

karena undangan pesta sesungguhnya yang engkau hadiri,
Bukan dengan air mata dan kesesakan seperti ini,
Layaknya kebenaran yang kami pelajari,
Karena ini merupakan bukti kesempurnaan TUHAN menggantikan hidupmu,
Teladan, Pengajaran dan kasihmu sangat menggambarkan betapa inginnya engkau untuk kami mengalami hal-hal mendasar, dengan konsep yang benar, untuk kemudian memahami sebuah rahasia besar yang terkandung dalam kebenaran.
Bagi kami itu adalah keharuman abadi...
Meskipun kami tidak meninggalkan tanya mengapa,
karena iman dan keyakinan kami telah menjawab tentang keberadaanmu sekarang,
Tapi sulit bagi kami untuk tidak melibatkan emosi,
Karena perasaan hilang ini seperti kami kehilangan TUHAN sendiri.
Doa kami, kelak ada generasi yang berani menyampaikan kebenaran sepertimu,
Tidak takut dibenci, tidak takut ditolak, karena kebenaran tetaplah kebenaran.
Selamat menikmati kekekalan bersama Bapa, pak Jeff
Sebuah pesta yang sesungguhnya,
2 September 2011,
2 Korintus 2 :14-17
THE HEART OF WORSHIP
When the music fades
All is stripped away
And I simply come
Longing just to bring
Something that's of worth
That will bless Your heart
I'll bring You more than a song
For a song in itself
Is not what You have required
You search much deeper within
Through the way things appear
You're looking into my heart
I'm coming back to the heart of worship
And it's all about You,
It's all about You, Jesus
I'm sorry, Lord, for the thing I've made it
When it's all about You,
It's all about You, Jesus
King of endless worth
No one could express
How much You deserve
Though I'm weak and poor
All I have is Yours
Every single breath
I'll bring You more than a song
For a song in itself
Is not what You have required
You search much deeper within
Through the way things appear
You're looking into my heart
I'm coming back to the heart of worship
And it's all about You,
It's all about You, Jesus
I'm sorry, Lord, for the thing I've made it
And it's all about You,
It's all about You, Jesus
Sudah jadi kebiasaan Lintang, mengignore pesan singkat yang masuk di ponselnya dengan nomor asing yang tidak ada dalam phonebooknya. Apalagi jika pesan singkatnya berisi kalimat retoris. Cukup lama pesan singkat itu berulang setiap pagi, sampai suatu saat Lintang mereply ucapan terimakasih dan menanyakan nama pengirim. "Hei, aku Bintang, masak kamu belum tahu ini nomerku". Itu sebaris pesan singkat yang masuk kemudian ke ponsel Lintang. Ada raut heran diwajahnya waktu membaca deretan pesan yang juga bernada heran. Seingat Lintang, malam perkenalan itu tidak ada adegan tukar ponsel, karena dia buru-buru pulang, waktu Lia datang dan iseng memperkenalkan Bintang sebagai sepupu jauh.
“oke aku save ya nomernya, apa kabar Bint?” jari Lintang langsung tekan send begitu selesai typing pesan singkat, tanpa penasaran sedikitpun. Hari itu kurang lebih minggu kedua setelah perkenalan mereka. Dan hari-hari berikutnya, Lintang sering mereply pesan singkat yang masuk dari Bintang, memang tidak setiap hari tapi cukup sering. Tidak jarang mereka terlibat percakapan ringan. Terbukti Lintang juga sering terlihat senyum senyum sendiri dan jarinya lincah memainkan tombol ponsel digenggamannya.
“hai apa kabar, aku beranikan diri telpon nih, soalnya beberapa hari tidak bisa tidur” ucap Bintang dari seberang, waktu kali pertama menelpon Lintang siang itu.
“hahaha…. Serius? makanya beberapa hari ini aku susah tidur, ternyata gara-gara kamu mikirin aku ya” jawab Lintang sekenanya, tanpa bermaksud apapun.
“kamu jahat” kata Bintang “jahat kenapa?” sahut Lintang cepat, masih dengan nada canda.
tapi Bintang hanya mengulang-ulang kata “kamu jahat” sampai beberapa kali tanpa menyertakan alasan.
“kamu jahat mata tajammu waktu malam perkenalan itu seperti menembus kepusat jantungku” begitulah Bintang mengawali pembicaraan dengan Lintang melalui ponsel.
Awalnya Lintang memang tidak tertarik untuk menanggapi dengan serius, intro dari kalimat Bintang yang sangat terkesan gombal. Tapi demi mendengar Bintang menuturkan profil dirinya, serta perjalanan singkat hidupnya, kali ini nadanya mulai sedikit tenang, meski masih terdengar nafasnya terburu dan bergetar. Tanpa terasa Lintang mulai merapikan duduknya, dan menyimak maksud perkataan Bintang dengan serius. Sambil pikirannya melayang mengingat perkenalan malam itu. Dengan maksud supaya bisa masuk disituasi Bintang yang begitu semangat memaksanya dalam ingatan yang sama. Lintang tetap tidak berhasil menemukan tanda bahwa ada yang istimewa malam itu. Selain dia harus pulang agak malam, kemudian Lia datang dan mengenalkan Bintang sebagai kakak sepupunya yang baru pindah dari Jakarta, titik. Kumpulan singkat ingatan Lintang terhenti, ketika lawan bicaranya kembali dengan nada yang bergetar mengatakan. “boleh ga aku telpon setiap kali kangen” suara dari seberang mencoba tenang tapi tetap saja bergetar. Belum juga Lintang menjawab pertanyaannya, Bintang sudah minta ijin menyanyikan sebuah lagu dan tanpa jawaban. Bintang menyanyikan dua buah lagu, yang pertama tidak asing ditelinga Lintang karena itu juga lagu favoritnya, lagu yang kedua sangat asing. Lintang mencoba menikmati suara merdu Bintang, tapi karena dia menyanyi dengan nafas terburu membuat getarnya sangat kentara, jadi terdengar sedikit tidak beraturan. Setelah selesai baru menjelaskan lagu kedua adalah ciptaannya.
“Trimakasih, suaramu bagus ya, jadi tersanjung” kalimat yang akhirnya meluncur dari mulut Lintang. Sebagai konfirmasi bahwa dia mengikuti dengan serius prosesi perkenalan singkat Bintang kepadanya.
Hari-hari berikutnya menjadi tambahan rutinitas bagi Lintang untuk menjalin komunikasi yang baik dengan Bintang.
Nada bicara Bintang pun sudah mulai beraturan waktu menelpon.
“kamu ternyata tidak seperti yang aku dengar sebelumnya, kamu tegas tapi lembut” itu kata Bintang pada komunikasi by phone berikutnya.
“nama kita sama, aku Bintang kamu Lintang, aku juga tidak tahu mengapa harus di kota ini dan bertemu kamu, yang aku tahu tidak ada yang kebetulan” lanjutnya.
Dan masih banyak lagi hal privasi dari Bintang yang digelontorkan ke Lintang sebagai orang baru yang dia percayai dan membuatnya nyaman untuk mendengar dan menyimpan seluruh rasa dan yang bisa diucapkan.
Lintang tahu dengan tepat, tidak semua rasa bisa terdefinisi dengan baik dalam sebuah kalimat yang bisa diungkapkan.
“sekarang kamu janji demi Tuhan, enggak bakal cerita kesiapapun apa yang aku bilang” kalimat yang tidak pernah lupa diucapkan Bintang sebagai closing percakapan. “oke, janji… demi Tuhan!” jawab Lintang sungguh sungguh.
Komunikasi mereka berjalan cukup lancar, meskipun sempat tersendat karena ada masalah dari pihak Bintang. Dan atas request Bintang. Tapi sama sekali tidak mengurangi penilaian hati Lintang.
Tentang pertanyaanmu yang belum terjawab, tentang kegelisahan dan rasa bersalahmu, semua sudah terjawab dengan benar, karena kamu bisa langsung bertanya pada pemberi hidup yang sekarang sudah ada didekatMu selamanya.
Maaf, membuatmu menunggu dan terpaksa harus mengingkari janji karena kondisi, tapi sekali lagi, hitam putihnya sekarang semua sudah jelas bagimu.
Itulah bukti nyata, Tuhan lebih mengasihimu.
Indie *31/07/11
TUGU MUDATugu muda Merupakan tugu yang berpenampang segi lima. Terdiri dari bagian yaitu landasan, badan dan kepala. Pasa sisi landasan tugu terdapat relief. Keseluruhan tugu dibuat dari batu. Untuk memperkuat kesan tugunya, dibuat kolam hias dan taman pada sekeliling tugu. Monumen Tugu Muda didirikan untuk memperingati Pertempuran Lima hari di Semarang. Pada tanggal 28 Oktober 1945, Gubbernur Jawa Tengah, Mr. Wongsonegoro meletakkaan batu pertama pada lokasi yang direncanakan semula yaitu didekat Alun-alun. Namun karena pada bulan Nopember 1945 meletus perang melawan Sekutu dan Jepang, proyek ini menjadi terbengkalai. Kemudian tahun 1949, oleh Badan Koordinasi Pemuda Indonesia (BKPI), diprakarsai ide pembangunan tugu kembali, namun karena kesulitan dana, ide ini jugaa belum terlaksana. Tahun 1951, Walikota Semarang, Hadi Soebeno Sosro Wedoyo, membentuk Panitia Tugu Muda, dengan rencana pembangunan tidak lagi pada lokasi alun-alun, tetapi pada lokasi sekarang ini (source: Wikipedia).
Desain tugu dikerjakan oleh Salim, sedangkan relief pada tugu dikerjakan oleh seniman Hendro. Batu yang digunakan antara lain didatangkan dari kaliuang dan Paker. Tanggal 10 Nopember 1951, diletakkan batu pertama oleh Gubernur Jateng Boediono dan pada tanggal 20 Mei 1953, bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional, Tugu Muda diresmikaan oleh Soekarno, Presiden Republik Indonesia. Hingga sekarang, cukup banyak perubahan yang telah dilakukan terhadap arca di sekitar tugu muda, antatra lain pembuatan taman dan kolam (source: Semarang.go.id)
Dengan menyerahnya Jepang terhadap Sekutu pada tanggal 15 Agustus 1945, dan disusul dengan diproklamarkan Republik Indonesia 17 Agustus 1945, maka seharusnya tamatlah kekuasaan Jepang di Indonesia.
Dan ditunjuknya Mr Wongsonegero sebagai Penguasa Republik di Jawa Tengah dan pusat pemerintahannya di Semarang, maka adalah kewajiban Pemerintah di Jawa Tengah mengambilalih kekuasaan yang selama ini dipegang Jepang, termasuk bidang pemerintahan, keamanan dan ketertibannya. Maka terbentuklah Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang kemudian menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR).
Di beberapa tempat di Jawa Tengah telah terjadi pula kegiatan perlucutan senjata Jepang tanpa kekerasan antara lain di Banyumas, tapi terjadi kekerasan justru di ibu kota Semarang. Kido Butai (pusat Ketentaraan Jepang di Jatingaleh) nampak tidak memberikan persetujuannya secara menyeluruh, meskipun dijamin oleh Gubernur Wongsonegoro, bahwa senjata tersebut tidak untuk melawan Jepang. Permintaan yang berulang-ulang cuma menghasilkan senjata yang tak seberapa, dan itu pun senjata-senjata yang sudah agak usang.
Kecurigaan BKR dan Pemuda Semarang semakin bertambah, setelah Sekutu mulai mendaratkan pasukannya di Pulau Jawa. Pihak Indonesia khawatir Jepang akan menyerahkan senjata-senjatanya kepada Sekutu, dan berpendapat kesempatan memperoleh senjata harus dimanfaatkan sebelum Sekutu mendarat di Semarang. Karena sudah pasti pasukan Belanda yang bergabung dengan Sekutu akan ikut dalam pendaratan itu yang tujuannya menjajah Indonesia lagi.
Pertempuran 5 hari di Semarang ini dimulai menjelang minggu malam tanggal 15 Oktober 1945. Keadaan kota Semarang sangat mencekam apalagi di jalan-jalan dan kampung-kampung dimana ada pos BKR dan Pemuda tampak dalam keadaan siap. Pasukan Pemuda terdiri dari beberapa kelompok yaitu BKR, Polisi Istimewa, AMRI, AMKA (Angkatan Muda Kereta Api) dan organisasi para pemuda lainnya.
Dapat pula kita tambahkan di sini, bahwa Markas Jepang dibantu oleh pasukan Jepang sebesar 675 orang, yang mereka dalam perjalanan dari Irian ke Jakarta, tapi karena persoalan logistik, pasukan ini singgah di Semarang. Pasukan ini merupakan pasukan tempur yang mempunyai pengalaman di medan perang Irian.
Keadaan kontras sekali, karena para pemuda pejuang kita harus menghadapi pasukan Jepang yang berpengalaman tempur dan lebih lengkap persenjataannya, sementara kelompok pasukan pemuda belum pernah bertempur, dan hampir-hampir tidak bersenjata. Juga sebagian besar belum pernah mendapat latihan, kecuali diantaranya dari pasukan Polisi Istimewa, anggota BKR, dari ex-PETA dan Heiho yang pernah mendapat pendidikan dan latihan militer, tapi tanpa pengalaman tempur.
Pertempuran lima hari di Semarang ini diawali dengan pemberontakan 400 tentara Jepang yang bertugas membangun pabrik senjata di Cepiring dekat Semarang. Pertempuran antara pemberontak Jepang melawan Pemuda ini berkobar sejak dari Cepiring (kl 30 Km sebelah barat Semarang) hingga Jatingaleh yang terletak di bagian atas kota. Di Jatingaleh ini pasukan Jepang yang dipukul mundur menggabungkan diri dengan pasukan Kidobutai yang memang berpangkalan di tempat tersebut.
Suasana kota Semarang menjadi panas. Terdengar bahwa pasukan Kidobutai Jatingaleh akan segera mengadakan serangan balasan terhadap para Pemuda Indonesia. Situasi hangat bertambah panas dengan meluasnya desas-desus yang menggelisahkan masyarakat, bahwa cadangan air minum di Candi (Siranda) telah diracuni. Pihak Jepang yang disangka telah melakukan peracunan lebih memperuncing keadaan dengan melucuti 8 orang polisi Indonesia yang menjaga tempat tersebut untuk menghindarkan peracunan cadangan air minum itu.
Dr Karyadi, Kepala Laboratorium Pusat Rumah Sakit Rakyat (Purasara) ketika mendengar berita ini langsung meluncur ke Siranda untuk mengecek kebenarannya. Tetapi beliau tidak pernah sampai tujuan, jenazahnya diketemukan di jalan Pandanaran Semarang, karena dibunuh oleh tentara Jepang (namamya diabadikan menjadi RS di Semarang). Keesokan harinya 15 Oktober 1945 jam 03.00 pasukan Kidobutai benar-benar melancarkan serangannya ke tengah-tengah kota Semarang.
Markas BKR kota Semarang menempati komplek bekas sekolah MULO di Mugas (belakang bekas Pom Bensin Pandanaran). di belakangnya terdapat sebuah bukit rendah dari sinilah di waktu fajar Kidobutai melancarkan serangan mendadak terhadap Markas BKR. Secara tiba-tiba mereka melancarkan serangan dari dua jurusan dengan tembakan tekidanto (pelempar granat) dan senapan mesin yang gencar. Diperkirakan pasukan Jepang yang menyerang berjumlah 400 orang. Setelah memberikan perlawanan selama setengah jam, pimpinan BKR akhirnya menyadari markasnya tak mungkin dapat dipertahankan lagi dan untuk menghindari kepungan tentara Jepang, pasukan BKR mengundurkan diri meninggalkan markasnya.