aku salut padamu
Kamu teman terbaik dan setia untuk semua yang ada dibawah kolong langit,
Seluruh keberadaanmu mengantar dan menjemput segala yang dibumi ini
Dari musim ke musim
Menjemput fajar,
Mengantar malam
Menjemput bayi yang meronta karena harus mencoba bernafas tanpa plasenta
Mengantar raga yang terlepas dari nafas terakhir
tapi aku iri padamu
hidupmu tidak pernah mengalami fluktuasi,
layaknya jiwa atau mata uang
hidupmu stabil,
Kamu bersahabat dengan damai, dengan nyaman,
dengan perang, dengan lapar, dengan badai,
serta segala bentuk bencana.
Kamu berteman dengan siapapun yang kau temui,
Dengan mereka yang bergelimang harta dan berkelakar dalam gelak tawa,
Dengan mereka yang benar dan tulus,
atau mereka yang terbiasa licik dan angkuh.
Kamu pemberani,
meskipun tidak ada yang mendorongmu,
Menantang yang berjiwa besar, atau yang tersudut tak bernyali,
Kamu teguh membangkitkan keadilan dan lantang memunculkan kebenaran,
Hidupmu selalu menjadi tanda,
bahkan jawaban di setiap peristiwa
Aku pernah kecewa
karena hidupmu hanya menuntut dan
seenaknya memberi batas perputaran dunia dan segala isinya
dari pertemuan, perpisahan, tawa, tangis, kecewa, bahagia
Kamu merasa sangat berkuasa atas semua itu.
Maaf dalam kebodohan aku pernah membentakmu
Karena kamu tidak pernah peduli
pada teriakan mereka yang memintamu tinggal sejenak, untuk sekedar
Menemani mereka menggabungkan bentuk lukisan asa diatas kertas lusuh,
Padahal kamu juga dengar janji mereka,
Hanya menarik titik titik yang terlihat pada batas wajar,
Juga tangis mereka yang berpeluh dan terluka,
karena bergulat dengan kerasnya hidup,
dan mungkin mereka sendiri,
Tapi kamu tetap berlalu,
kamu selalu beralasan konstantalah yang menyeretku
Dan, kalau ingatanmu tajam,
(ah.. tapi aku tau, kamu tidak pandai mengingat, itu kekuranganmu)
Aku sempat dibingungkan dengan kemiripan sifatmu,
tetap dan tidak pernah berubah,
yang membuat aku bertanya,
samakah kamu dengan pemberi kertas yang diatasnya aku harus menyelesaikan lukisan asa?
Saat ini aku sudah tau jawabnya,
Kamu sama sekali tidak sama dengan DIA..!!
Karena kamu hanya bisa menyaksikan, menandai, kemudian berlalu meninggalkan,
sementara DIA,
Selalu mendengar teriakan mereka,
Menemani, menghibur, meneduhkan, dan memulihkan...
Sesekali DIA menegur itupun dengan kasih
Bahkan tidak hanya merapikan lembar kertas itu, tetapi melukis ulang...
Begitu indah, begitu sempurna.
Tapi aku berterimakasih,
Karena bagaimanapun,
Kamulah yang mengantar aku,
mengenal semua rasa di setiap fase hidupku
Memaknai langkah dan memahami sesuatu yang mungkin tak terdefinisi dalam hidupku
Indie - 290111