Senin, 19 Agustus 2019

MAGIC EYE


Iman bagi orang percaya seperti Magic Eye yang memungkinkan kita bisa memandang sesuatu dalam perspektif  Allah.
Sebagai orang yang percaya kepada Tuhan, kita tahu, bahwa mencari Dia dan kebenaran-Nya dengan sungguh-sungguh adalah hal terpenting dalam hidup. Seperti ada tertulis "Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia." Ibrani 11:6
Tapi beberapa diantara kita kurang telaten untuk bertekun dalam Iman, terutama jika merasa bahwa segala ketekunannya tidak membuahkan hasil sedikitpun. Seseorang dapat bertekun untuk sebuah tujuan yang ingin dicapai atau sesuatu yang membuatnya penasaran. Dari hal sepele sampai dengan hal penting. Tapi sayang, kadang penerapannya untuk hal yang jauh lebih penting tidak semaksimal ketika berusaha mencapai tujuan, mungkin karena hasil yang diperoleh tidak terlihat secara langsung, tapi dampaknya sampai pada kekekalan. Apalagi karena begitu banyak peristiwa yang terjadi secara bertubi-tubi, bisa menutup mata Iman kita untuk melihat bahwa Tuhan tidak pernah berhenti bekerja, menyempurnakan hidup kita.
Membuat kita cenderung, mengatur, menghitung dan membuat sumber berkat kita sendiri, dan merasa lebih pandai dari Tuhan. Padahal kita tahu, Alkitab dengan jelas mengatakan di Amsal 10:22 Berkat TUHAN-lah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya. Kita tidak perlu susah payah menambahi berkat dengan kecurangan, atau perbuatan jahat kepada sesama karena "Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia." 
Dan yang lebih jauh dari itu, berpikir tidak ada orang yang tahu, toh banyak orang yang melakukan hal yang sama dengan kita, sehingga dengan tenang menuruti kecondongan hati untuk berbuat jahat seperti kata Amsal 14:16 (TB) Orang bijak berhati-hati dan menjauhi kejahatan, tetapi orang bebal melampiaskan nafsunya dan merasa aman.
Miliki ketekunan karena iman dan kasih kpd Allah, serta pemahaman yang mendalam tentang prinsip ketaatan dan otoritas.

Indie 19/01/19

Minggu, 18 Agustus 2019

TINDAKAN NYATA


Hampir semua orang menghadapi hari dengan bekal to do list atau “daftar hal-hal yang harus dikerjakan”. Namun, Alkitab mendorong kita untuk memiliki “daftar cita-cita”.
​Sementara memang penting untuk mengerjakan tugas-tugas tertentu, melibatkan diri dalam proyek-proyek tertentu, atau mengadakan pertemuan tertentu, namun yang lebih penting demi kekekalan adalah menjadi orang seperti apa di sepanjang hari itu.
​Dari perspektif “hal-hal yang harus dikerjakan”, kita cenderung datang ke hadapan Tuhan dan mengatakan, “Inilah daftarku dan inilah jadwalku. Tolong sertai aku, bantu aku, dan berkati aku”.
​Dari perspektif “cita-cita”, kita boleh memohon hal-hal berikut ini kepada Tuhan :
• Bantu aku mencerminkan kasihMu hari ini.
• Bantu aku memperlihatkan sukacitaMu, kelemahlembutanMu, penguasaan diriMu.
• Bantu aku mewujudkan damai sejahteraMu.
• Bantu aku mempraktekkan kesabaranMu.
• Bantu aku mengungkapkan kemurahanMu.
• Bantu aku memaklumkan kebaikanMu.
• Bantu aku mengungkapkan kesetiaanMu.
Namun, berharap saja tidaklah akan menghasilkan ciri-ciri ini. Ciri-ciri ini datang dari kehidupan yang dijalani dengan komunikasi yang erat dengan Tuhan, yaitu kehadiran-Nya yang akan membuat hidup kita berbeda. Oleh karena itu, daftar “cita-cita” kita haruslah selalu dimulai dengan undangan kepada Roh Kudus untuk menginspirasikan kita dan mendorong kita ke arah pekerjaan baik.
Sebagai contoh, untuk mengungkapkan kemurahan Tuhan, kita terlebih dulu harus memandang diri kita sebagai penerima kemurahan Tuhan. Dalam menerima kemurahanNya, kita menjadi jauh lebih tanggap terhadap berbagai kesempatan di mana kita boleh memperlihatkan kemurahanNya kepada orang lain. “Bersikap murah hati” menjadi bagian dari segala yang kita kerjakan. Cara kita mengerjakan pekerjaan sehari-hari, mengadakan rapat, melaksanakan titipan-titipan, serta melibatkan diri dalam proyek-proyek, memperlihatkan kemurahanNya kepada orang-orang di sekeliling kita.
Memprioritaskan daftar cita-cita, akan membuat hal-hal yang harus kita kerjakan menjadi jauh lebih jelas – dan jauh lebih ringan.


Indie 6/12/2018

TAHU BERTERIMA KASIH

Dalam hidup mungkin kita pernah, bahkan sering menjumpai orang-orang yang tidak tahu berterimakasih, pun setelah berkali-kali menerima pertolongan dari kita, kadang justru memperlakukan hal yang sebaliknya kepada kita. Sebagai manusia, kita bisa merasa kecewa, marah, dan bosan memberi bantuan. Bahkan kadang kita berjanji dalam hati, tidak akan lagi memberi bantuan pada orang yang tidak tahu berterimakasih. 
Jika memang tidak mampu membalas kebaikan dengan kebaikan, paling tidak jangan berbuat jahat. Adalah sebuah nasihat baik bagi kita yang ingin belajar berterimakasih.

Adakalanya, tanpa sadar kita melakukan hal yang sama kepada Tuhan, ketika mengalami kesuksesan dalam melakukan banyak hal yang luar biasa, kita merasa, seolah semua karena kehebatan kita. Kita lupa bahwa Allah yang telah memberi kita akal budi, kekuatan, kesehatan, kemauan, kesempatan dan kemampuan untuk mengerjakan semua hal tersebut. Sehingga lupa untuk berterimakasih. 

Hal yang sudah umum kita jumpai di dunia ini, sudah pernah dicatat dalam injil Lukas 17:15-16 “Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu tersungkur didepan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya.” Dari sepuluh orang yang ditolong hanya satu yang tahu berterimakasih. Itu gambaran yang alkitab berikan, bisa jadi yang Tuhan jumpai saat ini lebih kecil dari sepuluh persen. 

Tapi kita bersyukur, karena Allah bukanlah manusia seperti kita, yang bisa merasa bosan, kecewa atau marah kepada kita. Dia selalu ada bagi kita, dan bersedia menolong kita setiap saat, tanpa merasa bosan, sekalipun orangnya tidak tahu berterima kasih. 

Biarlah setiap kita dalam setiap kesempatan, besar maupun kecil kita selalu berlatih menjadi orang yang tahu berterima kasih, terutama kepada Allah, tapi juga berterimakasih kepada sesama.

Indie 7/12/2018

SETENGAH KETAATAN

Ketika anda mendengar kata “taat”, apa yang muncul di pikiran anda? Gambaran “positif” atau “negatif”? Apakah anda menyukai “ketaatan”? Ada orang yang tidak suka “taat” karena merasa kebebasannya dibatasi. Anak-anak umumnya tidak suka mentaati perintah orang tuanya. Apa reaksi mereka ketika orang tua meminta mereka belajar dulu baru boleh main? Atau selama seminggu ini tidak boleh menonton televisi karena sedang menghadapi ujian semester? Apakah mereka taat kepada perintah orang tua? Anak-anak suka taat pada sesuatu yang mereka sukai. Mereka tidak suka taat pada perintah yang mereka tidak sukai. Inilah kecenderungan manusia sejak kejatuhan Adam dan Hawa. Cenderung mengikuti keinginan sendiri, cenderung memuaskan daging.

Banyak orang ingin berkat, tetapi tidak taat. Padahal, berkat datang dari ketaatan pada perintah Tuhan, sedangkan kutuk datang dari ketidaktaatan (Ulangan 11). Ketaatan adalah sebuah kualitas karakter yang menentukan masa depan seseorang. Sejauh mana anda diberkati adalah tergantung sejauh mana anda taat pada Tuhan. Namun lebih dari sekedar berkat, yang lebih penting adalah apakah Tuhan masih menyertai kita atau tidak dalam segala yang hal yang kita lakukan.

Yesus adalah Pribadi yang memberi contoh kepada kita bagaimana Ia menunjukkan ketaatan pada Bapa dalam hidupNya selama 33 ½ tahun di bumi. Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat melalui apa yang telah diderita-Nya (Ibr. 5:8). Itulah sebabnya, Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama (Fil. 2:9). Kesimpulannya, Allah sangat berkenan kepada orang yang taat kepada-Nya dalam situasi sulit sekalipun. Pertanyaannya, maukah anda menjadi orang yang berkenan di hati Tuhan?

Ketaatan menjadi hal penting dan sangat menarik bagi Allah. Ketaatan harus karena kasih, karena iman dan karena memahami prinsip ketaatan dan otoritas. Firman Tuhan menjanjikan bahwa ketaatan menggandeng berkat surgawi. Namun sesungguhnya yang Tuhan janjikan lebih dari sekedar berkat, yaitu penyertaan-Nya yang berlaku sampai pada kekekalan. Hal penting yang harus kita waspadai bukan hanya hidup kita terlihat diberkati, tapi apakah dalam menjalanakan ketaatan iman kita masih tertuju kepada Tuhan atau tidak. 

Ketaatan bersifat utuh dan sepenuhnya atau absolut, lawan dari ketaatan adalah ketaatan setengah, dan ketaatan setengah diperhitungkan sebagai ketidaktaatan. Sedikit berbohong dengan alasan apapun, sedikit berkata kotor, sedikit menambahi berita bohong, sedikit memfitnah, sedikit berbuat jahat. Dan segala hal yang melanggar perintah Tuhan yang kadarnya serba sedikit. 

Allah tidak pernah tertarik dengan harta, kehebatan, keperkasaan dan kesuksesan kita, terlebih yang kita hasilkan dari diri sendiri tanpa melibatkan Dia. Karena hal itu berpotensi membuat ketaatan dan rasa takut kita akan Tuhan jadi berkurang. 

Miliki hati yang mengasihi Tuhan, hati yang takut akan Dia dan Iman yang teguh. Supaya kita dapat taat secara total dan dengan sadar mau meninggalkan dosa.


Indie 2/12/2018

BERHENTI MENYALAHKAN ORANG LAIN

Menyalahkan orang lain atau diri sendiri sama-sama tidak baik. Sama-sama menyakitkan dan merusak hubungan dengan sesama manusia. Di saat perasaan sedang tak nyaman, menghadapi kegagalan, sakit hati dan marah, menyalahkan orang lain dan mengutuk diri sendiri biasanya menjadi hal pertama yang dilakukan. Mencari kambing hitam lebih sering didahulukan daripada mencari kebenaran. Di sinilah pentingnya belajar bersikap tenang dan bijak menghadapi setiap permasalahan.

Mengapa kita harus belajar berhenti menyalahkan?

Pertama, kesalahan bisa dilakukan siapa saja, termasuk orang-orang yang kita cintai. Namun, bukan berarti hubungan yang terjadi antarmanusia selalu didasari benar atau salah. Kesalahan itu pasti terjadi, baik besar maupun kecil. Besar dan kecilnya, ditentukan oleh cara pandang manusia itu sendiri, terlepas dari ada/tidaknya konsensus sosial melalui nilai dan norma yang menentukan besar kecilnya kesalahan itu. Semakin banyak menyalahkan orang lain, semakin sulit diri kita berkembang. Waktu yang kita punya, paling tidak akan habis buat memikirkan orang yang kita anggap salah itu. Akhirnya, kita melakukan apapun demi rasa marah terhadapnya atau bahkan kita tidak melakukan apa-apa, hanya sibuk mengutuk diri dan menyalahkannya. 

Kedua, kegagalan dalam mencapai sesuatu memang sering berimbas kepada tindakan menyalahkan orang lain. Sekalipun ada unsur kesalahan itu, tidak seharusnya kita menjustifikasi secara mutlak bahwa itu kesalahan orang lain. Ketika kita menilai orang lain seperti pemikiran kita, orang juga akan menilai kita seperti itu. Prasangka baik sejatinya akan berbuah baik, demikian pula prasangka buruk. Sering-seringlah bertanya kepada diri sendiri, apa saja yang telah orang lain berikan untuk kita, sehingga kita akan menyadari betapa kita berutang banyak kepada orang lain dan harus berbuat baik kepada orang lain. 

Ketiga, perlu kita ingat bahwa masalah dan konflik seringkali berawal dari hadirnya isu atau masalah merasa dirugikan. Kita merasa orang lain tidak pernah bisa memenuhi harapan kita, tidak sesuai dengan keinginan kita, sehingga tuntutan-tuntutan terhadap orang lain untuk bisa menjadi seperti yang kita harapkan semakin membesar. Sedikit saja orang tidak sesuai sama kita, kita merasa kecewa dan ujung-ujungnya bisa disalahkan. Padahal, kalau kita berpikir dalam, pikiran dan harapan orang lain kepada kita pun gak jauh berbeda. 

Bagaimana caranya agar kita tidak terjebak dalam rasa bersalah dan menyalahkan? 

Belajar introspeksi diri dan belajar menerima kenyataan harus didahulukan supaya kita tidak larut dalam kemarahan, kebencian dan menyalahkan diri sendiri juga orang lain. Kedua, kembalikan semua pada porsinya, memaksimalkan ikhtiar, menyempurnakan doa. Jangan menyalahkan orang lain ketika kita gagal, dan jangan hal itu dijadikan senjata untuk menutupi kegagalan kita karena akan berakibat fatal bagi perkembangan diri kita sendiri. Sikap seperti ini hanya akan menjadi pola kegagalan yang berakar dalam diri kita, yang bisa menjadikannya sulit diperbaiki. 

1/01/2019

BUKAN TANDA JASA

Jasa didefinisikan sebagai perbuatan yang baik atau berguna dan bernilai bagi orang lain, negara, instansi, atau orang banyak dengan memberikan segala sesuatu yang diperlukan orang lain, bisa berupa pelayanan, aktivitas, kemudahan, manfaat, dsb yang dapat dijual kepada orang lain (konsumen) yang menggunakan atau menikmatinya. Dan yang berlaku didunia ini, jasa biasanya bermuatan transaksional (timbal balik).

Ketika kita melakukan banyak perbuatan baik dalam hidup dan merasa berjasa, mungkin kita bisa mendapatkan sedikit kepuasan, karena sejujurnya lebih banyak kekecewaan yang kita jumpai. 

Kita harus memahami bahwa mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama, adalah ringkasan perintah Tuhan bagi orang percaya. Alkitab menjamin, setiap orang yang melakukannya, disebut orang yang berbahagia. 

Allah menjadikan manusia segambar dengan Dia, bukan hanya secara fisik, tapi juga secara karakter. Dia juga memberikan Roh-Nya, untuk menolong manusia melewati proses pembentukan karakter serupa Dia. 

Kita harus secara sadar mengembangkan nilai-nilai kerajaan Allah setiap waktu. Bukan supaya kita dapat menikmati kebahagiaan atau kehidupan terbaik sebagai tanda jasa dari Allah, tetapi sebagai wujud kasih dan Iman kita kepada Allah, yang telah mengerjakan karya termegah dalam hidup kita.

Didunia ini banyak sekali daftar kebaikan yang bisa kita kerjakan, kapanpun, dimanapun dan untuk siapapun yang kita jumpai, keluarga, lingkungan kerja maupun komunitas. Jika kita hanya memiliki satu kebaikan, lakukan itu terus menerus, sampai kita lupa atau tidak sadar sedang berbuat kebaikan. 

Jika selama ini kita telah menjalani hidup dalam ketaatan, dan mengabdikan hidup kita untuk melakukan kehendak dan tujuan Allah, tambahkan lagi ketaatan, tanpa harus merasa lebih baik dari orang lain, atau merasa menjadi orang yang berjasa dihadapan Allah. Sebab kemauan dan kesanggupan semua hanya datang dari Allah, karena Dia sangat mengasihi kita, dan menginginkan kita untuk hidup didalam kasih karunia-Nya.

Indie 5/12/2018

BERSYUKUR ATAS INTERUPSI


Interupsi adalah pemotongan pembicaraan, atas ulasan yang sedang berlangsung atau sedang disampaikan. Sering diartikan negatif, karena bisa mengesankan ketidaksabaran sang pemberi dan menimbulkan rasa tidak nyaman bagi penerima. Motif orang memberi interupsipun beragam, karena ingin meluruskan atau memperbaiki pernyataan yang disampaikan biasanya dengan tulus, tapi ada juga yang menyampaikan dengan rasa marah karena ingin menjatuhkan. Itulah kondisi umum ketika interupsi datang dari sesama.
Berbeda dengan interupsi yang Tuhan berikan kepada manusia, selalu bertujuan untuk kebaikan dan atas dasar kasih. Yang pasti akan mendatangkan kesempatan dan berbagai tugas baru, sekalipun mungkin pada awalnya terasa cukup mengacaukan. Contoh tokoh alkitab yang hidupnya mendapat interupsi dari Allah adalah Maria dan Paulus. Maria seorang perawan yang sudah bertunangan tiba-tiba harus mengandung. Kita bisa membayangkan rasa bingung, malu, yang dialami maria sebagai wanita biasa, belum lagi kecemasannya ketika harus menjelaskan kepada tunangannya. Tetapi jika tanpa interupsi maka kita yang akan kebingungan, karena seorang juruselamat tidak akan pernah dilahirkan bagi dunia.
Paulus, seorang bangsawan yang penuh semangat menjalankan rencana awalnya menumpas semua orang yang percaya kepada Yesus, ditengah perjalanan harus merelakan agendanya dikacaukan, tapi karena interupsi, lahirlah seorang rasul besar yang Tuhan pakai untuk menjadi saksi bagi dunia ini, bahwa Allah ada dan Dia hidup.
Jika saat ini kita merasa, banyak rencana, yang tidak berjalan seperti keinginan dan ekspektasi, serahkan semua kedalam tangan Tuhan dengan sebuah pemahaman bahwa Allah berkuasa penuh atas hidup kita. Bisa jadi itu adalah bentuk interupsi Allah bagi kita yang akan mendatangkan kebaikan bukan saja untuk pribadi atau seseorang, tapi untuk banyak orang. Seperti keyakinan Daud dia tulis dalam Mazmur 33:10-11 "TUHAN menggagalkan rencana bangsa-bangsa; Ia meniadakan rancangan suku-suku bangsa; tetapi rencana TUHAN tetap selama-lamanya, rancangan hati-Nya turun-temurun."
Itu sebabnya sediakan hidup kita untuk di interupsi oleh Allah, dan siapkan diri kita untuk tugas-tugas baru yang Allah berikan.

Indie 9/01/2019

Abigail Indiana

Foto saya
I am a product of GOD's Grace. Single, Simple person but will always be an extraordinary person. Just a nature, Truth lover, jazzy lover, coffee lover. Selalu mendefinisikan setiap fase hidup dengan ucapan syukur. I love my beloved Savior, He loves me unconditionally.