Sabtu, 11 Juni 2011

Mengapa Saya

Arthur Ashe adalah petenis kulit hitam dari Amerika yg memenangkan tiga gelar juara Grand Slam; US Open (1968), Australia Open (1970), dan Wimbledon (1975).

Pada tahun 1979 ia terkena serangan jantung yg mengharuskannya menjalani operasi bypass. Setelah dua kali operasi, bukannya sembuh ia malah harus menghadapi kenyataan pahit, terinfeksi HIV melalui transfusi darah yang ia terima.

Seorang penggemarnya menulis surat kepadanya,
"Mengapa Tuhan memilihmu untuk menderita penyakit itu?"

Ashe menjawab
"Di dunia ini ada 50 juta anak yg ingin bermain tenis,

diantaranya 5 juta orang yg bisa belajar bermain tenis,

500 ribu orang belajar menjadi pemain tenis profesional,

50 ribu datang ke arena untuk bertanding,

5000 mencapai turnamen grandslam,

50 orang berhasil sampai ke Wimbeldon,

empat orang di semifinal, dua orang berlaga di final.

Dan ketika saya mengangkat trofi Wimbledon, saya tidak pernah bertanya kepada Tuhan,
"Mengapa saya?"

Jadi ketika sekarang saya dalam kesakitan, tidak seharusnya juga saya bertanya kepada Tuhan,
"Mengapa saya?"

Sadar atau tidak, kerap kali kita merasa hanya pantas menerima hal-hal baik dalam hidup ini; kesuksesan, karier yang mulus, kesehatan. Ketika yang kita terima justru sebaliknya; penyakit, kesulitan, kegagalan, kita menganggap Tuhan tidak adil. Sehingga kita merasa berhak untuk menggugat Tuhan.

Tetapi tidak demikian. Ia berbeda dengan kebanyakan orang. Itulah cerminan hidup beriman; tetap teguh dalam pengharapan, pun bila beban hidup yg menekan berat.

Ketika menerima sesuatu yg buruk, ingatlah saat - saat ketika kita menerima yg baik...

"Kuda pemenang tidak tahu mengapa dia harus lari dan memenangkan perlombaan.

Yg dia tau, dia harus berlari krn dipukul dan sakit..!!

Hidup ini seperti sebuah perlombaan. Dan Tuhan adalah komandonya atau ibarat jokinya..
Jika engkau mengalami sakit, dihajar, menerima yg tidak enak, berpikirlah :"Tuhan ingin engkau menang !!"

Jumat, 10 Juni 2011

SANG PEMBEKAL

Dari sini aku bisa melihat,
Meskipun tetap saja aku belum tahu tepatnya ketinggian yang aku daki
Atau dimana landasan tempat aku berpijak kini,
Tapi bisa menikmati segarnya udara disini,
Yang aku bisa ingat dengan tepat hanya

Sedikit peluh...
Yang sesekali aku coba sapu dengan lengan atau telapak tanganku
Tapi lebih sering tersapu angin yang setia mengiringi perjalananku

Tentang kerikil dan bongkah batu,
Aku tidak pernah tertarik membagi fokusku untukmu
Meskipun kamu tidak pernah lelah mencari perhatianku,
Melukai telapak kakiku dengan ketajamanmu,
Yang sempat membuatku tertatih, tapi aku tetap maju melewatimu,
Atau bongkahmu yang kadang membuatku tersandung,kemudian tertelungkup,
Tapi bekalku masih cukup membuat kakiku tegak dan melewatimu.
Karena aku tahu kamu hanya bagian dari sebuah perjalanan panjangku.

Dan peluh (meskipun deras mengalir) aku tetap menyebutmu sedikit,
Karena kamu adalah bagianku, yang harus menandai waktu,
Bahwa aku akan menikmati kesegaran baru,
Memeriksa bekal dan melanjutkan langkahku.

Kekagumanku penuh didalam batin pada Sang Pembekal-ku,
Begitu detailnya Dia memasukkan semua perlengkapanku,
Untuk menghadapi berbagai musim
Bahkan untuk perjalanan yang masih didepanku,
Selalu kukagumi Sang Pembekalku

Grace is a gift for nothing and Something for nothing
Indie *050611 nite

PAGIKU

Mentari terlihat begitu indah,
Menyapaku ramah,
Seperti tau aku menantinya,
Sambil tersenyum aku menjawab,
Dalam gumam yang terkesan ego
Pagiku yang indah,

Sungguh aku tidak sedang lupa,
Bahwa Kau lakukan itu untuk semua orang,
Bahkan kau tunjukkan indahmu hari ini untuk menjawab doa mereka,
yang akan mencatat sejarah dalam asa,
Disini, tempat dimana kau dikenal setia

Pagiku,
Indah dan tidaknya hadirmu,
Kau tetaplah pagiku...
Yang berani menghardik malam dengan atau tanpa restu,
Kau adalah kesempatan terbaik kami mengerjakan segala sesuatu,
Memperbaiki yang keliru,
Melanjutkan mimpi dengan cara baru,
Serta menghidupi hal benar yang kami tau,
Aku tidak akan pernah malu,
Memuji.. Pagiku

Indie* 050311

Percakapan Tentang Wanita

Ketika Tuhan menciptakan wanita,
Dia lembur pada hari ke enam

Malaikat datang dan bertanya “Mengapa begitu lama Tuhan?”

Tuhan menjawab, “Sudahkah kamu lihat semua detil yang Aku ciptakan untuknya?”

“Dua tangan ini harus bisa selalu dibersihkan,
setidaknya terdiri dari dua ratus bagian yang bisa digerakkan dan berfungsi baik
agar dapat mengolah berbagai jenis makanan…

Mampu memberikan kenyamanan bagi anak-anaknya…

Punya pelukan yang menyembuhkan rasa sakit hati dan keterpurukan…

Dan semuanya cukup dilakukan dengan kedua tangan ini…"

Malaikat takjub, “hanya dengan dua tangan ini...?”

“Tetapi Tuhan, Engkau membuatnya begitu halus dan lembut”
“Ya.. Aku membuatnya begitu lembut.
Tapi kamu belum bisa bayangkan kekuatan yang Aku berikan kepadanya
agar ia bisa mengatasi banyak hal yang luar biasa”

“apakah dia bisa berpikir?” tanya malaikat

Tuhan menjawab “Tidak hanya berpikir, dia juga mampu bernegosiasi dan mengutarakan pendapatnya”

Malaikat itu menyentuh dagunya..
“Tuhan, Engkau buat ciptaan ini kelihatan lelah dan rapuh, seolah banyak sekali beban untuknya”

“Itu bukan kerapuhan, itu air mata. Aku berikan padanya supaya dia bisa mengekspresikan kegembiraan, kegalauan, cinta, kesepian, penderitaan dan rasa bangga”

“Engkau memikirkan segala sesuatunya. Wanita ciptaanMu ini sungguh menakjubkan!”

“Ya..Harus! Wanita ini mempunyai kekuatan untuk mempesona laki-laki…
Dia dapat mengatasi beban hidup, mampu menyimpan kebahagiaan dan pendapatnya sendiri…
Mampu tersenyum bahkan ketika hatinya menjerit…
Mampu tertawa saat hatinya menangis…
Dia bisa berkorban demi orang-orang yang dikasihinya…
Dia bisa melawan ketidak adilan…
Dia bersorak saat melihat kawannya bahagia…
Hatinya terluka saat melihat kesedihan…
Dia tahu sebuah ciuman dan pelukan dapat menyembuhkan luka…
CINTANYA TANPA SYARAT!”

Malaikat sangat kagum. “Lalu apa kekurangannya?”

Tuhan menjawab ”hanya satu hal.. dia terkadang lupa betapa berharganya dia…”

Remind this to all the women… that they are unbelievably precious..!!

Sisa Diam

Kamu datang begitu tiba tiba,
Bertubi tubi menyerang hati yang lama terbingkai hingga porak poranda
peralihan yang tidak terpahami kecepatannya,
Mendorong hati manjakan perasaan,
Dari hati yang selalu terjaga,
Tiba-tiba terlelap dan melayang,
Memacu logika berkata,
Bukan kamu yang salah,
Hanya hati yang tak siap...

Dan rasa terhempas,
Kini menyalahkan interupsi logika,
Sebab ini bukan tentang salah atau tak siap,
Mungkin tentang hati yang sedang mengembara,
Mungkin hanya sesuatu yang tertunda,
Mungkin...
Mungkin...
Dan mungkin...
Sebab selalu,
Diam hanya menyisakan mungkin
Kalaupun ada selain itu
Adalah hati yang telah tercandui
Serta detak jiwa yang berpesan satu kalimat klise gampang yang sulit :
ikutilah kata hatimu, jangan pernah terlambat menyadarinya
Indie - 240211

SURAT UNTUK WAKTU 1

aku salut padamu
Kamu teman terbaik dan setia untuk semua yang ada dibawah kolong langit,
Seluruh keberadaanmu mengantar dan menjemput segala yang dibumi ini
Dari musim ke musim
Menjemput fajar,
Mengantar malam
Menjemput bayi yang meronta karena harus mencoba bernafas tanpa plasenta
Mengantar raga yang terlepas dari nafas terakhir

tapi aku iri padamu
hidupmu tidak pernah mengalami fluktuasi,
layaknya jiwa atau mata uang
hidupmu stabil,
Kamu bersahabat dengan damai, dengan nyaman,
dengan perang, dengan lapar, dengan badai,
serta segala bentuk bencana.
Kamu berteman dengan siapapun yang kau temui,
Dengan mereka yang bergelimang harta dan berkelakar dalam gelak tawa,
Dengan mereka yang benar dan tulus,
atau mereka yang terbiasa licik dan angkuh.

Kamu pemberani,
meskipun tidak ada yang mendorongmu,
Menantang yang berjiwa besar, atau yang tersudut tak bernyali,
Kamu teguh membangkitkan keadilan dan lantang memunculkan kebenaran,
Hidupmu selalu menjadi tanda,
bahkan jawaban di setiap peristiwa

Aku pernah kecewa
karena hidupmu hanya menuntut dan
seenaknya memberi batas perputaran dunia dan segala isinya
dari pertemuan, perpisahan, tawa, tangis, kecewa, bahagia
Kamu merasa sangat berkuasa atas semua itu.

Maaf dalam kebodohan aku pernah membentakmu
Karena kamu tidak pernah peduli
pada teriakan mereka yang memintamu tinggal sejenak, untuk sekedar
Menemani mereka menggabungkan bentuk lukisan asa diatas kertas lusuh,
Padahal kamu juga dengar janji mereka,
Hanya menarik titik titik yang terlihat pada batas wajar,
Juga tangis mereka yang berpeluh dan terluka,
karena bergulat dengan kerasnya hidup,
dan mungkin mereka sendiri,
Tapi kamu tetap berlalu,
kamu selalu beralasan konstantalah yang menyeretku

Dan, kalau ingatanmu tajam,
(ah.. tapi aku tau, kamu tidak pandai mengingat, itu kekuranganmu)
Aku sempat dibingungkan dengan kemiripan sifatmu,
tetap dan tidak pernah berubah,
yang membuat aku bertanya,
samakah kamu dengan pemberi kertas yang diatasnya aku harus menyelesaikan lukisan asa?

Saat ini aku sudah tau jawabnya,
Kamu sama sekali tidak sama dengan DIA..!!
Karena kamu hanya bisa menyaksikan, menandai, kemudian berlalu meninggalkan,
sementara DIA,
Selalu mendengar teriakan mereka,
Menemani, menghibur, meneduhkan, dan memulihkan...
Sesekali DIA menegur itupun dengan kasih
Bahkan tidak hanya merapikan lembar kertas itu, tetapi melukis ulang...
Begitu indah, begitu sempurna.

Tapi aku berterimakasih,
Karena bagaimanapun,
Kamulah yang mengantar aku,
mengenal semua rasa di setiap fase hidupku
Memaknai langkah dan memahami sesuatu yang mungkin tak terdefinisi dalam hidupku
Indie - 290111

Introspeksi Diri

(*) Saya pikir , hidup itu harus banyak meminta ~ ternyata harus banyak memberi.

(*) Saya pikir, sayalah org yang paling hebat ~ ternyata ada langit diatas langit.

(*) Saya pikir, kegagalan itu final ~ ternyata hanya sukses yg tertunda.

(*) Saya pikir, sukses itu harus kerja keras ~ ternyata kerja pintar.

(*) Saya pikir, kunci surga ada dilangit ~ ternyata ada di hatiku.

(*) Saya pikir, Tuhan selalu mengabulkan setiap permintaan ~ ternyata Tuhan hanya memberikan yg kita perlukan.

(*) Saya pikir, makhluk yg paling bisa bertahan hidup adalah yg paling pintar, atau yg paling kuat ~ ternyata yg paling cepat merespon perubahan.

(*) Saya pikir, keberhasilan itu karena keturunan ~ ternyata karena ketekunan.

(*) Saya pikir, kecantikan luar yg paling menarik ~ ternyata inner beauty

Abigail Indiana

Foto saya
I am a product of GOD's Grace. Single, Simple person but will always be an extraordinary person. Just a nature, Truth lover, jazzy lover, coffee lover. Selalu mendefinisikan setiap fase hidup dengan ucapan syukur. I love my beloved Savior, He loves me unconditionally.