Selasa, 14 Mei 2013

Virus Antusiasme





Seorang pemuda memasang iklan di sebuah surat kabar New York City :

“Tidak adanya pengalaman merupakan hal paling berharga yang dapat dibawa seseorang ke dalam sebuah pekerjaan baru. Seseorang yang tidak berpengalaman terpaksa mengandalkan imajinasi dan gairah, bukan rutinitas dan formula usang. Apabila Anda berkecimpung dalam jenis usaha yang terpuruk dalam rutinitas dan formula pemikiran, maka saya dengan senang hati bersedia bekerja untuk Anda. Tidak adanya pengalaman merupakan kekuatan saya. Saya berusia 25 tahun dan memiliki kemampuan untuk terlibat dengan antusias dan emosional dalam pekerjaan saya.”
Dan singkat cerita Ia segera diterima oleh suatu jaringan studio foto.
Membaca tulisan yang saya terima dari seorang teman tersebut, membuat saya senyum-senyum sendiri, karena tiba-tiba jadi teringat lompatan yang pernah saya lakukan. Dengan latar belakang purchasing di sebuah industri plastik beralih ke sebuah lembaga penyiaran. Dan kalau dipikir memang benar modal saya hanya imajinasi dan semangat untuk larut dengan ritme pekerjaan yang sudah pasti jauh berbeda.
Meskipun saya waktu itu tidak menuliskan secara frontal di cv yang saya ajukan, tapi ada sedikit kemiripan secara spirit.
Jika kita berbicara tentang imajinasi, berarti berbicara tentang sesuatu yang sepertinya hanya ada dalam alam pikiran dan sebatas angan, tapi itu menjadi hal yang sangat penting waktu kita harus masuk ke dunia yang benar-benar baru dalam hidup kita. Semangat merupakan satu-satunya energi terkuat yang hanya muncul dari diri kita dan mampu memperjelas imajinasi menjadi sebuah karya nyata yang bisa kita kerjakan.
Sesuatu yang awalnya hanya kita lihat, kemudian kita bayangkan seandainya itu “saya” yang melakukan. Terus menerus melihat, menyaksikan, memikirkan hal-hal yang kemungkinan adalah sesuatu yang akan ada dalam aktifitas sehari-hari kita, adalah latihan terbaik dari sebuah imajinasi.

Imajinasi dan semangat menjadi duet yang saling melengkapi. Yang paling menarik, hal ini bisa menjadi sebuah virus yang menular.
Tentu saja dengan berjalannya waktu kita akan memperlengkapi diri dengan keahlian, yang dibutuhkan dalam area aktifitas kita. Kemampuan serta pengetahuan secara praktik dan teori yang cukup dan seimbang supaya kita tidak menjadi hambatan dalam proses kerja yang berlangsung.
Bersikap antusias bisa diterapkan dalam semua area kehidupan, keluarga, teman komunitas, rekan kerja, hobi dan khususnya impian-impian dan potensi kita untuk meraihnya.

Antusiasme selalu menarik, karena menyalakan harapan dan sukacita. Orang-orang tertarik kepada orang yang memancarkan harapan dan sukacita, yang membawa kesempatan-kesempatan unik, nasihat yang masuk akal, dan sumber-sumber berharga.

Indie *13513

Senin, 11 Februari 2013

Berteman Dengan Elang Atau Serigala




Saya menyimpan tulisan tersebut dari display picture teman karena tertarik dengan tulisannya. Tulisan yang bisa menjadi panduan bagaimana sebaiknya kita menjalin atau membangun sebuah hubungan pertemanan.
Sebenarnya yang membuat saya tertarik dari tulisan itu, untuk bisa menjadi pengingat buat diri saya sendiri supaya tidak menjadi orang yang naif seperti selama ini, menganggap orang-orang yang saya kenal akan sebaik dan setulus saya memperlakukan mereka. Dan sering terheran-heran (secara berulang-ulang) jika ada orang yang bisa berbuat jahat, berkhianat atau yang sejenisnya. Apalagi tanpa alasan.
Hidup kita sebagian besar ditentukan oleh orang-orang yang bersama-sama dengan kita. Jika kita berlari bersama seekor Srigala, kita akan belajar cara melonglong dan menerkam. Tapi jika kita bergaul dengan Elang, kita akan belajar cara membumbung tinggi di angkasa dan menikmati badai dalam kesendirian.
Percaya atau tidak, hampir semua kesedihan berasal dari hubungan dengan orang yang salah. Semakin sedikit kita berhubungan dengan orang yang negatif, semakin banyak kemajuan yang bisa kita capai. Setiap kali kita kompromi dengan kekurangan orang lain, berarti kita sedang menambah kekurangan kita.
Karena itu terkadang membuat kita tiba pada sebuah keputusan lebih baik kita sendiri, dari pada berteman dengan orang tidak baik.  Jangan terburu-buru salah mengerti dengan kata “lebih baik sendiri” karena disini bukan berarti kita tidak membutuhkan teman, atau tidak akan berteman dengan siapapun. Tapi  untuk sementara kita belajar lebih peka dengan siapa harus berbagi supaya kita bisa menikmati keindahan dari sebuah hubungan.    
Kita harus mewaspadai perkembangan hidup pertemanan kita karena mencampur adukkan pergaulan baik dan buruk dalam hidup kita bisa jadi mengakibatkan kita merasa mundur dua langkah setiap kali berusaha membuat kemajuan satu  langkah.
Hal lain yang bisa menandai kemunduran kita adalah jika seorang pemalas tidak membuat kita merasa terganggu, mungkin itu bisa diartikan bahwa kita sudah sama seperti dia.
Kembali lagi, hidup adalah pilihan, dalam berteman kita juga harus menentukan siapa yang akan menjadi teman dekat kita dengan hati-hati. Adakalanya kita salah menilai seseorang diawal, kita berekspektasi terlalu tinggi kepada seseorang dan akhirnya kita kecewa karena  orang yang kita harapkan bisa menjadi partner yang baik ternyata tidak seperti yang kita pikirkan.
Pepatah kuno berkata, "Orang yang berbaring bersama anjing akan bangun bersama kutunya." Atau kalimat lain yang senada wajah seseorang dipantulkan oleh cermin, namun seperti apa kita sesungguhnya dicerminkan oleh orang-orang yang bergaul erat dengan kita - entah itu baik, entah itu buruk.
Mengutip tulisan Thomas Carlyle yang mengatakan, "Tunjukkan kepada saya orang yang anda hormati, dan saya akan tahu orang seperti apa anda, karena hal itu menunjukkan pada saya sosok manusia ideal anda, dan bahwa anda ingin menjadi orang seperti itu."

Indie *120213

Senin, 26 November 2012

Secangkir Kopi




Sekelompok alumni, yang sangat mapan dalam karir, berkumpul dan mengunjungi profesor mereka di universitas. Pembicaraan hangat mulai terjadi dan mengarah bagaimana mereka mengeluh tentang tekanan hidup dan pekerjaan.
Profesor itu menawarkan kopi, lalu dia pergi ke dapur dan kembali dengan seteko kopi dan bermacam-macam cangkir - porselain, plastik, beling, kristal, beberapa terlihat biasa, beberapa terlihat mahal dan beberapa tampak indah - lalu meminta mereka untuk menuang kopinya sendiri.
Ketika semua mantan muridnya itu sudah memegang cangkir kopi di tangannya, profesor berkata :
"Jika kalian perhatikan, semua cangkir yang indah dan mahal lah yang kalian pilih untuk  digunakan, dan menyisakan cangkir yang murah dan biasa saja. Meskipun normal kalau kamu ingin yang terbaik untuk diri sendiri, namun ternyata hal itu menjadi sumber masalah dan stres yang kamu alami. Meskipun kalian tahu dengan pasti, bahwa cangkir itu sendiri tidak menambah kualitas kopi. Dalam kebanyakan kasus hanya lebih mahal dan dalam beberapa kasus malah menyembunyikan apa yang kita makan.”
Apa yang kalian inginkan sebenarnya adalah kopi, bukan cangkirnya, tapi kita terfokus pada cangkir yang terbaik dan kemudian kalian mulai melihat kopi orang lain.
Sekarang pertimbangkanlah hal ini :

Kehidupan adalah kopi, sementara pekerjaan, uang dan posisi dalam komunitas adalah cangkirnya. Mereka hanyalah alat untuk menampung dan tidak mengandung kehidupan, dan tipe cangkir yang kita miliki tidak mendefinisikan siapa kita dan tidak juga mengubah kualitas kehidupan yang kita jalani. Kadang, dengan konsentrasi hanya pada cangkir kopi, kita gagal menikmati kopi yang Tuhan sediakan bagi kita."
Tuhan menyediakan kopinya, bukan cangkirnya...nikmati kopi Anda!

Saya dikirimi teman saya tulisan tersebut awal tahun ini.  

Berhubungan dengan tulisan diatas, beberapa hari terakhir saya sedang kecanduan dengan tayangan sinetron di salah satu stasiun televisi swasta, karena menurut penilaian saya masih agak bermutu, dialog-dialognya dan konflik yang muncul belum terlihat aneh. Ada teman yang sempat tanya disela-sela saya nonton tayangan tersebut, “kamu hobby sinetron ya”, saya jawab “jujur engga, cuma kebetulan waktunya pas.

Melihat beberapa dialog dalam sinetron tersebut, tiba-tiba saya teringat tentang apa yang disebutkan dengan mantra, yaitu cara bagaimana kita mengapresiasi dan mengakui setiap hari sebagai sebuah keajaiban jika kita menyadari esensi dari kehidupan itu sendiri. Tentang keberadaan kita, nama kita, orang-orang yang disediakan disekitar kita, udara yang kita hirup dan berkuasanya yang menyertai hidup kita.

Saya melihat tayangan sambil senyum-senyum bahagia, karena ide saya yang semula terlihat konyol indah juga jika divisualisasi seperti itu.

Kurang lebih enam tahun yang lalu saya membiasakan diri mengatakan didepan cermin, setiap pagi, atau waktu saya berpendapat hari itu kurang bersahabat. Deretan kata ajaib itu adalah:

Hallo saya….(sebut nama), sebut usia, saya menarik, saya kuat, saya berharga di mata Tuhan, dan seterusnya, kata-katanya bisa bertambah bisa berkurang sesuai kebutuhan. Waktu itu saya mengucapkan deretan kalimat itu disela-sela saya menunggu pesanan makanan disebuah food court. Teman yang bersama saya langsung nyletuk “mantra konfiden ya kak” sambil senyum saya jawab, “bukan” sebagai pernyataan tidak setuju. Sampai sekarang saya juga tidak memberi nama apapun kepada deretan kalimat ritual yang sering saya ucapkan itu. Meskipun fungsinya sama, untuk tetap kuat, yakin dan percaya diri.
Biasanya yang saya katakan hari kurang bersahabat, adalah arti lain dari kegagalan saya menjaga hati. Yang bisa menyebabkan saya mengamati realita lebih dari harapan.

Realita tentang kegagalan, kemustahilan, tentang tidak adanya dasar untuk tetap berharap. Atau kadang hanya sekedar menyetujui pendapat negatif orang yang sengaja dilemparkan untuk kita. Tentang apapun dari segi hidup kita, yang mungkin sebenarnya itu hanya pelengkap kehidupan, bisa dibilang asesoris, yang berada dibagian luar hidup kita dan melupakan keajaiban dari hidupan itu sendiri, yang kita jalani dari hari ke hari, yang memang terlihat wajar dan seharusnya. Sebenarnya jika diamati, betapa ajaibnya hari dimana kita dibentuk, kelahiran kita, nama kita, keindahan pagi, nafas hidup, perpindahan malam dan orang-orang disekitar kita. Sementara  masih ada orang yang harus berjuang keras untuk mendapatkan hidup itu sendiri.

Jika kita dalam kondisi sehat dan baik-baik saja, mungkin ini yang harus kita perjuangkan, bagaimana hidup dalam kebenaran. Mengapa harus kebenaran yang diperjuangkan, karena seperti yang kita sering dengar, bahwa baik belum tentu benar tapi kalau benar sudah pasti baik. Mengasihi dengan murah hati, memberi kepedulian dengan tulus dan sisanya kita serahkan kepada Sang Pemberi Hidup. Konon segala hal yang baik akan mengikuti.  

Jika hal sederhana tersebut menjadi budaya hidup kita sehari-hari  kalimat bijak ini akan menjadi bagian kita, bahwa orang yang paling berbahagia bukanlah mereka yang mendapatkan semua yang terbaik, tapi mereka yang melakukan yang terbaik dengan semua yang mereka dapatkan.

 

Indie *241112

Selasa, 23 Oktober 2012

Arti Hidup



Didunia, tidak ada satu hal yang pasti kecuali perubahan itu sendiri. Karena itu, kita harus mampu mengantisipasi terjadinya perubahan dengan melakukan perubahan juga. Yakni, berubah menjadi lebih bijak, berubah menjadi lebih baik.

Sebuah ungkapan menyebutkan, melakukan sesuatu hal yang sama dan berulang-ulang namun mengharapkan sebuah perubahan adalah sebuah kegilaan. Sebab, dunia selalu berubah. Waktu terus berputar. Karena itu, jangan pernah membiarkan diri kita terjebak dalam rutinitas yang itu-itu saja tanpa berusaha melakukan perubahan menuju kebaikan. Sehingga kita tidak akan menjadi “gila” dengan tidak melakukan apa-apa.

Karena itu, saat dunia terus berputar, kita juga harus mampu mengantisipasi dengan bergerak dan terus melangkah. Lakukan tindakan penuh perhitungan untuk mencapai tujuan. Waktu kita merasa dihadang dengan kegagalan, kita bisa segera bangkit dan mencari cara untuk melakukan perbaikan. Waktu ada rasa kekalahan yang sepertinya menghampiri, kita bisa segera melakukan perubahan dengan mengevaluasi segala kekurangan. Jika itu ada hubungannya dengan orang lain kita bisa segera bereskan dengan yang bersangkutan.

Mari lakukan berbagai macam perubahan menuju kebaikan. Dengan terus mengevaluasi dan mengoreksi kesalahan. Dengan terus menyiapkan langkah antisipasi terhadap segala ujian dan tantangan. Sehingga, saat dunia berubah, kita akan jadi pribadi-pribadi yang memiliki bekal dan kemampuan adaptasi yang mumpuni untuk mencapai kemenangan.

Harus selalu memformat ulang hati dan pikiran supaya sejalan, kalau meminjam bahasa teknik, dikalibrasi, supaya presisi dan akurat lagi secara fungsi. Sukses menjadi diri sendiri, dan menang atas diri sendiri. Saya baca personal message dari teman yang artinya senada “it is better to conquer yourself, than to win a thousand battles”.

Saya sempat berpikir, apakah memformat ulang hati dan pikiran bentuk pembelaan atas ketidak mampuan kita dalam menghadapi hal disekitar kita, jawabannya bukan.
Kenapa kita perlu memenangkan diri kita sendiri? Karena seringkali yang menjadi penghalang kita untuk bergerak maju dan menjadi lebih baik adalah diri kita sendiri. 
Tuhan memberi janji tentang keselamatan dan kekekalan. Tapi pada dasarnya Kekekalan ditentukan oleh diri kita sendiri. 

Level hidup tergantung bagaimana kita memaknai hidup kita, setidaknya ada tiga level yang sering kita dengar. Kemungkinan jika di deskripsi bisa lebih banyak.
ketiga keyakinan ini akan menggerakkan kita ke sebuah tujuan hidup.

1. Bergumul
Kehidupan yang seperti ini yang membuat kita setuju dengan beberapa pendapat umum yang sering kita dengar :
Hidup itu seperti roda atau roller coaster, adakalanya diatas, adakalanya dibawah.
Hidup itu seperti permainan kartu atau panggung sandiwara, apapun bagian yang kita terima harus tetap dimainkan.
Hidup seperti sirkus, penuh dengan permainan seru dan musik yang meriah.

2. Sukses
Kehidupan yang berorientasi pada nilai sukses dan pencapaian membuat kita setuju dengan pendapat bahwa  hidup itu seperti pertandingan atau balapan yang mengharuskan kita selalu menjadi terbaik dan terdepan, atau sebagai pemenang.
Hidup itu seperti teka teki, tidak bisa ditebak tapi harus dipecahkan.
Hidup seperti orchestra , harus bisa berdamai dengan orang-orang di sekitar demi terciptanya sebuah harmonisasi yang indah.

3. Berdampak
Inilah yang sesungguhnya menjadi level hidup tertinggi (nilai kehidupan tertinggi) yang tidak pernah menjadi pilihan. Pilihan hidup yang berorientasi pada kepentingan orang lain. Jadi ingat postingan Bp. H.H. di FB dengan judul Keseharian Heroik. Yang intinya melakukan kebaikan sebagai lifestyle, tanpa kebanggaan, bahkan rela tidak di ingat sedikitpun atau di 'enol' kan, from hero to zero. Bikin merinding, karena pada umumnya orang selalu minta di 'elu-elu' kan minimal di catat, besar-besar (hehehe sama aj ya.). Tapi sebenarnya jika kita mau merenungkan, pilihan hidup berdampak adalah jika kita bisa melewati dua kehidupan sebelumnya dengan cara dan reaksi yang benar, maka secara otomatis kita akan menikmati kehidupan yang ketiga.  
 
      Gambaran hidup menurut manual book (buku petunjuk) yang saya baca :
 
1. Hidup adalah ujian
Kita harus menganggap ujian sebagai kebahagiaan.
Jawaban atas ujian hidup adalah respon yang benar, harus cocok dengan kebenaran yang kita yakini.
Beberapa ujian terasa lebih sulit dari ujian lainnya, tapi ada Good News (kabar baik) untuk menghadapi ujian : Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.
Orang bijak bilang bahwa masalah diciptakan berpasangan dengan penyelesaian atau jalan keluar jadi akan selalu ada jalan keluar. 
Mengingat peristiwa beruntun pada beberapa bulan terakhir saya berani mencatat itulah ujian buat saya pribadi. Bagaimana saya merespon dengan benar dalam kondisi yang tidak memungkinkan untuk tetap pada sebuah keyakinan dan kepercayaan yang teguh.  
  
2. Hidup adalah sebuah kepercayaan
Everything comes from Him, everything happens through Him, everything ends up to Him. All glory, all praise.
Dengan menganut sebuah prinsip bahwa hidup ini milik Tuhan, kita pasti dengan sadar akan mengharuskan diri untuk menjaga hidup sebaik dan semaksimal mungkin.
Jawaban atas kepercayaan hidup adalah dapat dipercayai. 

Indie *231012

Abigail Indiana

Foto saya
I am a product of GOD's Grace. Single, Simple person but will always be an extraordinary person. Just a nature, Truth lover, jazzy lover, coffee lover. Selalu mendefinisikan setiap fase hidup dengan ucapan syukur. I love my beloved Savior, He loves me unconditionally.