Selasa, 14 Januari 2020

KIAN MEMBURUK

Rancangan Tuhan berbeda dengan rancangan manusia. Tuhan memiliki rancangan yang sempurna, tetapi manusia tidak dapat menyelami pikiran-Nya dan seringkali membuat kita salah mengerti atas rencana Allah dalam hidup kita. 

Sama seperti umat Israel dalam Keluaran 5:1-23. Awalnya mereka merasakan rencana Allah sangatlah tidak tepat karena justru menimbulkan persoalan yang makin hari makin berat dan keadaan kian memburuk. 

Bahkan Musa sendiri merasa keputusan Allah memilihnya sebagai utusan adalah sesuatu yang kurang tepat, karena dipersalahkan menjadi biang atas penderitaan yang dirasakan umat Israel. 

Tapi ketika semua rencana Tuhan itu dijalani dengan taat, maka Israelpun muncul sebagai umat pemenang, bahkan lebih dari pemenang. Karena mereka bukan hanya berhasil keluar dari tanah Mesir namun juga sukses masuk ke tanah perjanjian. 

Hal yang sama sering terjadi dalam hidup kita saat ini. Sebagai umat yang telah dibebaskan dari dosa dan hidup dalam ketaatan. Waktu kita melakukan kebaikan atau hal apapun sebagai wujud ketaatan, seharusnya kita tidak terkejut ketika keadaan berubah kian memburuk sebelum itu berubah menjadi baik. Karena hal itu tidak membuktikan bahwa kita telah melakukan sesuatu yang salah, hanya sebagai pengingat bahwa kita membutuhkan Allah untuk menyelesaikan segala sesuatu. Karena Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Tuhan mau mengolah segala yg terlihat kacau balau, rusak, semrawut dlm hidup kita, dan menjadikannya untuk kebaikan. 

Dalam bahasa asli kebaikan adalah Agathos yang berarti rohani dan karakter, sangat berbeda jauh dengan kenyamanan yang mungkin selama ini kita bayangkan. 

Memberi kenyamanan (miskin jadi kaya, sakit jadi sembuh, hutang lunas, naik jabatan, dll) adlh hal yang mudah bagi Allah, bahkan tidak membutuhkan kerjasama kita. Tapi fokus Allah adalah iman dan karakter kita bertumbuh. 

Mari kita setiap hari menggali kebenaran yang oleh amsal digolongkan sebagai harta yang tersembunyi, yaitu hikmat dan pengetahuan.


Akulah TUHAN, Aku akan membebaskan kamu dari kerja paksa orang Mesir dan menebus kamu dengan tangan yang teracung dan dengan hukuman-hukuman yang berat.
Keluaran 6:6

*24092019

Kamis, 09 Januari 2020

MENYAPA MALAM 2

(Tentang Aku dan Kehilangan)

Baru beberapa waktu yang lalu aku melatih diri menyapa malam,
Menyebutnya sebagai keindahan Salah Satu proses rotasi bumi

Malam itu menjadi Malam paling mencekam dan menakutkan melebihi malam-malam yang pernah aku catat
Rasa yang mematikan saling beradu,
Rasa yang kusebut takut,
Rasa yang kusebut kecewa,
Rasa yang kusebut Sesak

Tiba-tiba aku menemukan kedalaman makna sebuah frase yang selama ini terlewatkan, ketika membacanya
langit runtuh,
Awan gelap,
dan ditinggalkan sendiri

Terjaga sepanjang malam, mengharap pagi, dan kembali takut,
berharap malam segera datang hanya untuk sebuah kesesakan.

Rasa kehilangan yang begitu membebani ini ada...
karena aku merasa memiliki dan berhak atas sesuatu yang adalah titipan-Mu

Ketika dengan cara apapun diambil dari padaku
kusebut itu sebagai musibah,
kusebut itu sebagai ujian,
kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan penderitaan

Malam itu penyerahan menjadi sebuah intimidasi
Bahkan keahlianku mengampuni pun tidak melelehkan pekatnya tuduhan dalam batin
Air matapun tidak mampu menggambarkan rasa yang tak terpahami

Kalau beberapa waktu sebelumnya aku masih berani berucap

Dalam gumam dan doa kutolak sakit, kutolak kekurangan,
Supaya aku tidak dinilai seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku
Menuntut keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika :
Aku rajin beribadah,
Aku rajin melayani,
Dengan segenap hati aku taat melakukan kebenaran yang aku tahu
maka selayaknya derita menjauh dariku dan hanya kenikmatanlah yang mendampingiku

Membawa deretan keinginan dalam doa dan permohonan,
Bahwa Dia yang berdaulat akan membalas “kelakuan baikku”,
dan menolak keputusan-Nya yang tidak sesuai keinginanku,

Padahal setiap hari aku berucap
setiap hembusan nafasku untuk memuliakan-Mu
Bahwa hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah
Bahwa segala milikku adalah milik-Mu

Kalau hari ini aku masih kuat, Karena
Kembali diperhadapkan pada arti "Berserah" dalam dimensi utuh
Tanpa daya, ingin dan apapun yang tersisa dari seorang aku
Selain kata yang tersumbat dalam batin
"Aku berserah, yang kali ini berarti aku tidak tahu, aku tidak mampu, aku bukan Engkau”

Hanya Engkau saja Tuhan... dan aku hanya ciptaan... lalu bersujud

*30/04/2016

Selasa, 29 Oktober 2019

PENERIMAAN


Hidup adalah proses belajar dan proses perubahan, ketika kita merasa lelah kemudian memutuskan untuk berhenti belajar dan berubah artinya kita sedang menghentikan hidup.
Menyadari kekurangan menjadi satu alasan baik yang mendorong kita merasa butuh untuk belajar dan berubah. Kita akan rajin mengevaluasi kekurangan kita dan semangat mencermati sisi baik orang lain dan belajar dari kebaikan itu. Hal semacam ini menawarkan satu pola yang membuat hidup kita bersemangat. Bahkan dalam proses belajar, kita mendapat bonus keahlian menjadi pendengar yang baik, kemampuan mengelola emosi, mengelola reaksi dan mengendalikan diri melalui perkataan serta perilaku.
Sayangnya, tidak banyak orang yang menerapkan pola belajar semacam ini, tetap memiliki alasan dengan kata yang sama, hanya beda penempatan “mencari sisi buruk orang lain dan mengevaluasinya sebagai kekurangan”. Sensasi yang ditimbulkan hanya kepuasan sesaat jika kebetulan kita bisa menepuk dada karena merasa lebih baik, tapi hasilnya sudah jelas bahwa hal itu tidak bermanfaat untuk mengubah hidup, jika kita tidak belajar apapun.
Saya sering terlibat perbincangan dengan beberapa (banyak) orang, baik yang sudah lama kenal maupun yang baru kenal. Saya sering terbentur dengan perbedaan cara pandang, 
Meskipun mungkin tidak terlalu banyak yang bisa kita jumpai disekitar kita, paling tidak itu adalah fakta yang menjadi hasil dan bonus dari orang yang tidak pernah berhenti belajar untuk berubah.
Beberapa dari kita paham, ketika kita masuk dalam sebuah kelompok atau komunitas atas nama apapun, yang didalamnya menawarkan penerimaan pasti akan menghasilkan hubungan baik dan langgeng.
Saya pernah tergabung dalam sebuah obrolan yang pada awalnya membuat saya merasa nyaman dan nyambung, bergerak dan mengikuti aliran spontan, seru dan natural, menurut penilaian saya, hal itu mungkin karena didalamnya ada unsur penerimaan antara satu dengan yang lain, sehingga dalam beberapa saat saya sudah belajar banyak hal.
Itulah kehidupan, penerimaan tanpa syarat antara satu dengan yang lain, akan membuat tiap-tiap individu merasa nyaman untuk belajar banyak hal dan mengalami perubahan.
Kita bisa menerima orang lain dengan kasih karena kita merasa sudah diterima dengan kasih oleh sang maha kasih, dan kasih yang sempurna selalu mampu menyatukan segala bentuk perbedaan. Sehingga tiap-tiap orang akan menjadi teladan perubahan bagi siapapun yang membutuhkan.

Indie 11/10/2019

Rabu, 25 September 2019

MENGHARGAI PEMBERIAN


Tuhan menciptakan segala sesuatu dengan kualitas sungguh amat baik. Meskipun pada waktu Tuhan mencipta hanya dengan perkataan tapi Dia begitu detail memperlengkapi setiap ciptaan-Nya dengan sesuatu yang spesial, sehingga mereka dapat menikmati proses keberlangsungan hidup. Lingkungan dimana mereka hidup, cara memanfaatkan keberdayaan diri dan fungsi yang dimiliki bagi sesama, semua sudah Dia tetapkan dengan begitu rupa.

Sebut saja kelelawar, diciptakan dengan jenis mata faset, oleh ilmu pengetahuan mata faset dijelaskan sebagai mata majemuk yang umumnya dimiliki Arthropoda seperti mata serangga maupun mata krustasea, yaitu mata dengan bentuk unit berulang (ommatidia : mata omaatidium) yang masing-masing memiliki fungsi sebagai visual reseptor terpisah, untuk menangkap berkas-berkas cahaya. Jenis mata tidak memungkinkannya untuk melihat jauh, apalagi pada malam hari. Uniknya, Tuhan  mencipta kelelawar justru untuk hidup di tempat gelap dan terbang pada malam hari. 
Bayangkan jika kelelawar berpikir bahwa sumber kekuatannya hanya pada penglihatan. Ia pasti tidak akan pernah terbang karena takut menabrak benda-benda keras yang dapat melukainya. Ia tidak dapat mencari makanan dan tempat tinggal, lalu akhirnya mati. 
Ternyata Tuhan  memberinya kelebihan lain, yang disebut ekolokasi, suatu kemampuan memperkirakan jarak benda dengan mendengarkan pantulan bunyi yang berfrekuensi tinggi, sehingga kelelawar dapat terbang cepat tanpa takut menabrak berbagai benda.

Dan Kucing, yang sering kita jumpai, dialam aslinya, untuk mempertahankan hidup ia harus berburu pada malam hari, untuk itu kucing membutuhkan kemampuan untuk melihat dengan baik dalam kondisi gelap. Dan dia bisa melakukannya dengan sangat baik, jauh melebihi manusia.
Kemampuan itu dimiliki kucing karena di bagian belakang mata kucing ada tapetum lucidum. Organ yang mirip cermin ini dapat memantulkan cahaya yang membantu kucing untuk melihat dalam gelap. Tapetum lucidum ini juga membuat mata kucing dapat menyala di dalam gelap.
Tetapi ini tidak berarti kucing bisa melihat dalam gelap gulita. Kucing tetap memerlukan cahaya walau tidak banyak. Kucing hanya membutuhkan sekitar 20 persen cahaya yang dibutuhkan manusia untuk melihat.
Dengan kemampuan yang luar biasa ini, ia bisa menangkap buruannya yang berkeliaran pada malam gelap atau mencari yang bersembunyi di dalam kegelapan, kucing tanpa memerlukan bantuan cahaya.

Menurut penelitian kucing juga tergolong hewan dengan pendengaran yang sangat peka, lebih dari pada manusia dan anjing. Pendengaran anjing memang lima kali lebih tajam dari manusia, tetapi pendengaran kucing dua kali lebih tajam dari anjing.
Jika anjing bisa mendengar suara yang sangat rendah, kucing bisa melakukan lebih baik. Jika anjing bisa mendengar suara yang sangat tinggi, kemampuan kucing lebih baik lagi. Kupingnya tidak hanya mampu mendengar suara yang sangat pelan, tetapi juga suara sangat tinggi, yang tidak dapat di terima manusia.

Kemampuan ekolokasi pada kelelawar, tapetum lucidum pada kucing, makanan untuk burung gagak dan pakaian indah untuk bunga bakung, adalah hal yang menunjukkan bahwa Tuhan selalu memperlengkapi setiap ciptaan sesuai dengan kebutuhan yang mereka perlukan untuk hidup. 

Jika ciptaan lain DIA perlengkapi begitu sempurna, apalagi manusia (kita), yang diciptakan bukan hanya dengan perkataan, tapi dengan sebuah perencanaan yang matang, Tuhan pasti juga akan memperhatikan dan memperlengkapi kita dengan segala hal terbaik.

Jangan habiskan waktu hanya untuk mempertanyakan apa yang tidak kita miliki. 

Tuhan tidak pernah salah menempatkan kita dengan berbagai persoalan yang ada. DIA menyediakan segala hal yang melampaui keterbatasan kita, sehingga kita cakap menanggung segala sesuatu dan hidup kita menyatakan kebesaran-NYA.

Indie 22/11/18 




Selasa, 24 September 2019

we can COPY PASTE - but we can't COPY TASTE


Manusia diciptakan dengan perencanaan yang sangat matang. Setiap individu memliki keunikan dan kemampuan yang berbeda-beda, sesuai dengan ketentuan yang Allah tetapkan.Tetapi ada satu hal yang semua orang tanpa terkecuali mampu melakukannya, yaitu “meniru”. Sependiam apapun orangnya akan bisa menirukan, paling tidak, gerakan dan gaya bahasa waktu menceritakan seseorang kepada orang lainnya. Setiap kali terlintas dalam pikiran tentang hal ini, saya selalu kagum, betapa hebat dan jeniusnya orang dalam hal tiru meniru. Apalagi ketika menyaksikan komedian yang melakukannya, saya bisa dibuat terkagum-kagum, meskipun berbalut tawa tanpa henti. Bahkan bisa dsimpulkan bahwa sesuatu yang mampu dilakukan dengan baik oleh semua orang adalah “tiru-meniru”. 

Jika ditarik kembali dari awal penciptaan, ternyata meniru adalah tugas hidup manusia dalam dunia ini. Artinya, dalam kehidupan ini, kita semua senantiasa meniru dalam segala hal. Karena kita diciptakan segambar dan serupa dengan Sang Pencipta. 

Meniru memang merupakan hal yang sangat mudah dilakukan oleh semua kalangan.Tetapi perlu kita ketahui, bahwa pada waktu meniru diperlukan kejelian. Meniru itu tidak selamanya akan mendatangkan sesuatu yang lebih baik, efisiensitas atau pun produktifitas. Bahkan, terkadang kebiasaan meniru sering menjadikan sejumlah orang malas untuk berpikir (pasif), sehingga semua tindakannya serba instan. 

Seorang peniru yang tidak jeli dan tidak pandai memilah akan berakibat pada kehilangan jati diri (keunikan dan otentisitas) yang mereka miliki. Sifat baik yang dimiliki adalah obsersif, dengan tekun mengamat-amati, obyek tiruan dengan cermat. Selalu ingin meniru semua tindakan orang lain baik itu berupa gaya berpakaian, gaya bahasa, gaya menyanyi, tingkah laku, pola pikir dan sebagainya. Obyek tiruan bisa dari berbagai kalangan, komedian, penyanyi, pewarta, motivator, pastor, sampai penulis. Sehingga tidak jarang ditemukan sang imitator lebih baik dan lebih dikenal dari sang master. Karena imitator memiliki olah vokal dan teknik bernyanyi yang lebih baik, jika yang ditiru seorang penyanyi atau gaya bahasa dan intonasi yang lebih baik, jika yang ditiru seorang pewarta, motivator, dll. Tapi yang menjadi catatannya adalah semirip apapun kita copy-paste, kita tidak akan pernah bisa copy-taste, karena untuk bisa copy-taste, seseorang harus bertukar jiwa. 

Taste biasanya diidentikkan dengan makanan dan minuman, tapi tidak beda jauh karena memang digolongkan sebagai kata sifat yang artinya terhubung dengan cita rasa orang yang menikmati. 

Saya pernah mengikuti sebuah mini seri film berjudul, janji di youtube, yang diperankan Darius Sinathriya (Iko), Ringgo Agus Rahman (Ujo), dan Widika Sidmore (Naya). Iko dan Naya adalah pasangan suami istri yang saling mencintai, dengan caranya masing-masing, tapi hal itu tidak bisa mewujudkan keharmonisan hubungan mereka. Iko seorang yang lembut, romantis, pandai dan perfeksionis, sehingga tidak pernah melibatkan Naya dalam permasalahannya dari hal kecil sampai besar, dan lebih memilih bercerita setelah semua selesai bahkan setelah dia mengambil keputusan. Dengan maksud tidak ingin merepotkan dan membuat istrinya ikut pusing. Disisi lain, Naya ingin perannya sebagai seorang istri dimanfaatkan, bukan hanya sebagai pasangan yang terlihat baik-baik tanpa tahu apapun. 

Ujo adalah seorang yang membuat segala sesuatu mudah, tidak pikir panjang dan tidak bisa membedakan situasi. Karakternya sangat berlawanan dengan Iko, tapi mereka bersahabat sejak lama. Naya tidak terlalu menyukai Ujo karena sering muncul dalam situasi yang tidak tepat. 

Singkat cerita dalam sebuah acara minum “teh bersejarah” yang Ujo curi dari klien Iko, mereka bertukar jiwa. Dari sinilah sejarah berbalik, Naya yang tidak terlalu menyukai Ujo mulai tertarik untuk berbagi cerita hatinya. Naya melihat Iko dalam wujud yang berbeda, tapi justru membuat Naya nyaman untuk bercerita apapun, termasuk hal yang tidak terungkapkan tentang perasaannya kepada suaminya. Dari sini Iko yang ada dalam wujud Ujo jadi lebih memahami apa yang Naya inginkan dan apa yang seharusnya dia lakukan untuk istrinya. 

Karena diperankan dengat sangat baik oleh keduanya, membuat saya memahami bahwa dalam pertukaran jiwa, seseorang tidak memerlukan effort apapun untuk meniru, sangat natural, tepat, tidak kurang tidak lebih. Karena memang jiwanya sudah digantikan. 

Sudah menjadi ketetapan Allah dari awal “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita” bahkan tidak hanya berhenti pada kesamaan wujud, tapi dilanjutkan dengan kalimat perintah untuk berkuasa, artinya memiliki cara atau pola memimpin dan berkuasa yang sama dengan Dia, hematnya adalah karakter. Hadirnya sang penebus didunia juga salah satunya untuk ditiru oleh umatnya. Kita harus melakukan hal tersebut dari lahir sampai akhir usia. Meskipun seringkali merasa gagal untuk meniru karakternya karena cara kita yang salah. 

Sama halnya dengan hidup kita dalam meneladani karakter Pencipta, upaya kita akan sia-sia jika hanya berhenti pada meniru saja, tapi kita harus mengijinkan Dia masuk dan menguasai hidup kita (roh, jiwa dan tubuh), untuk menukar jiwa kita yang rentan dan rapuh karena dosa, dengan jiwa-Nya yang illahi. Tanpa pertukaran jiwa mustahil kita bisa meniru senatural atau setepat yang Dia kehendaki. 

Kita tidak akan kehilangan jati diri dan keunikan kita, sebaliknya akan menemukan jati diri sejati yang semakin disempurnakan.

Indie 25/06/19

Senin, 19 Agustus 2019

KEBAHAGIAAN

Menurut anda, apakah anda orang yang bahagia? Jika ya, apa yang membuat Anda bahagia? Keluarga, pekerjaan, kegiatan ibadah? Atau, mungkin anda sedang menanti-nantikan sesuatu yang menyenangkan, lulus sekolah, mendapat segala sesuatu sesuai harapan dan impian, mungkin pekerjaan, mobil, rumah, pasangan, dll.

Banyak orang merasa senang saat mereka berhasil melakukan sesuatu atau mendapatkan apa yang mereka inginkan, cenderung menempuh berbagai cara, dari yang baik sampai yang berujung merugikan orang lain. Tapi, berapa lama mereka merasa senang? Sayangnya, rasa senang itu biasanya hanya sesaat dan sementara.

Menempatkan kebahagiaan pada standar yang salah, yaitu pada hal yang hanya berujung pada kesenangan cenderung merusak. 

Sebagai contoh, jika alasan kebahagiaan karena pekerjaan dan kegiatan ibadah, orang akan berkompetisi untuk saling mengalahkan pihak lain, dengan segala cara. 

Kebahagiaan adalah perasaan tenteram yang terus ada. Perasaan bahagia bisa bermacam-macam, mulai dari rasa puas sampai perasaan sangat bersukacita dan senang menjalani kehidupan. Orang yang bahagia akan terus ingin merasa bahagia.

Kebahagiaan bukanlah perasaan yang datang dan pergi, tapi itu terus ada. Kebahagiaan bergantung pada cara seseorang menjalani hidup, bukan pada apa yang dia dapatkan.

Jadi orang yang mengatakan, ”Saya akan bahagia jika. . . ” mereka justru tidak akan bahagia. Sebagai gambaran, kita akan membandingkan kebahagiaan dengan kesehatan yang baik. Bagaimana kita bisa tetap sehat? Dengan terus menjaga pola makan, berolahraga, dan punya gaya hidup yang baik. Begitu juga, kita bisa bahagia kalau kita terus menjalani kehidupan yang benar dan mengikuti nasihat Kitab Suci atau kebenaran Firman Tuhan.

Sebagai orang yang telah mengenal kasih Allah dan kebenaran-Nya, kita harus memiliki standar kebahagiaan yang berbeda, bukan sekedar berujung pada kesenangan sementara. Firman Tuhan mencatat beberapa hal yang harus menjadi dasar kebahagiaan orang percaya, salah satunya ada dalam Mazmur 128:1 yang mengatakan “berbahagialah setiap orang yang takut akan Tuhan, yang hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya! Itulah inti kebahagiaan orang percaya, yang hanya dapat di peroleh dengan satu cara, bagaimana seseorang hidup dalam ketaatan pada kebenaran. 

Kekayaan yang diperoleh melalui kekuatan kebenaran, dan kesehatan yang di dapat melalui kekuatan kedamaian, keduanya memberikan kebahagiaan. Dan kebahagiaan bisa didapat jika perbuatan, sikap dan sifat kita suci dan tidak mementingkan diri sendiri.

Indie 22/05/18

IMAN DAN ETIKA

Iman dan etika menjadi sesuatu yang berkaitan erat dan saling menentukan. Kepada siapa iman kita letakkan akan menentukan etika kita dalam berprilaku. Kisah Daniel bersama ketiga temannya sangat menarik untuk dipelajari, karena pribadi mereka yang setia dalam iman dan etika. Meskipun mereka orang-orang Yahudi (buangan) dalam Kerajaan Babel, golongan minoritas, dan masih berusia muda pada saat itu, tetapi mereka dapat menghidupi prinsip spirit of excellent. Daniel yang pada saat itu seorang pelayan raja, tetapi berani untuk mempertahankan nilai yang ia percayai, prinsip hidupnya di tengah-tengah suasana yang berbeda.

Pada jaman modern dan serba bebas seperti sekarang ini, beranikah kita tetap berpegang pada prinsip untuk menjaga kekudusan meski orang di sekitar kita tidak melakukannya? Beranikah kita berprinsip seperti Daniel yang excellence dalam hal karakter, iman dan etika.

Daniel 1:8-9 “Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan raja dan dengan anggur yang biasa diminum raja; dimintanyalah kepada pemimpin pegawai istana itu, supaya ia tak usah menajiskan dirinya. Maka Allah mengaruniakan kepada Daniel kasih dan sayang dari pemimpin pegawai istana itu.”

Tuhan bukan hanya sekedar interested terhadap Hati kita, tetapi Tuhan juga tertarik untuk memakai Otak kita. Tuhan menganugerahkan kecerdasan, kepandaian, pengertian dan kebijaksanaan kepada kita. Pada saat Daniel berhasil dan diberikan kedudukan yang besar,

dia tidak lupa akan teman-teman-nya. Sukses hari ini bukan sukses besok. Excellent bukan perbuatan tunggal tapi prinsip hidup.

Daniel 1:17 “Kepada keempat orang muda itu Allah memberikan pengetahuan dan kepandaian tentang berbagai-bagai tulisan dan hikmat, sedang Daniel juga mempunyai pengertian tentang berbagai-bagai penglihatan dan mimpi.”

“Dalam tiap-tiap hal yang memerlukan kebijaksanaan dan pengertian, yang ditanyakan raja kepada mereka, didapatinya bahwa mereka sepuluh kali lebih cerdas dari pada semua orang berilmu dan semua ahli jampi di seluruh kerajaannya” (Daniel 1:20 TB)


Yang menakjubkan dari Kisah Daniel adalah dia dapat membuat raja mengakui kebesaran Allah, tempat dimana dia meletakkan imannya. Dalam hidupnya, Daniel memegang teguh nilai-nilai yang akhirnya mempermuliakan nama Tuhan. 

Biarlah setiap kita sebagai orang percaya bukan hanya bisa menjaga kemurnian hati, tapi pada saat bersamaan juga punya tingkat kecerdasan yang luar biasa. Seperti Daniel, yang berhasil melayani tiga raja dalam tiga pemerintahan, karena hidup-nya yang excellent, sementara orang lain sibuk menjatuhkan dia dan mempromosikan diri sendiri, Daniel tidak perlu melakukan semua itu. Sama halnya dengan pekerjaan kita, jika kita memiliki produk dan servis yang excellent, maka kita tidak perlu mempromosikan hal itu, karena orang lain dan para pelanggan/customer yang akan melakukan hal itu untuk kita.

Indie 21/03/18

Abigail Indiana

Foto saya
I am a product of GOD's Grace. Single, Simple person but will always be an extraordinary person. Just a nature, Truth lover, jazzy lover, coffee lover. Selalu mendefinisikan setiap fase hidup dengan ucapan syukur. I love my beloved Savior, He loves me unconditionally.