Minggu, 03 Mei 2020

MENYAPA MALAM 3


Hari ini aku menyapa
gelap dan sunyi malam
tanpa rasa dendam
Bukan tentang lebih suka,
karena malam bukan pilihan
Aku belajar tentang gelap...
yang tidak selalu berarti diam
Melainkan suatu masa tanpa cahaya
Harus dilewati, harus dijalankan

Tidak memberi jeda kepada indera,
untuk berlatih peka,
menjadikanku terbiasa.
Dan mengenalnya,
membentuk rasa nyaman.
Dalam derajat tertentu,
aku bisa menciptakan keindahan
dari rasa syukur
Bahkan di kesunyian
Membuatku lebih nyaring bersenandung
Karena tersedia kekuatan yang melimpah ruah.

Mendengar sapaan,
dari kedalaman sukma
Mampu melepas tumpukan rasa
Yang tertawan di dinding jiwa
Sapa yang mengingatkan
bahwa cahaya itu tetap disana,
menuntun dan memaniku berjalan
Meskipun tidak terlihat

*Indie 26/02/18

Kamis, 05 Maret 2020

RAYAKAN HIDUP

Beberapa tahun lalu, tepatnya September 2013 saya ada kesempatan main ke Bandung selama 3 hari 2 malam, bersama rombongan karyawan tempat adik saya bekerja. Ada beberapa tujuan, salah satunya Transmart, yang pada waktu itu masih sangat hapening, jadi bisa dibayangkan, sangat ramai dan berjubel dengan pengunjung, dari dalam dan luar kota. Saya lebih memilih menikmati pertunjukan yang sudah dipersiapkan sesuai jadwal, pada hari dimana kami ada disana, dibanding memacu adrenalin dengan wahana yang tersedia. Di samping karena waktu itu sedang recovery pasca operasi siku tangan kiri yang dislokasi tulang karena jatuh. Tapi alasan sebenarnya memang saya kurang tertarik dengan wahana, karena reaksi psikologi ke tubuh sangat berlebihan, manifestasinya bisa pusing, mual, dan muntah, kata yang tepat mungkin adalah nyali yang ciut. 

Dari beberapa pertunjukan yang saya nikmati ada yang sangat menarik perhatian saya, yaitu pertunjukan bertabur talent, yang dikemas dalam bentuk drama. Kalau mungkin anda mengingat acara Indonesia's Got Talent di salah satu siaran televisi swasta, mungkin ada beberapa diantara mereka adalah hasil audisi yang dipekerjakan disana, tapi saya hanya menebak, karena ada beberapa adegan pertunjukan oleh pemain ahli yang pernah saya saksikan. Sangat menegangkan (sebenarnya) tapi karena ada cerita jadi menarik. Waktu adalah kali pertama saya menonton pertunjukan semacam itu secara langsung, yang membuat saya menangkap beberapa hal yang sangat mirip dengan kehidupan sehari-hari. 

Ada seorang pemimpin pertunjukan yang berperan sebagai pemandu acara sekaligus pengatur ritme pertunjukan. Hal yang juga kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Di keluarga, di lingkungan sosial, komunitas atau pekerjaan, akan selalu ada dan butuh seseorang yang memainkan peran serupa. Seorang pemimpin, pengatur, koordinator dan pemandu kebersamaan. 

Ada waktu dimana kita mendapat kesempatan menjalani peran seperti itu, kadang kita hanya bisa menanti dan berharap mendapat kesempatan itu. Mungkin kita lebih sering melihat orang lain yang diberi kesempatan itu, atau menyaksikan beberapa orang saling berebut untuk mendapatkannya. 

Ada beberapa yang bermain tali dalam pertunjukan itu, yang harus merambat pelan naik ke atas dengan seutas tali, menggenggamnya erat, menarik tubuh, melawan gravitasi, untuk menanjak, di pertengahan jalan, kadang tali akan digulung membelit tubuh mereka, lalu berayun dan berpindah ke tali lain untuk meraih satu puncak pertunjukan. Mereka harus melakukan setiap gerakan dengan tepat, jika tidak mereka akan cidera. 

Sama seperti hidup. Kita berlomba mendorong diri, menuju ke atas, memanjat tali kehidupan, meraih kemajuan dengan prestasi pendidikan, jenjang karir, dll. Adakalanya jalur itu tidak lancar, kadang ia berbelit, kadang berayun dan memaksa kita pindah menggenggam tali lain. 

Ada juga pemain keseimbangan, biasanya mereka berpasangan. Dua orang, saling mendukung, saling menguatkan. Kadang satu di bawah, yang lain bertopang di atasnya. Namun keduanya adalah pasangan, yang harus memerankan bagian masing-masing sebaik dan setepat mungkin, sesuai kesepakatan untuk tujuan keberhasilan pertunjukan. 

Sama seperti hidup, manusia selalu butuh manusia lain untuk berpasangan, butuh dukungan, dorongan, sandaran untuk bisa menjulang. Kadang menjumpai situasi tidak sepaham, tapi harus tetap berjalan karena kesepakatan keduanya dan tujuan yang sama. 

Bagian dari pertunjukan itu, ada pemain roda baja bertopang di ketinggian. Di dalam roda itu dia berlarian, berputaran, berloncatan ke depan, balik ke belakang. Kadang dia membuka mata, tidak jarang lompatan dilakukan dengan mata terpejam. Hanya berpegang pada sebuah keyakinan. 

Dalam hidup pun demikian. Kita harus terus berputar dalam roda dunia, dan kita di dalamnya berlarian. Berusaha mengikuti putaran, terkadang mempercepat rotasinya, tidak jarang tersengal karena kelelahan. Kadang kita dapat berjalan penuh kepastian, di lain waktu kita harus rela mengikuti laju roda berdasar keyakinan. 

Masih dalam pertunjukan, didalamya ada joker sang pelawak, yang muncul di tengah-tengah pertunjukan dengan, pakaian unik dan tingkah konyol, mereka menyediakan diri untuk ditertawakan. Meskipun mungkin di balik make-up tawa manis khas badutnya ada derita, dia tetap harus menjalankan tugasnya, memecah suasana menjadi kembali santai, membuat penonton tertawa, dan tetap menikmati pertunjukan yang sempurna dengan bahagia sampai selesai. 

Begitu juga hidup. Kadang kita perlu mentertawakan penderitaan kita, melihat sekeliling, memperhatikan gaya hidup sesama, pandangan mereka, bahkan cara perpakaian mereka lalu tertawa. Untuk kembali menetralkan bahwa hidup tidak harus se-ideal yang kita mau, karena yang kita perlukan adalah kekuatan untuk bukan sekedar melanjutkan hidup, tapi menyelesaikannya dengan baik, setepat arahan sang pemimpin kehidupan. 

Saya menjumpai berberapa adegan dan peran dalam pertunjukan tersebut mirip dengan keseharian hidup. Bahwa sesungguhnya hidup kita mirip dengan sebuah pertunjukan dengan kisah sepanjang hidup didunia ini. Peran apapun yang kita ambil dalam hidup, usahakan tidak lepas dari arahan sang pemimpin atau pemandu kehidupan. Mengucapkan, menyuarakan dan melakukan gerakan-gerakan dengan tepat dan seharusnya, jika tidak akan membahayakan diri sendiri dan orang-orang disekitar kita. Ada proses yang menyulitkan yang membuat kita menangis. Ada waktu dimana harus mentertawakan penderitaan dari sepenggal kisah yang sementara. Tanpa kehilangan sebuah keyakinan, bahwa hidup kita akan berakhir dengan indah sesuai rencana pemimpin kehidupan. Dan pada akhirnya, peran apapun yang kita pilih, usahakan menyisakan akhir yang bahagia. Bagi kita maupun orang lain disekitar kita, di dunia. 

Nikmati prosesnya, rayakan setiap waktu dan kesempatan yang kita miliki, sehingga semakin hari kita bertumbuh menjadi pribadi yang pandai mencari alasan untuk bersyukur, bukan mengeluh.

*Indie 01/01/2017

Selasa, 14 Januari 2020

KIAN MEMBURUK

Rancangan Tuhan berbeda dengan rancangan manusia. Tuhan memiliki rancangan yang sempurna, tetapi manusia tidak dapat menyelami pikiran-Nya dan seringkali membuat kita salah mengerti atas rencana Allah dalam hidup kita. 

Sama seperti umat Israel dalam Keluaran 5:1-23. Awalnya mereka merasakan rencana Allah sangatlah tidak tepat karena justru menimbulkan persoalan yang makin hari makin berat dan keadaan kian memburuk. 

Bahkan Musa sendiri merasa keputusan Allah memilihnya sebagai utusan adalah sesuatu yang kurang tepat, karena dipersalahkan menjadi biang atas penderitaan yang dirasakan umat Israel. 

Tapi ketika semua rencana Tuhan itu dijalani dengan taat, maka Israelpun muncul sebagai umat pemenang, bahkan lebih dari pemenang. Karena mereka bukan hanya berhasil keluar dari tanah Mesir namun juga sukses masuk ke tanah perjanjian. 

Hal yang sama sering terjadi dalam hidup kita saat ini. Sebagai umat yang telah dibebaskan dari dosa dan hidup dalam ketaatan. Waktu kita melakukan kebaikan atau hal apapun sebagai wujud ketaatan, seharusnya kita tidak terkejut ketika keadaan berubah kian memburuk sebelum itu berubah menjadi baik. Karena hal itu tidak membuktikan bahwa kita telah melakukan sesuatu yang salah, hanya sebagai pengingat bahwa kita membutuhkan Allah untuk menyelesaikan segala sesuatu. Karena Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Tuhan mau mengolah segala yg terlihat kacau balau, rusak, semrawut dlm hidup kita, dan menjadikannya untuk kebaikan. 

Dalam bahasa asli kebaikan adalah Agathos yang berarti rohani dan karakter, sangat berbeda jauh dengan kenyamanan yang mungkin selama ini kita bayangkan. 

Memberi kenyamanan (miskin jadi kaya, sakit jadi sembuh, hutang lunas, naik jabatan, dll) adlh hal yang mudah bagi Allah, bahkan tidak membutuhkan kerjasama kita. Tapi fokus Allah adalah iman dan karakter kita bertumbuh. 

Mari kita setiap hari menggali kebenaran yang oleh amsal digolongkan sebagai harta yang tersembunyi, yaitu hikmat dan pengetahuan.


Akulah TUHAN, Aku akan membebaskan kamu dari kerja paksa orang Mesir dan menebus kamu dengan tangan yang teracung dan dengan hukuman-hukuman yang berat.
Keluaran 6:6

*24092019

Kamis, 09 Januari 2020

MENYAPA MALAM 2

(Tentang Aku dan Kehilangan)

Baru beberapa waktu yang lalu aku melatih diri menyapa malam,
Menyebutnya sebagai keindahan Salah Satu proses rotasi bumi

Malam itu menjadi Malam paling mencekam dan menakutkan melebihi malam-malam yang pernah aku catat
Rasa yang mematikan saling beradu,
Rasa yang kusebut takut,
Rasa yang kusebut kecewa,
Rasa yang kusebut Sesak

Tiba-tiba aku menemukan kedalaman makna sebuah frase yang selama ini terlewatkan, ketika membacanya
langit runtuh,
Awan gelap,
dan ditinggalkan sendiri

Terjaga sepanjang malam, mengharap pagi, dan kembali takut,
berharap malam segera datang hanya untuk sebuah kesesakan.

Rasa kehilangan yang begitu membebani ini ada...
karena aku merasa memiliki dan berhak atas sesuatu yang adalah titipan-Mu

Ketika dengan cara apapun diambil dari padaku
kusebut itu sebagai musibah,
kusebut itu sebagai ujian,
kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan penderitaan

Malam itu penyerahan menjadi sebuah intimidasi
Bahkan keahlianku mengampuni pun tidak melelehkan pekatnya tuduhan dalam batin
Air matapun tidak mampu menggambarkan rasa yang tak terpahami

Kalau beberapa waktu sebelumnya aku masih berani berucap

Dalam gumam dan doa kutolak sakit, kutolak kekurangan,
Supaya aku tidak dinilai seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku
Menuntut keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika :
Aku rajin beribadah,
Aku rajin melayani,
Dengan segenap hati aku taat melakukan kebenaran yang aku tahu
maka selayaknya derita menjauh dariku dan hanya kenikmatanlah yang mendampingiku

Membawa deretan keinginan dalam doa dan permohonan,
Bahwa Dia yang berdaulat akan membalas “kelakuan baikku”,
dan menolak keputusan-Nya yang tidak sesuai keinginanku,

Padahal setiap hari aku berucap
setiap hembusan nafasku untuk memuliakan-Mu
Bahwa hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah
Bahwa segala milikku adalah milik-Mu

Kalau hari ini aku masih kuat, Karena
Kembali diperhadapkan pada arti "Berserah" dalam dimensi utuh
Tanpa daya, ingin dan apapun yang tersisa dari seorang aku
Selain kata yang tersumbat dalam batin
"Aku berserah, yang kali ini berarti aku tidak tahu, aku tidak mampu, aku bukan Engkau”

Hanya Engkau saja Tuhan... dan aku hanya ciptaan... lalu bersujud

*30/04/2016

Selasa, 29 Oktober 2019

PENERIMAAN


Hidup adalah proses belajar dan proses perubahan, ketika kita merasa lelah kemudian memutuskan untuk berhenti belajar dan berubah artinya kita sedang menghentikan hidup.
Menyadari kekurangan menjadi satu alasan baik yang mendorong kita merasa butuh untuk belajar dan berubah. Kita akan rajin mengevaluasi kekurangan kita dan semangat mencermati sisi baik orang lain dan belajar dari kebaikan itu. Hal semacam ini menawarkan satu pola yang membuat hidup kita bersemangat. Bahkan dalam proses belajar, kita mendapat bonus keahlian menjadi pendengar yang baik, kemampuan mengelola emosi, mengelola reaksi dan mengendalikan diri melalui perkataan serta perilaku.
Sayangnya, tidak banyak orang yang menerapkan pola belajar semacam ini, tetap memiliki alasan dengan kata yang sama, hanya beda penempatan “mencari sisi buruk orang lain dan mengevaluasinya sebagai kekurangan”. Sensasi yang ditimbulkan hanya kepuasan sesaat jika kebetulan kita bisa menepuk dada karena merasa lebih baik, tapi hasilnya sudah jelas bahwa hal itu tidak bermanfaat untuk mengubah hidup, jika kita tidak belajar apapun.
Saya sering terlibat perbincangan dengan beberapa (banyak) orang, baik yang sudah lama kenal maupun yang baru kenal. Saya sering terbentur dengan perbedaan cara pandang, 
Meskipun mungkin tidak terlalu banyak yang bisa kita jumpai disekitar kita, paling tidak itu adalah fakta yang menjadi hasil dan bonus dari orang yang tidak pernah berhenti belajar untuk berubah.
Beberapa dari kita paham, ketika kita masuk dalam sebuah kelompok atau komunitas atas nama apapun, yang didalamnya menawarkan penerimaan pasti akan menghasilkan hubungan baik dan langgeng.
Saya pernah tergabung dalam sebuah obrolan yang pada awalnya membuat saya merasa nyaman dan nyambung, bergerak dan mengikuti aliran spontan, seru dan natural, menurut penilaian saya, hal itu mungkin karena didalamnya ada unsur penerimaan antara satu dengan yang lain, sehingga dalam beberapa saat saya sudah belajar banyak hal.
Itulah kehidupan, penerimaan tanpa syarat antara satu dengan yang lain, akan membuat tiap-tiap individu merasa nyaman untuk belajar banyak hal dan mengalami perubahan.
Kita bisa menerima orang lain dengan kasih karena kita merasa sudah diterima dengan kasih oleh sang maha kasih, dan kasih yang sempurna selalu mampu menyatukan segala bentuk perbedaan. Sehingga tiap-tiap orang akan menjadi teladan perubahan bagi siapapun yang membutuhkan.

Indie 11/10/2019

Rabu, 25 September 2019

MENGHARGAI PEMBERIAN


Tuhan menciptakan segala sesuatu dengan kualitas sungguh amat baik. Meskipun pada waktu Tuhan mencipta hanya dengan perkataan tapi Dia begitu detail memperlengkapi setiap ciptaan-Nya dengan sesuatu yang spesial, sehingga mereka dapat menikmati proses keberlangsungan hidup. Lingkungan dimana mereka hidup, cara memanfaatkan keberdayaan diri dan fungsi yang dimiliki bagi sesama, semua sudah Dia tetapkan dengan begitu rupa.

Sebut saja kelelawar, diciptakan dengan jenis mata faset, oleh ilmu pengetahuan mata faset dijelaskan sebagai mata majemuk yang umumnya dimiliki Arthropoda seperti mata serangga maupun mata krustasea, yaitu mata dengan bentuk unit berulang (ommatidia : mata omaatidium) yang masing-masing memiliki fungsi sebagai visual reseptor terpisah, untuk menangkap berkas-berkas cahaya. Jenis mata tidak memungkinkannya untuk melihat jauh, apalagi pada malam hari. Uniknya, Tuhan  mencipta kelelawar justru untuk hidup di tempat gelap dan terbang pada malam hari. 
Bayangkan jika kelelawar berpikir bahwa sumber kekuatannya hanya pada penglihatan. Ia pasti tidak akan pernah terbang karena takut menabrak benda-benda keras yang dapat melukainya. Ia tidak dapat mencari makanan dan tempat tinggal, lalu akhirnya mati. 
Ternyata Tuhan  memberinya kelebihan lain, yang disebut ekolokasi, suatu kemampuan memperkirakan jarak benda dengan mendengarkan pantulan bunyi yang berfrekuensi tinggi, sehingga kelelawar dapat terbang cepat tanpa takut menabrak berbagai benda.

Dan Kucing, yang sering kita jumpai, dialam aslinya, untuk mempertahankan hidup ia harus berburu pada malam hari, untuk itu kucing membutuhkan kemampuan untuk melihat dengan baik dalam kondisi gelap. Dan dia bisa melakukannya dengan sangat baik, jauh melebihi manusia.
Kemampuan itu dimiliki kucing karena di bagian belakang mata kucing ada tapetum lucidum. Organ yang mirip cermin ini dapat memantulkan cahaya yang membantu kucing untuk melihat dalam gelap. Tapetum lucidum ini juga membuat mata kucing dapat menyala di dalam gelap.
Tetapi ini tidak berarti kucing bisa melihat dalam gelap gulita. Kucing tetap memerlukan cahaya walau tidak banyak. Kucing hanya membutuhkan sekitar 20 persen cahaya yang dibutuhkan manusia untuk melihat.
Dengan kemampuan yang luar biasa ini, ia bisa menangkap buruannya yang berkeliaran pada malam gelap atau mencari yang bersembunyi di dalam kegelapan, kucing tanpa memerlukan bantuan cahaya.

Menurut penelitian kucing juga tergolong hewan dengan pendengaran yang sangat peka, lebih dari pada manusia dan anjing. Pendengaran anjing memang lima kali lebih tajam dari manusia, tetapi pendengaran kucing dua kali lebih tajam dari anjing.
Jika anjing bisa mendengar suara yang sangat rendah, kucing bisa melakukan lebih baik. Jika anjing bisa mendengar suara yang sangat tinggi, kemampuan kucing lebih baik lagi. Kupingnya tidak hanya mampu mendengar suara yang sangat pelan, tetapi juga suara sangat tinggi, yang tidak dapat di terima manusia.

Kemampuan ekolokasi pada kelelawar, tapetum lucidum pada kucing, makanan untuk burung gagak dan pakaian indah untuk bunga bakung, adalah hal yang menunjukkan bahwa Tuhan selalu memperlengkapi setiap ciptaan sesuai dengan kebutuhan yang mereka perlukan untuk hidup. 

Jika ciptaan lain DIA perlengkapi begitu sempurna, apalagi manusia (kita), yang diciptakan bukan hanya dengan perkataan, tapi dengan sebuah perencanaan yang matang, Tuhan pasti juga akan memperhatikan dan memperlengkapi kita dengan segala hal terbaik.

Jangan habiskan waktu hanya untuk mempertanyakan apa yang tidak kita miliki. 

Tuhan tidak pernah salah menempatkan kita dengan berbagai persoalan yang ada. DIA menyediakan segala hal yang melampaui keterbatasan kita, sehingga kita cakap menanggung segala sesuatu dan hidup kita menyatakan kebesaran-NYA.

Indie 22/11/18 




Selasa, 24 September 2019

we can COPY PASTE - but we can't COPY TASTE


Manusia diciptakan dengan perencanaan yang sangat matang. Setiap individu memliki keunikan dan kemampuan yang berbeda-beda, sesuai dengan ketentuan yang Allah tetapkan.Tetapi ada satu hal yang semua orang tanpa terkecuali mampu melakukannya, yaitu “meniru”. Sependiam apapun orangnya akan bisa menirukan, paling tidak, gerakan dan gaya bahasa waktu menceritakan seseorang kepada orang lainnya. Setiap kali terlintas dalam pikiran tentang hal ini, saya selalu kagum, betapa hebat dan jeniusnya orang dalam hal tiru meniru. Apalagi ketika menyaksikan komedian yang melakukannya, saya bisa dibuat terkagum-kagum, meskipun berbalut tawa tanpa henti. Bahkan bisa dsimpulkan bahwa sesuatu yang mampu dilakukan dengan baik oleh semua orang adalah “tiru-meniru”. 

Jika ditarik kembali dari awal penciptaan, ternyata meniru adalah tugas hidup manusia dalam dunia ini. Artinya, dalam kehidupan ini, kita semua senantiasa meniru dalam segala hal. Karena kita diciptakan segambar dan serupa dengan Sang Pencipta. 

Meniru memang merupakan hal yang sangat mudah dilakukan oleh semua kalangan.Tetapi perlu kita ketahui, bahwa pada waktu meniru diperlukan kejelian. Meniru itu tidak selamanya akan mendatangkan sesuatu yang lebih baik, efisiensitas atau pun produktifitas. Bahkan, terkadang kebiasaan meniru sering menjadikan sejumlah orang malas untuk berpikir (pasif), sehingga semua tindakannya serba instan. 

Seorang peniru yang tidak jeli dan tidak pandai memilah akan berakibat pada kehilangan jati diri (keunikan dan otentisitas) yang mereka miliki. Sifat baik yang dimiliki adalah obsersif, dengan tekun mengamat-amati, obyek tiruan dengan cermat. Selalu ingin meniru semua tindakan orang lain baik itu berupa gaya berpakaian, gaya bahasa, gaya menyanyi, tingkah laku, pola pikir dan sebagainya. Obyek tiruan bisa dari berbagai kalangan, komedian, penyanyi, pewarta, motivator, pastor, sampai penulis. Sehingga tidak jarang ditemukan sang imitator lebih baik dan lebih dikenal dari sang master. Karena imitator memiliki olah vokal dan teknik bernyanyi yang lebih baik, jika yang ditiru seorang penyanyi atau gaya bahasa dan intonasi yang lebih baik, jika yang ditiru seorang pewarta, motivator, dll. Tapi yang menjadi catatannya adalah semirip apapun kita copy-paste, kita tidak akan pernah bisa copy-taste, karena untuk bisa copy-taste, seseorang harus bertukar jiwa. 

Taste biasanya diidentikkan dengan makanan dan minuman, tapi tidak beda jauh karena memang digolongkan sebagai kata sifat yang artinya terhubung dengan cita rasa orang yang menikmati. 

Saya pernah mengikuti sebuah mini seri film berjudul, janji di youtube, yang diperankan Darius Sinathriya (Iko), Ringgo Agus Rahman (Ujo), dan Widika Sidmore (Naya). Iko dan Naya adalah pasangan suami istri yang saling mencintai, dengan caranya masing-masing, tapi hal itu tidak bisa mewujudkan keharmonisan hubungan mereka. Iko seorang yang lembut, romantis, pandai dan perfeksionis, sehingga tidak pernah melibatkan Naya dalam permasalahannya dari hal kecil sampai besar, dan lebih memilih bercerita setelah semua selesai bahkan setelah dia mengambil keputusan. Dengan maksud tidak ingin merepotkan dan membuat istrinya ikut pusing. Disisi lain, Naya ingin perannya sebagai seorang istri dimanfaatkan, bukan hanya sebagai pasangan yang terlihat baik-baik tanpa tahu apapun. 

Ujo adalah seorang yang membuat segala sesuatu mudah, tidak pikir panjang dan tidak bisa membedakan situasi. Karakternya sangat berlawanan dengan Iko, tapi mereka bersahabat sejak lama. Naya tidak terlalu menyukai Ujo karena sering muncul dalam situasi yang tidak tepat. 

Singkat cerita dalam sebuah acara minum “teh bersejarah” yang Ujo curi dari klien Iko, mereka bertukar jiwa. Dari sinilah sejarah berbalik, Naya yang tidak terlalu menyukai Ujo mulai tertarik untuk berbagi cerita hatinya. Naya melihat Iko dalam wujud yang berbeda, tapi justru membuat Naya nyaman untuk bercerita apapun, termasuk hal yang tidak terungkapkan tentang perasaannya kepada suaminya. Dari sini Iko yang ada dalam wujud Ujo jadi lebih memahami apa yang Naya inginkan dan apa yang seharusnya dia lakukan untuk istrinya. 

Karena diperankan dengat sangat baik oleh keduanya, membuat saya memahami bahwa dalam pertukaran jiwa, seseorang tidak memerlukan effort apapun untuk meniru, sangat natural, tepat, tidak kurang tidak lebih. Karena memang jiwanya sudah digantikan. 

Sudah menjadi ketetapan Allah dari awal “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita” bahkan tidak hanya berhenti pada kesamaan wujud, tapi dilanjutkan dengan kalimat perintah untuk berkuasa, artinya memiliki cara atau pola memimpin dan berkuasa yang sama dengan Dia, hematnya adalah karakter. Hadirnya sang penebus didunia juga salah satunya untuk ditiru oleh umatnya. Kita harus melakukan hal tersebut dari lahir sampai akhir usia. Meskipun seringkali merasa gagal untuk meniru karakternya karena cara kita yang salah. 

Sama halnya dengan hidup kita dalam meneladani karakter Pencipta, upaya kita akan sia-sia jika hanya berhenti pada meniru saja, tapi kita harus mengijinkan Dia masuk dan menguasai hidup kita (roh, jiwa dan tubuh), untuk menukar jiwa kita yang rentan dan rapuh karena dosa, dengan jiwa-Nya yang illahi. Tanpa pertukaran jiwa mustahil kita bisa meniru senatural atau setepat yang Dia kehendaki. 

Kita tidak akan kehilangan jati diri dan keunikan kita, sebaliknya akan menemukan jati diri sejati yang semakin disempurnakan.

Indie 25/06/19

Abigail Indiana

Foto saya
I am a product of GOD's Grace. Single, Simple person but will always be an extraordinary person. Just a nature, Truth lover, jazzy lover, coffee lover. Selalu mendefinisikan setiap fase hidup dengan ucapan syukur. I love my beloved Savior, He loves me unconditionally.