Identitas yang anda timbulkan atau munculkan dari diri anda akan membuat anda mudah di ingat dan di kenal oleh orang-orang disekitar anda, bahkan langkah awal sebuah masalah untuk dapat diselesaikan selalu menggunakan identitas. 

Sebagai orang percaya yang memahami bahwa identitas kita adalah segambar dengan Allah, maka mengenal karakter Allah melalui kebenaran Firma Tuhan menjadi satu-satunya cara untuk menguatkan identitas diri. Sampai karakter itu muncul dalam setiap respon, ketika menghadapi berbagai situasi, melalui perkataan, prilaku dan pengambilan keputusan, orang-orang disekitar kita akan melihat bahwa kita adalah orang yang beriman kepada Kristus. 

Dari hal ini kita dapat mengambil kesimpulan, bahwa identitas begitu penting untuk setiap makluk hidup, untuk menunjang sosialnya, terutama bagi manusia akan mempermudah berhubungan satu sama lain. 

Alat uji identitas terbaik bagi kita adalah masalah, bagaimana kita merespon situasi, terhadap tekanan yang muncul, ketika disalahpahami, disalah mengerti, diabaikan. Apakah yang muncul kasih, pengampunan, simpati dan empati atau sebaliknya. Atau yang lebih berat dari itu, kehilangan kesehatan, kehilangan materi, tragedi, apakah yang muncul adalah kekuatan iman. 

Indie 28/07/18

MAGIC EYE


Iman bagi orang percaya seperti Magic Eye yang memungkinkan kita bisa memandang sesuatu dalam perspektif  Allah.
Sebagai orang yang percaya kepada Tuhan, kita tahu, bahwa mencari Dia dan kebenaran-Nya dengan sungguh-sungguh adalah hal terpenting dalam hidup. Seperti ada tertulis "Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia." Ibrani 11:6
Tapi beberapa diantara kita kurang telaten untuk bertekun dalam Iman, terutama jika merasa bahwa segala ketekunannya tidak membuahkan hasil sedikitpun. Seseorang dapat bertekun untuk sebuah tujuan yang ingin dicapai atau sesuatu yang membuatnya penasaran. Dari hal sepele sampai dengan hal penting. Tapi sayang, kadang penerapannya untuk hal yang jauh lebih penting tidak semaksimal ketika berusaha mencapai tujuan, mungkin karena hasil yang diperoleh tidak terlihat secara langsung, tapi dampaknya sampai pada kekekalan. Apalagi karena begitu banyak peristiwa yang terjadi secara bertubi-tubi, bisa menutup mata Iman kita untuk melihat bahwa Tuhan tidak pernah berhenti bekerja, menyempurnakan hidup kita.
Membuat kita cenderung, mengatur, menghitung dan membuat sumber berkat kita sendiri, dan merasa lebih pandai dari Tuhan. Padahal kita tahu, Alkitab dengan jelas mengatakan di Amsal 10:22 Berkat TUHAN-lah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya. Kita tidak perlu susah payah menambahi berkat dengan kecurangan, atau perbuatan jahat kepada sesama karena "Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia." 
Dan yang lebih jauh dari itu, berpikir tidak ada orang yang tahu, toh banyak orang yang melakukan hal yang sama dengan kita, sehingga dengan tenang menuruti kecondongan hati untuk berbuat jahat seperti kata Amsal 14:16 (TB) Orang bijak berhati-hati dan menjauhi kejahatan, tetapi orang bebal melampiaskan nafsunya dan merasa aman.
Miliki ketekunan karena iman dan kasih kpd Allah, serta pemahaman yang mendalam tentang prinsip ketaatan dan otoritas.

Indie 19/01/19

Minggu, 18 Agustus 2019

TINDAKAN NYATA


Hampir semua orang menghadapi hari dengan bekal to do list atau “daftar hal-hal yang harus dikerjakan”. Namun, Alkitab mendorong kita untuk memiliki “daftar cita-cita”.
​Sementara memang penting untuk mengerjakan tugas-tugas tertentu, melibatkan diri dalam proyek-proyek tertentu, atau mengadakan pertemuan tertentu, namun yang lebih penting demi kekekalan adalah menjadi orang seperti apa di sepanjang hari itu.
​Dari perspektif “hal-hal yang harus dikerjakan”, kita cenderung datang ke hadapan Tuhan dan mengatakan, “Inilah daftarku dan inilah jadwalku. Tolong sertai aku, bantu aku, dan berkati aku”.
​Dari perspektif “cita-cita”, kita boleh memohon hal-hal berikut ini kepada Tuhan :
• Bantu aku mencerminkan kasihMu hari ini.
• Bantu aku memperlihatkan sukacitaMu, kelemahlembutanMu, penguasaan diriMu.
• Bantu aku mewujudkan damai sejahteraMu.
• Bantu aku mempraktekkan kesabaranMu.
• Bantu aku mengungkapkan kemurahanMu.
• Bantu aku memaklumkan kebaikanMu.
• Bantu aku mengungkapkan kesetiaanMu.
Namun, berharap saja tidaklah akan menghasilkan ciri-ciri ini. Ciri-ciri ini datang dari kehidupan yang dijalani dengan komunikasi yang erat dengan Tuhan, yaitu kehadiran-Nya yang akan membuat hidup kita berbeda. Oleh karena itu, daftar “cita-cita” kita haruslah selalu dimulai dengan undangan kepada Roh Kudus untuk menginspirasikan kita dan mendorong kita ke arah pekerjaan baik.
Sebagai contoh, untuk mengungkapkan kemurahan Tuhan, kita terlebih dulu harus memandang diri kita sebagai penerima kemurahan Tuhan. Dalam menerima kemurahanNya, kita menjadi jauh lebih tanggap terhadap berbagai kesempatan di mana kita boleh memperlihatkan kemurahanNya kepada orang lain. “Bersikap murah hati” menjadi bagian dari segala yang kita kerjakan. Cara kita mengerjakan pekerjaan sehari-hari, mengadakan rapat, melaksanakan titipan-titipan, serta melibatkan diri dalam proyek-proyek, memperlihatkan kemurahanNya kepada orang-orang di sekeliling kita.
Memprioritaskan daftar cita-cita, akan membuat hal-hal yang harus kita kerjakan menjadi jauh lebih jelas – dan jauh lebih ringan.


Indie 6/12/2018

TAHU BERTERIMA KASIH

Dalam hidup mungkin kita pernah, bahkan sering menjumpai orang-orang yang tidak tahu berterimakasih, pun setelah berkali-kali menerima pertolongan dari kita, kadang justru memperlakukan hal yang sebaliknya kepada kita. Sebagai manusia, kita bisa merasa kecewa, marah, dan bosan memberi bantuan. Bahkan kadang kita berjanji dalam hati, tidak akan lagi memberi bantuan pada orang yang tidak tahu berterimakasih. 
Jika memang tidak mampu membalas kebaikan dengan kebaikan, paling tidak jangan berbuat jahat. Adalah sebuah nasihat baik bagi kita yang ingin belajar berterimakasih.

Adakalanya, tanpa sadar kita melakukan hal yang sama kepada Tuhan, ketika mengalami kesuksesan dalam melakukan banyak hal yang luar biasa, kita merasa, seolah semua karena kehebatan kita. Kita lupa bahwa Allah yang telah memberi kita akal budi, kekuatan, kesehatan, kemauan, kesempatan dan kemampuan untuk mengerjakan semua hal tersebut. Sehingga lupa untuk berterimakasih. 

Hal yang sudah umum kita jumpai di dunia ini, sudah pernah dicatat dalam injil Lukas 17:15-16 “Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu tersungkur didepan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya.” Dari sepuluh orang yang ditolong hanya satu yang tahu berterimakasih. Itu gambaran yang alkitab berikan, bisa jadi yang Tuhan jumpai saat ini lebih kecil dari sepuluh persen. 

Tapi kita bersyukur, karena Allah bukanlah manusia seperti kita, yang bisa merasa bosan, kecewa atau marah kepada kita. Dia selalu ada bagi kita, dan bersedia menolong kita setiap saat, tanpa merasa bosan, sekalipun orangnya tidak tahu berterima kasih. 

Biarlah setiap kita dalam setiap kesempatan, besar maupun kecil kita selalu berlatih menjadi orang yang tahu berterima kasih, terutama kepada Allah, tapi juga berterimakasih kepada sesama.

Indie 7/12/2018

Abigail Indiana

Foto saya
I am a product of GOD's Grace. Single, Simple person but will always be an extraordinary person. Just a nature, Truth lover, jazzy lover, coffee lover. Selalu mendefinisikan setiap fase hidup dengan ucapan syukur. I love my beloved Savior, He loves me unconditionally.