Minggu, 12 Januari 2014

Kebaikan Mengerjakan Kebaikan



Setiap perjalanan selalu melewati dari musim ke musim, dan setiap musim selalu memberikan pengalaman unik yang berbuahkan pelajaran baik dari sebuah perjalanan. Terutama musim hujan.

Hujan tanpa henti yang terjadi mulai Sabtu kemarin jam 21.25 WIB sampai pagi ini membuat banyak orang menunda aktifitas yang tidak bernilai keharusan. Apalagi ini hari Minggu. Selain karena kondisi jalan yang mengurangi kenyamanan berkendara, alasan lain bagi pengendara roda dua kemungkinannya adalah harus memakai perlengkapan hujan yang pasti cukup merepotkan. Tepatnya sih sedikit repot jika menginginkan tetap nyaman meskipun naik roda dua waktu hujan, paling tidak terhindar dari siraman genangan air yang tergilas roda dari kendaraan lain. Termasuk saya, karena tidak ada tugas saya bisa memilih jam ibadah secara fleksible, menurut kemurahan hati sang alam.
Meskipun tidak terus menerus deras, tapi intensitas hujan cukup rapat, dan tanpa jeda, jadi tetap saja banyak genangan air, udara lembab, atap bocor, air menetes dan mengalir dari manapun, mungkin karena terlalu banyak, sehingga segala bentuk lubang sekecil apapun tiba-tiba bisa berfungsi sebagai saluran air.
Ada sebagian orang yang bersyukur karena pada waktu hujan turun sudah sampai dirumah, dan untuk kemarin malam saya kembali masuk sebagian orang yang bersyukur karena sudah tiba dirumah begitu hujan lebat yang menjadi pembuka hujan tanpa spasi di satu jam berikutnya. Tapi juga pasti ada yang kurang beruntung, karena harus menikmati hujan ditengah perjalanan. Yang pasti setiap orang pernah mengalami kedua kondisi tersebut.
Seperti yang pernah saya alami seminggu yang lalu (Senin, 6 Januari 2014).
Waktu itu saya pulang dari gereja pukul 20.40 WIB masih gerimis. Rupanya hujan deras mulai pukul 15.45 WIB yang tidak kunjung berhenti sudah menggenangi banyak ruas jalan, bahkan  jalan favorit yang biasa saya lewati menuju kerumah, tiba-tiba penuh tergenang air cukup tinggi. Dikatakan tinggi karena biasanya daerah tersebut jarang tergenang air sebanyak itu.
Saya bertemu genangan air cukup tinggi pada waktu tiba dipertengahan jalan Kranggan. Awalnya saya berpikir untuk putar balik, karena scooter matic yang saya kendarai cukup ngotot melintasi genangan air tersebut, tapi saya putuskan meneruskan perjalanan, dengan harapan jalan yang saya tuju genangannya tidak setinggi itu. Tapi ternyata diluar dugaan, daerah tersebut airnya lebih tinggi, melebihi knalpot matic saya, dan alhasil motorpun mogok dengan sukses ditengah banjir. Saya putar balik motor ketempat yang tidak tergenang air, tepat disebelah warung. Saya bersyukur ada sepasang (pria dan wanita) pengendara motor yang kebetulan melewati jalan yang sama. Mnghampiri saya, : “mogok mbak” kata yang pria, saya menganggukkan kepala sambil tersenyum kepada keduanya. Saya standarkan motor, saya piker motor mereka juga mogok, tapi ternyata tidak, mereka menemani bahkan membantu mengusahakan sampai motor saya bisa kembali dinyalakan, dengan mengeluarkan terlebih dahulu air, yang berhasil memenuhi knalpot. Kurang lebih 20 menit, kami bertiga disitu tapi motor belum berhasil dinyalakan. Meskipun sambil ngobrol, tapi tetap saja tegang. Karena saya tiba dijalan tersebut pukul 20.45 WIB. Tiba-tiba ada seorang pemuda lengkap dengan jas hujan,  ikut menepi di tempat kami. “Mogok mas” sapaaan standar musim banjir saya lontarkan. Dan dia jawab “iya mbak”. Saya mencari informasi tentang jalan yang dia lewati, ternyata dia melewati jalan yang akan saya tuju. Dia bilang, banjirnya cukup tinggi, lalu menyarankan saya untuk tidak melewati jalan tersebut. Pria yang sedari tadi sudah membantu saya memotong pembicaraan, “njenengan paham matic mas, saya kurang paham” (anda paham motor matic mas, saya tidak paham).  Tanpa basa-basi pemuda tersebut langsung menyalakan motor saya dengan cara seperti biasa , dan berhasil. Padahal dari tadi kami berusaha menyalakan dengan cara yang sama tidak bisa. Sambil menunggu panas, dia bilang bahwa businya tidak ada masalah.  Langkahnya juga sudah benar, air diknalpot harus dikeluarkan dan tunggu mongering baru bisa di nyalakan kembali.

Setelah  memastikan motor saya sudah berhasil berfungsi dengan baik, sepasang penolong saya, pamit, dan saya tidak lupa mengucapkan terimakasih. Sebelumnya saya bilang sama pemuda tersebut, “motornya ga coba dinyalakan mas?”. “busi motor saya memang sudah sowak (rusak) tapi nekad saya paksa nerjang banjir, jadinya ya begini”, jawabnya ringan sambil senyum. Saya bilang kembali ke dia, “sekarang coba aj dulu, soalnya kan mas habis melakukan kebaikan membantu saya, siapa tahu Tuhan mengembalikan kebaikan tersebut ke mas”. Saya sudah siap diatas motor, dan pemuda tersebut akhirnya ikutan naik diatas motor, sedikit ragu melakukan saran saya... dan kendaraan berhasil menyala. Kami berempat bersiap-siap melanjutkan perjalanan masing-masing. Meskipun saya tidak mendengar apa yang mereka ucapkan tapi saya melihat kebahagiaan diantara kami, karena waktu kami tidak terbuang percuma malam itu, termasuk sepasang pengendara yang sebenarnya tidak bermasalah dengan kendaraan mereka.

Gerimis masih mengiring perjalanan saya melintasi jalan yang sebelumnya sudah dianjurkan oleh mereka tadi, untuk menghindari banjir. Selama perjalanan menuju kerumah, saya menitikan air mata ditengah rintik hujan, bukan karena nelongso (mengasihani diri sendiri), tapi air mata yang disertai senyum ucapan syukur.

Dan pelajaran malam itu adalah bahwa kebaikan selalu mengerjakan dan  berbuah kebaikan. Sebuah kesempatan melihat Kebenaran, bahwa TUHAN  adalah penolong yang setia, tidak pernah membiarkan kita sendiri menghadapi besar atau kecilnya kesulitan. Dia selalu siap menyediakan pertolongan melalui siapapun, apapun kesulitan kita, dan  dimanapun kita berada.
Tidak ada yang bisa menahan perbuatan yang TUHAN kerjakan, sekalipun kita berusaha menahan kebaikan yang seharusnya kita lakukan untuk orang lain, TUHAN tetap  akan memakai siapapun sebagai alat untuk mengerjakan kehendakNya.

Minggu, 12 Jan 2014

Rabu, 08 Januari 2014

Budaya Baru



 Negeri tetangga yang satu ini sering disebut menjadi contoh disiplin, ketertiban dan kebersihan, terutama ditempat umum. Kalau ada uang lebih, belum pernah menginjakkan kaki disini, rasanya kurang afdol.
Karena saya berkunjung masuk di bulan desember, praktis setiap tempat umum memasang ornament bernuansa natal. Menyenangkan sekali, membuat orang yang berada ditempat-tempat tersebut menikmati kekentalan suasana natal. Menurut beberapa teman yang sering berkunjung kesana ornamennya berubah-ubah setiap tahunnya, unik dan indah, jadi sah-sah saja kalau sebagian besar orang berebut untuk mengabadikan suasana yang menyenangkan tersebut. Entahkan pendatang yang sekedar berkunjung untuk berlibur seperti saya atau penduduk setempat.

Di kota ini, meskipun ada ditengah keramaian yang padat dan lalu lalang orang dengan aktifitasnya kita tetap merasa nyaman, tanpa terganggu dengan bau tidak sedap karena sampah atau orang yang melakukan tindak kriminal. Setiap pengguna tempat umum dan alat transportasi umum bersedia mematuhi semua aturan dan tata tertib yang tertulis tanpa pengawasan, seperti mesin otomatis.

Sebenarnya dimana-mana yang namanya pelanggaran dan kesalahan, manusia adalah letaknya, dibelahan negeri manapun, tetap ada orang yang entah sengaja atau ketidak mengertian melakukannya.
Mungkin pendatang yang masih menggunakan budaya ditempat lama, atau penduduk tetap yang ingin mencoba mengusung budaya usang ditempat yang baru. Entah hanya ada beberapa orang yang kebetulan saya jumpai waktu saya berkunjung, atau memang benar adanya saya kurang paham.

Saya menjumpai beberapa budaya baru (diluar kebiasaan yang biasa saya lihat disemarang), salah satunya adalah budaya yang menggenapi satu jargon mendekatkan yang jauh menjauhkan yang dekat. 
Hampir 90% orang yang saya jumpai ditempat umum, berjalan, menunggu antrian masuk dan keluar, didalam bis kota atau MRT (Mass Rapid Transit) sistem angkutan cepat yang memfasilitasi warga kota untuk beraktifitas. Hampir setiap orang  menggunakan headset yang tersambung di smartphone masing-masing. Seperti sebuah keharusan dan tata tertib. Sekilas ada yang benar-benar menggunakannya untuk bekerja karena mungkin tidak mau sedikit waktupun terbuang untuk hal sia-sia bagi sebagian orang. Meskipun sekedar bersosialisasi dengan sesama penumpang. Tidak jarang mereka menggunakan sesuatu yang terlihat latah tersebut hanya untuk sekedar berhaha hihi atau mungkin hanya bermain game. Tapi acungan jempolmya adalah, setiap orang rela berdiri dari tempat duduknya dan memberikannya untuk orang yang lebih pantas mendapatkan tempat duduk tersebut dengan mempersilahkan sambil senyum, persis seperti yang tertulis di peraturan angkutan umum. Terus terang cukup salut melihat pemandangan yang bernilai kepatuhan tersebut, mengingat pengguna transportasi umum yang begitu variatif, hampir mewakili seluruh lapisan masyarakat dari executive muda, kaum profesional, anak sekolah, pegawai toko, dll.
Sejak hari pertama saya menginjakkan kaki di negeri singa tersebut, saya hanya menjadi pengamat jika ditempat umum. Seru sih, meskipun tidak sepanjang waktu saya memperhatikan. Adakalanya ngantuk karena tidak tersedia wifi everywhere sehingga alat komunikasi saya tidak berfungsi, jadi saya banyak menganggur, tapi kadang juga memperhatikan dengan fokus tertentu.
Ngomong-ngomong soal wifi everywhere, saya jadi malu, terus terang tanpa persiapan, jadi saya benar-benar mengandalkan wifi, sementara hotel tempat saya menginap punya peraturan khusus mengenai hal itu.
Jika reservasi melalui website maka akan gratis wifi 24 jam. Ternyata saya tidak reservasi melalui website hotel tersebut, dan setiap 2 jam dikenakan biaya sebesar 5$Sin. Saya sempat tergoda dan mencoba menggunakan servis tersebut dimalam terakhir, tapi koneksinya gagal, saya putuskan untuk membatalkan layanan tersebut.
Cukup bingung, dinegeri orang tanpa komunikasi dengan banyak orang terkasih.

Kembali ke pelajaran yang saya dapatkan di negeri singa. Masih sehubungan dengan fenomena yang ada ditempat umum. Saya sempat memperhatikan pasangan muda dengan satu anak didalam MRT, karena saya tidak ada kesibukan seperti yang 'lazimnya' dilakukan banyak orang  ditempat umum, saya memilih kesibukan untuk memperhatikan secara focus pasangan muda dengan seorang anak balita yang baru masuk dan berdiri persis didepan saya duduk. Mereka mendudukkan putri mereka, dan mereka berdua tetap berdiri. Saya melihat pasangan tersebut sibuk dengan ponselnya masing-masing, sesekali berkomunikasi singkat. Kurang kerjaan juga,   saya perhatikan putri mereka yang kira-kira berusia 4-5 itu, sedang memainkan pasmina, dia meminta benda itu dari mamanya. Entah itu akan digunakan untuk dirinya sendiri atau sengaja dibawa untuk putrinya. Sekilas terlihat tidak ada yang aneh dari gadis tersebut, karena didandani cantik, menggunakan kacamata, bandana, mantel, tapi ketika saya perhatikan gerak geriknya dia adalah gadis berkebutuhan khusus. Ironi memang, kota yang sibuk ternyata dapat menyita  perhatian pasangan muda tersebut untuk putrinya, dan memilih tetap hanyut dalam arus kesibukan mereka, tanpa memahami bahwa tujuan mereka membawa putrinya tersebut untuk menikmati weekend bersama keluarga.

Hal lain yang lebih sering saya jumpai, beberapa pasang remaja. Entah sedang pendekatan atau memang sudah resmi menjadi sepasang suami istri. Mereka asik sekali (feel free) menunjukkan romantisme ditempat umum. Saya yang tanpa sengaja memperhatikan jadi merona, entah karena malu sendiri atau jadi pengen (hahaha…). Budaya itu muncul karena memang tidak semua pengguna tempat umum saling memperhatikan, masing-masing sibuk dengan urusannya sendiri dan saya menangkap satu prinsip, selama tidak mengganggu orang lain segala sesuatu sah.

Tapi sekali lagi itu beberapa budaya baru memang akan selalu muncul sebagai akibat kemajuan peradaban atau jaman, di belahan bumi manapun kita ada dan pada jaman kapanpun kita hidup. 
Kitalah yang menjadi penentu pilihan-pilihan cara hidup yang ada. Hal baik mana yang akan kita adopsi.

Di Semarang mungkin masih jarang kita jumpai, pejalan kaki ditempat umum atau pengguna transportasi umum dengan menggunakan smartphone dan headset, apalagi yang berpakain rapi, seperti executive muda, kaum profesi, pasti lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi, terlihat lebih prestige. Mungkin banyak alasan, entah karena kekhawatiran akan mengundang tindakan kriminal atau karena alasan lain, dikira aneh (misalnya).
Tapi tidak ada yang tidak mungkin untuk mengawali segala sesuatu yang baik (ketertiban, kebersihan, keamanan, kenyamanan) di kota kita masing-masing. Meskipun pasti sangat berat untuk menmulainya, dibutuhkan latihan, pengawasan dan perawatan pada awalnya. 

Singapore 5-7 Des 2013 

Selasa, 10 September 2013

Bundaran Simpang Lima



Berada dipusat keramaian memang menyenangkan. Kita bisa menemukan banyak hal yang tidak kita jumpai diseputar rumah atau tempat aktifitas rutin kita.
Hari minggu 8 September 2013, sehabis melaksanakan tugas saya iseng jalan-jalan. Tidak direncanakan karena memang dadakan. Saya sengaja menelpon teman lama yang suka jalan-jalan juga. Dan kebetulan dia sedang berada disalah satu toko buku seputar simpang lima. Sebenarnya hari itu ada even menarik di kota lama, hidden heritage, tapi karena pertimbangan waktu dan lokasi akhirnya saya memutuskan untuk jalan-jalan diseputar simpang lima.
Kami berdua bertemu dipintu masuk mall Ciputra. Kemudian langsung berjalan menuju ke tempat tujuan, bundaran Simpang Lima. Senang melihat tempat ini. Terdengar sedikit aneh , terus terang saya sebagai orang semarang asli dari kecil baru bisa menikmati jalan-jalan santai hari ini.
Bukan berarti saya tidak pernah, hampir tiap hari saya lewat, hanya tidak pernah meluangkan waktu untuk sekedar menyusuri trotoar baru.  Dulu beberapa kali pernah karena ada acara obade atau kirab waktu masih usia sekolah, atau karena terlibat secara langsung acara kerohanian.
Bundaran Simpang Lima dimalam hari sekarang lebih menarik untuk tempat santai. Berbeda dengan pemandangan beberapa tahun yang lalu, terlalu banyak pedagang, dari makanan, pakaian hingga perlengkapan rumah. Terkesan padat tapi tidak efektif untuk dinikmati.
Baru malam ini saya bisa mengamati dari dekat, ternyata ada sebentuk taman yang menghadap pertigaan  lengkap dengan tempat duduk. Seputar trotoar hanya terdapat rental sepeda lampu. Sehingga masih banyak tempat yang bisa dinikmati pejalan kaki layaknya taman kota. Dilingkaran dalam juga terdapat jalan setapak untuk pejalan kaki, yaitu dilapis kedua setelah trotoar. Ada permukaan berbatu dan plester. Saya jadi ingat ada teman  baru dari philipina, wanita yang berprofesi sebagai pengajar pernah bercerita, sekarang dia lebih memilih setiap pagi jogging di Simpang Lima, daripada melakukan treatmill dipusat kebugaran. Dia sempat mengajak saya untuk bergabung.
Meskipun minggu malam ternyata tetap banyak yang menghabiskan waktu disana. Ada beberapa keluarga muda, keluarga sederhana atau pasangan. Kami (saya dan teman wanita) hanya menyusuri setengah lingkaran yang menghadap jalan ahmad yani, sengaja ingin mencoba jalan setapak lapis kedua yang ada dilngkaran dalam. Dan kami jalan kembali dengan berjalan ditengah lapangan. Rumput dilapangan sudah habis, karena selain sepeda ada juga rental sepeda bermotor dengan banyak model. Dari yang bentuk single mini, sampai yang beroda tinggi semacam atv. Hanya saya tidak sempat mengamati lokasi tepatnya rental berada.
Saya senang ada kesempatan untuk jalan-jalan di seputar simpang lima, meskipun belum sempat sewa sepeda. Lain waktu harus dicoba lagi karena kalau hanya berdua kurang seru, harus banyak orang, jadi ada yang bisa mengabadikan aktifitas dan  mengambil beberapa view indah yang ada diseputar bundaran simpang lima.
Berada dipusat keramaian selalu memungkinkan munculnya inspirasi, keinginan dan banyak hal untuk mewujudkan sesuatu dalam hidup kita, dari yang pernah kita nikmati tapi belum sempurna sampai kepada hal yang belum pernah kita alami sama sekali.
Teman saya waktu melihat pasangan muda, keluarga kecil atau keluarga besar, tiba-tiba bilang “kapan bisa seperti mereka, keinginan sederhana tapi susah ya mbak” begitu katanya, sambil kami berjalan menyusuri lapangan. Suatu ungkapan standard yang sering saya dengar, dari beberapa teman wanita seusia saya.
“hehe, iya sih, saya juga pengen, sangat pengen bahkan” jawab saya sambil senyum.
Dalam hati saya sampaikan keinginan dan kerinduan saya terdalam saat ini, kesembuhan sempurna dan utuh, tanpa ada sisa rasa sakit atau efek lain yang menyertai. saya menatap ke langit dan tanpa sadar menitikkan air mata seperti mengakhiri doa singkat. Pencahayaan yang kurang membuat saya leluasa melakukan aktifitas reflek yang singkat itu.
Kami berjalan menuju trotoar untuk menyeberang dan meninggalkan bundaran simpang lima. Sekali lagi cukup senang dengan spontanitas malam itu. Ada yang kurang sih, tidak mengurangi keindahan malam itu, minggu yang cerah di bundaran simpang lima.

Indie *08092013  

Minggu, 18 Agustus 2013

Karimunjawa 6 - 10 Agustus 2013



Pertama kali dapat tawaran wisata ke pulau karimunjawa saya hanya mempertimbangkan setengah hati. Keputusan bulat saya muncul setelah dipameri beberapa hasil jepretan teman yang baru saja pulang wisata bulan juni 2013, yang berperan sebagai ketua rombongan. Ditambah saya juga searching  pemandangan lokasi wisata pulau setempat. Asli suka.
Kemantapan atas keputusan tersebut begitu kuat, bahwa saya bakal menikmati wisata air yang istimewa. Dan benar, beberapa pemandangan yang sempat saya temukan hanya dengan gambar, saya bisa nikmati secara langsung. Tidak ada perubahan yang mengurangi keindahannya. Sampai saya bisa cerita lewat tulisan, meskipun mungkin deskripsinya kurang detail, tapi bisa membantu mengabadikan pengalaman jalan ke pulau indah yang masih menjadi bagian Indonesia.

Kalau ada wisata dengan tambahan pengalaman menarik yang pernah saya nikmati adalah liburan kali ini. Saya tetap bisa melakukan ritual atau gaya hidup sehari-hari saya dirumah, ditempat liburan. Karena biasanya, bagi saya hari libur identik dengan melakukan hal yang diluar hari bukan libur. Bangun siang, menikmati santai dan sebagainya. Tapi justru pengalaman-pengalaman menarik yang saya nikmati selama liburan itu adalah hasil dari konsistensi yang saya lakukan. Menyerahkan sepanjang hari yang akan kami lewati dalam berkat Tuhan, rencana perjalanan dalam tujuan wisata dan orang-orang yang akan kami temui.

Kami berangkat menuju pulau karimun menggunakan kapal express dari Jepara jam 11.40 wib. Sesuai informasi yang kami terima sebelumnya, yaitu 120 menit jarak tempuh perjalanan. Terasa cukup lama karena hampir sepuluh tahun tidak pernah menggunakan transportasi laut. Ada rasa pusing dan mual yang muncul bergantian. Tapi semua sensasi rasa tersebut berhenti dengan sendirinya begitu kapal express mendarat di dermaga pulau tujuan tepat jam 13.40 wib.

Selasa 6 Agustus 2013, Hari pertama menginjakkan kaki dipulau tersebut saya sudah mulai terkagum, ternyata setelah saya mencoba mengingat pemandangan pertama yang saya saksikan adalah yang paling sederhana dibanding tiga pulau yang kami kunjungi hari berikutnya.

Kami menginap di hotel yang lokasinya tepat dibelakang sebuah perairan yang awalnya digunakan sebagai tempat hiu bermukim, hanya pada saat kami berkunjung, hiu sedang direlokasi ketempat lain.
Sore pertama beberapa dari kami, termasuk saya bermain di perairan belakang hotel. Suasana terik tapi  sejuk sudah langsung dapat kami nikmati. Ada sebentuk dermaga standard yang tersambung dengan rumah apung. Dari informasi yang kami terima, kedepan akan difungsikan sebagai pilihan alternatif tempat singgah wisatawan. Kami bercanda sambil menanti sunset di lokasi tersebut untuk diabadikan. Sudah pasti tidak ketinggalan jepret sana jepret sini. Beberapa diantara kami sempat kembali kedermaga tersebut pada tengah malam untuk memancing ikan. Mereka bercerita menyaksikan pemandangan indah rumah apung yang menyala dan sempat melihat bintang jatuh. Sempat menyesal karena tidak bisa menikmati fenomena alam yang sering saya impikan tersebut. Tapi lepas dari itu, tidak mengurangi kebahagiaan.

Rabu 7 Agustus 2013, Hari pertama kami berencana memulai wisata ke pulau tengah dan pulau kecil yang berada di arah timur karimunjawa. Kami ber 16 diangkut menggunakan mobil pick-up dari hotel jam 8 pagi menuju dermaga Legonbajak, yang jaraknya cukup jauh kurang lebih 1 jam perjalanan. Jarak tempuh dari dermaga ke pulau tengah sebagai tujuan pertama 30 menit dalam kondisi air laut yang tenang dan menggunakan kapal nelayan yang biasa digunakan untuk melaut. Sesampainya di Pulau Tengah, kapal yang kami gunakan ditambatkan ke sebuah pohon dipinggir pantai.

Pulau tengah cukup luasa, kita bisa menemui toilet, beberapa tempat berteduh semacam gasebo dan sepasang suami istri dengan rumah panggungnya ditengah pulau berjualan es kelapa muda, minuman hangat, makanan ringan dan makanan instan untuk melayani wisatawan yang memerlukan. Sebenarnya kita bisa berkeliling memilih lokasi yang nyaman untuk kita berlama-lama sekedar bermain pasir putih dipinggir pantai. Tapi waktu itu kami hanya bermain di dua lokasi, beberapa teman yang tidak bisa berenang menikmati pemandangan bawah laut, bermain dan berfoto didekat dermaga. Beberapa dari kami yang suka berenang menikmati pemandangan bawah laut dengan perlengkapan snorkling. Saya sempat harus belajar ulang cara bernafas dengan alat yang wajib saya gunakan supaya bisa terbantu menikmati pemandangan bawah laut dengan leluasa. Tidak membutuhkan waktu lama. Saya sudah langsung bisa berpetualang sesuai apa yang saya bayangkan. Sempat terkendala dengan sepatu yang kegedean, belum lagi alat bantu nafas yang membuat saya terguling-guling dipinggir pantai karena kewalahan mengatasi alat yang memang belum biasa saya gunakan. Setelah menikmati pemandangan bawah laut diseputar pulau tengah, meskipun belum semua karena terlalu luas. Kami serombongan menuju ke pulau kecil sesuai rencana semula. Jarak tempuh terhitung dari pulau tengah kurang lebih 30 menit dalam kondisi air laut tenang.

Kami mendarat di dermaga pulau kecil tempat parkir kapal yang kami tumpangi. Kami serombongan menuju ketepi pantai lewat dermaga sambil membawa barang bawaan kami. Sesuai namanya pulau kecil tidak terlalu luas, tetapi harus extra waspada karena ditepi pantai terdapat banyak bulu babi yang terkenal beracun. Kita bisa menjumpai gazebo, bahkan ada mini bar yang terlihat seperti bangunan baru. Tidak ada informasi apakah karena itu hari libur atau memang bangunan tersebut sudah tidak berfungsi. Tidak ada toilet yang bisa kita temui. Kita bisa berkeliling pulau hanya dengan beberapa menit. Seperti biasa kami selalu memilih dua lokasi singgah untuk berlama-lama, karena memang kami terdiri dari dua kelompok yang suka berenang dan yang tidak bisa berenang. Kami yang suka berenang langsung kembali ke dermaga untuk snorkeling. Kami langsung sibuk dengan tujuan masing-masing, ada yang memancing ada yang berfoto dibawah laut bersama dengan penghuninya. Saya sendiri sibuk berenang sambil terus berharap menemukan penghuni air yang awalnya hanya bisa saya lihat melalui  tv. Mata saya berkeliling mencari penghuni bawah dan ketemu nemo, ikan warna-warni, tiram warna warni, berbagai bentuk dan warna terumbu karang yang indah-indah. Tidak ketinggalan, berkali-kali merasakan asinnya air laut, karena kelelahan lalu salah bernafas, kait pelampung yang saya kenakan juga sempat lepas karena bergelembung terlalu lama dipermukaan air. Kami sangat puas dengan petualangan wisata hari pertama di pulau tengah dan pulau kecil. Jam 6.45 pm kami sudah tiba di hotel.

Kamis 8 Agustus 2013, Hari kedua berwisata darat ke Hutan Mangrov. Pemandangan yang terhampar cukup indah, hanya terasa sangat terik, jadi setelah berkeliling mengitari setengah dari luas hutan tersebut, kami isitirahat cukup lama disebuah jembatan. Hari itu tepat hari pertama lebaran, (hari raya idul adha 1434 H). Kami mendapat undangan dari penduduk setempat yang menjadi guide wisata. Kami menggunakan waktu makan siang untuk singgah, bersilaturahmi dan membangun hubungan yang baik dengan penduduk asli karimunjawa. Kebanyakan adalah suku bugis, Madura dan jawa. Kami di jamu dengan makanan lebaran khas bugis. Ada aneka makanan ringan, sambal goreng ayam, sambal goreng tongkol dan sebagai makanan pendamping adalah buras pengganti nasi, yaitu lontong berbentuk kotak. Nikmat sekali menirukan cara makan disana, semua disajikan dalam satu nampan untuk 4-5 orang, dan semua makan bersama. Ada banyak pohon jambu mete, warna hijau, merah, kuning. Jambu air juga banyak, hanya satu yang saya baru temui disini, jambu air warna putih.

Cukup lama kami singgah selama bergantian di dua rumah penduduk yang masih bersaudara, sebenarnya kalau mengiyakan semua penduduk yang melihat kehadiran rombongan kami, semua mengundang untuk bisa singgah dan bersilaturahmi. Tapi setelah itu rombongan memutuskan untuk melanjutkan perjalanan wisata darat ke tandjong tracking adventure. Ada beberapa tempat yang diakui bernilai sejarah oleh penduduk setempat. Kami diajak berkeliling bukit batu yang cukup terjal dan curam meskipun tidak terlalu luas, tapi lumayan bikin berkeringat puas buat kami yang menyukai petualangan, hitung-hitung sebagai pengganti olah raga selama liburan. Sempat berhenti lama di lokasi yang disebut  goa jepang, untuk berfoto, letaknya dekat batu mandi.

Jumat 9 Agustus 2013 adalah hari terakhir kami berwisata menyebarang ke pulau. Jam 8.30 kami berangkat dari hotel menuju kedermaga. Tujuan kami masih kearah timur Karimunjawa, yaitu pulau Cendikia, yang berdekatan dengan pulau gundul. Informasi dari penduduk setempat yang selalu mengawal perjalanan kami, pulau tersebut biasa digunakan untuk latihan perang. Penduduk setempat yang berlaku sebagai guide wisata jarang menawarkan kunjungan ke pulau Cendikia karena jarak tempuh dan bentuk terumbu karang yang tinggi. Jarak tempuhnya yang cukup lama yaitu 1 jam perjalanan dengan kondisi laut tenang menjadi alasan utama, karena resiko ketidak stabilan gelombang air laut. Alasan berikutnya adalah bentuk terumbu karang yang tinggi-tinggi seperti raksasa diseputar pulau tersebut cukup membuat kuatir karena berpotensi membuat kapal karam jika jurumudi kapal tidak memperhatikan dengan baik kondisi sekitar. Meskipun jika dicermati juga menguntungkan, karena kita bisa dengan mudah mencari karang raksasa untuk menambatkan sauh supaya kapal aman berlabuh.

Dari kapal kedalaman air terkesan dangkal karena kejernihan air dan terumbu karang yang tumbuhnya lebih tinggi besar dibanding pulau yang kami kunjungi sebelumnya. Membuat taman bawah laut serta penghuninya terlihat begitu indah dan sempurna dari permukaan laut. Rasanya sayang kalau harus  melewatkan kesempatan undangan untuk langsung terjun bermain dipemandangan indah tersebut. Tidak menunggu lama saya dan beberapa teman berkeliling melihat lokasi yang lebih dalam untuk terjun ke air untuk menghindari benturan dengan karang. Kejernihan air sangat membantu kami langsung terjun tanpa menunggu waktu lama disamping itu juga karena kapal kami belum menepi. Seperti biasa masing-masing sibuk dengan agendanya. Berkeliling mencari makhluk laut yang ingin ditemui atau mencari view yang bisa diambil untuk mengabadikan moment bawah laut. Senang bisa berkesempatan melihat bintang laut, warna dark blue yang cukup besar dan warna coklat dengan kombinasi broken white. Saya sebenarnya pengen memegang bintang laut warna putih, tapi saya hanya bisa melihat dari kejauhan. Kurang lebih 90 menit kami bermain ditengah laut yang cantik dan tenang ditengah teriknya matahari.

Setelah puas bermain air kami langsung naik ke kapal yang kemudian langsung dibawa ketepi pulau cendikia tepat waktu makan siang. Seperti semula, kami berencana lunch dipulau tersebut dengan menu ikan bakar. Berbagai jenis ikan selain hiu yang kami berhasil dapatkan dengan mudah langsung dikerjakan dengan sigap oleh beberapa teman. Tanpa komando, masing-masing kami mengambil peranan, beberapa mencari sabut kelapa dan batang kering untuk bahan bakar, beberapa menyiapkan kayu panjang sebagai penjepit ikan untuk dibakar. Dan ada yang menyiapkan bumbu penyedap sederhana hanya dari kecap, potongan bawang merah dan cabe. Semua terlihat begitu sibuk dan tidak sabar menanti waktu makan bersama. Setiap ikan yang sudah siap santap langsung diserbu bersama dan ludes. Kami semua begitu lahap menikmati lunch ala alam, ada yang menyantap hanya ikan dan sambal, ada yang menggunakan nasi, ada juga yang menggunakan buras. Nasi kotak yang sengaja kami bawa untuk bekal tidak semuanya tersentuh, karena lebih tertarik dengan menu on the spot. Menyenangkan sekali bisa terlibat secara langsung kesibukan langka yang baru saya nikmati siang itu. Unforgettable moment. Pengalaman yang sangat indah.

Setelah membereskan segala sesuatu kami kembali ke kapal untuk melanjutkan perjalanan ke pulau kecil yang berjarak 30 menit dari pulau cendikia dengan kondisi laut tenang. Kami tidak bosan untuk kedua kalinya mendarat di pulau kecil yang waktu itu sekitar pukul 2.40 pm. Beberapa diantara kami adalah pemancing ikan, dan lokasi pulau kecil sangat menyenangkan untuk memancing. Disamping itu juga cukup teduh untuk hanya bermain atau berbaring dipinggir pantai. Beberapa diantara kami sengaja menghabiskan waktu sisa untuk beristirahat, tidur dan sekedar bermain. Kami mengambil lokasi yang sama seperti hari pertama kunjungan kami, yaitu sisi kiri dermaga. Kami langsung mencari posisi masing-masing untuk berbaring. Ada yang beralaskan pelampung atau jaket, ada juga yang membentuk pasir putih sebagai alas kepala. Laut yang tenang, langit cerah serta udara yang sejuk dan teduh, sangat melengkapi kesempurnaan dan keindahan suasana liburan kami dipulau kecil. Kami kembali ke dermaga Legonbajak tempat transit kapal jam 5.20 pm, sempat menjumpai kapal tanker navareno dari samarinda yang mengangkut air bersih. Dan mampir ke pemilik guest house yang berdekatan dengan dermaga.
Kami meninggalkan karimunjawa menggunakan kapal express menuju ke kota Jepara. Perjalanan laut  kembali tepat waktu meskipun keberangkatannya sempat molor satu jam dari waktu yang sudah ditentukan, karena ada hal teknis.

Kami benar-benar menikmati liburan yang sempurna di pulau karimunjawa. Meskipun tidak semua pulau kami kunjungi, tapi menurut pendapat teman yang beberapa kali menikmati keindahan pulau karimunjawa, wisata kami saat ini tergolong istimewa, karena kami dibawa ke pulau yang jarang dikunjungi wisatawan lain. Kebanyakan pulau terletak dibarat pulau karimunjawa. Total pulau yang ada kurang lebih 30 pulau, termasuk salah satu pulau besar yang dibeli oleh salah satu perusahaan swasta besar di Indonesia. Kemungkinan akan banyak investor atau konglomerat yang akan menyusul berinvestasi di tempat wisata yang sangat potensial tersebut. Saya pun berandai-andai kalau punya banyak uang, hehehe.
Setiap menit perjalanan laut dan darat bisa kami nikmati, meskipun menggunakan transportasi yang serba sederhana, tapi itulah kebahagiaan, bisa menikmati segala yang tersedia didepan mata sebagai hal terbaik dengan ucapan syukur.

Semua kemantapan saya berwisata dalam berkat dan perlindungan Tuhan terkonfirmasi dengan dianugerahi cuaca cerah, kekompakan rombongan dan laut tenang tanpa gelombang. Ketenangan laut jika diperhatikan dari pantai lebih mirip kolam renang raksasa. Bahkan kami dimanjakan dengan fenomena alam yang boleh kami saksikan, bintang jatuh dimalam pertama kami datang, serta pelangi pada waktu kami dalam perjalanan menuju dermaga untuk meninggalkan karimunjawa. Berbanding terbalik dengan kabar cuaca dan gelombang tinggi yang kami terima sebelumnya bahkan sekembali kami ke kota Semarang, menurut BMKG gelombang kembali tinggi antara 2-3 meter. Pengalaman pertama yang membahagiakan.
Karimunjawa menjadi pengalaman pertama kedua saya setelah pengalaman pertama yang pertama ditahun ini, menyaksikan keseruan java jazz Maret 2013 lalu.

*17082013

Abigail Indiana

Foto saya
I am a product of GOD's Grace. Single, Simple person but will always be an extraordinary person. Just a nature, Truth lover, jazzy lover, coffee lover. Selalu mendefinisikan setiap fase hidup dengan ucapan syukur. I love my beloved Savior, He loves me unconditionally.