Minggu, 12 Januari 2014

Kebaikan Mengerjakan Kebaikan



Setiap perjalanan selalu melewati dari musim ke musim, dan setiap musim selalu memberikan pengalaman unik yang berbuahkan pelajaran baik dari sebuah perjalanan. Terutama musim hujan.

Hujan tanpa henti yang terjadi mulai Sabtu kemarin jam 21.25 WIB sampai pagi ini membuat banyak orang menunda aktifitas yang tidak bernilai keharusan. Apalagi ini hari Minggu. Selain karena kondisi jalan yang mengurangi kenyamanan berkendara, alasan lain bagi pengendara roda dua kemungkinannya adalah harus memakai perlengkapan hujan yang pasti cukup merepotkan. Tepatnya sih sedikit repot jika menginginkan tetap nyaman meskipun naik roda dua waktu hujan, paling tidak terhindar dari siraman genangan air yang tergilas roda dari kendaraan lain. Termasuk saya, karena tidak ada tugas saya bisa memilih jam ibadah secara fleksible, menurut kemurahan hati sang alam.
Meskipun tidak terus menerus deras, tapi intensitas hujan cukup rapat, dan tanpa jeda, jadi tetap saja banyak genangan air, udara lembab, atap bocor, air menetes dan mengalir dari manapun, mungkin karena terlalu banyak, sehingga segala bentuk lubang sekecil apapun tiba-tiba bisa berfungsi sebagai saluran air.
Ada sebagian orang yang bersyukur karena pada waktu hujan turun sudah sampai dirumah, dan untuk kemarin malam saya kembali masuk sebagian orang yang bersyukur karena sudah tiba dirumah begitu hujan lebat yang menjadi pembuka hujan tanpa spasi di satu jam berikutnya. Tapi juga pasti ada yang kurang beruntung, karena harus menikmati hujan ditengah perjalanan. Yang pasti setiap orang pernah mengalami kedua kondisi tersebut.
Seperti yang pernah saya alami seminggu yang lalu (Senin, 6 Januari 2014).
Waktu itu saya pulang dari gereja pukul 20.40 WIB masih gerimis. Rupanya hujan deras mulai pukul 15.45 WIB yang tidak kunjung berhenti sudah menggenangi banyak ruas jalan, bahkan  jalan favorit yang biasa saya lewati menuju kerumah, tiba-tiba penuh tergenang air cukup tinggi. Dikatakan tinggi karena biasanya daerah tersebut jarang tergenang air sebanyak itu.
Saya bertemu genangan air cukup tinggi pada waktu tiba dipertengahan jalan Kranggan. Awalnya saya berpikir untuk putar balik, karena scooter matic yang saya kendarai cukup ngotot melintasi genangan air tersebut, tapi saya putuskan meneruskan perjalanan, dengan harapan jalan yang saya tuju genangannya tidak setinggi itu. Tapi ternyata diluar dugaan, daerah tersebut airnya lebih tinggi, melebihi knalpot matic saya, dan alhasil motorpun mogok dengan sukses ditengah banjir. Saya putar balik motor ketempat yang tidak tergenang air, tepat disebelah warung. Saya bersyukur ada sepasang (pria dan wanita) pengendara motor yang kebetulan melewati jalan yang sama. Mnghampiri saya, : “mogok mbak” kata yang pria, saya menganggukkan kepala sambil tersenyum kepada keduanya. Saya standarkan motor, saya piker motor mereka juga mogok, tapi ternyata tidak, mereka menemani bahkan membantu mengusahakan sampai motor saya bisa kembali dinyalakan, dengan mengeluarkan terlebih dahulu air, yang berhasil memenuhi knalpot. Kurang lebih 20 menit, kami bertiga disitu tapi motor belum berhasil dinyalakan. Meskipun sambil ngobrol, tapi tetap saja tegang. Karena saya tiba dijalan tersebut pukul 20.45 WIB. Tiba-tiba ada seorang pemuda lengkap dengan jas hujan,  ikut menepi di tempat kami. “Mogok mas” sapaaan standar musim banjir saya lontarkan. Dan dia jawab “iya mbak”. Saya mencari informasi tentang jalan yang dia lewati, ternyata dia melewati jalan yang akan saya tuju. Dia bilang, banjirnya cukup tinggi, lalu menyarankan saya untuk tidak melewati jalan tersebut. Pria yang sedari tadi sudah membantu saya memotong pembicaraan, “njenengan paham matic mas, saya kurang paham” (anda paham motor matic mas, saya tidak paham).  Tanpa basa-basi pemuda tersebut langsung menyalakan motor saya dengan cara seperti biasa , dan berhasil. Padahal dari tadi kami berusaha menyalakan dengan cara yang sama tidak bisa. Sambil menunggu panas, dia bilang bahwa businya tidak ada masalah.  Langkahnya juga sudah benar, air diknalpot harus dikeluarkan dan tunggu mongering baru bisa di nyalakan kembali.

Setelah  memastikan motor saya sudah berhasil berfungsi dengan baik, sepasang penolong saya, pamit, dan saya tidak lupa mengucapkan terimakasih. Sebelumnya saya bilang sama pemuda tersebut, “motornya ga coba dinyalakan mas?”. “busi motor saya memang sudah sowak (rusak) tapi nekad saya paksa nerjang banjir, jadinya ya begini”, jawabnya ringan sambil senyum. Saya bilang kembali ke dia, “sekarang coba aj dulu, soalnya kan mas habis melakukan kebaikan membantu saya, siapa tahu Tuhan mengembalikan kebaikan tersebut ke mas”. Saya sudah siap diatas motor, dan pemuda tersebut akhirnya ikutan naik diatas motor, sedikit ragu melakukan saran saya... dan kendaraan berhasil menyala. Kami berempat bersiap-siap melanjutkan perjalanan masing-masing. Meskipun saya tidak mendengar apa yang mereka ucapkan tapi saya melihat kebahagiaan diantara kami, karena waktu kami tidak terbuang percuma malam itu, termasuk sepasang pengendara yang sebenarnya tidak bermasalah dengan kendaraan mereka.

Gerimis masih mengiring perjalanan saya melintasi jalan yang sebelumnya sudah dianjurkan oleh mereka tadi, untuk menghindari banjir. Selama perjalanan menuju kerumah, saya menitikan air mata ditengah rintik hujan, bukan karena nelongso (mengasihani diri sendiri), tapi air mata yang disertai senyum ucapan syukur.

Dan pelajaran malam itu adalah bahwa kebaikan selalu mengerjakan dan  berbuah kebaikan. Sebuah kesempatan melihat Kebenaran, bahwa TUHAN  adalah penolong yang setia, tidak pernah membiarkan kita sendiri menghadapi besar atau kecilnya kesulitan. Dia selalu siap menyediakan pertolongan melalui siapapun, apapun kesulitan kita, dan  dimanapun kita berada.
Tidak ada yang bisa menahan perbuatan yang TUHAN kerjakan, sekalipun kita berusaha menahan kebaikan yang seharusnya kita lakukan untuk orang lain, TUHAN tetap  akan memakai siapapun sebagai alat untuk mengerjakan kehendakNya.

Minggu, 12 Jan 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Abigail Indiana

Foto saya
I am a product of GOD's Grace. Single, Simple person but will always be an extraordinary person. Just a nature, Truth lover, jazzy lover, coffee lover. Selalu mendefinisikan setiap fase hidup dengan ucapan syukur. I love my beloved Savior, He loves me unconditionally.