Sabtu, 28 Maret 2009

He is REaL

Aku dan adikku, kami berdua, sering heran dan mentertawakan hidup kami. Hidup kita ini aneh y, dirumah cuma berdua, ga punya orang tua, ga punya sesuatu yang dibanggakan selain DIA.
Kami, terutama aku, selalu mengusahakan sendiri apa yang kami perlukan, supaya hidup kami terus berlangsung. Dari makan, pendidikan sampai tempat tinggal, harus mikir dan mengusahakan sendiri.
Sudah terbiasa dengan kondisi tersebut, kami berdua kadang suka berkhayal “enak kali ya, kalo saja kita bisa menunjuk seorang konglomerat, seorang berpangkat, seorang pejabat atau salah seorang dari kalangan cendikiawan dan selebritas “dia itu orang tuaku lo, mereka saudaraku lo, atau mereka itu masih ada hubungan keluarga dengan aku lo. Bukan untuk numpang hidup ato meminta-minta, tapi sekedar numpang bangga, orang jawa bilang “nunut mulyo”. Sekedar “nga-dem” Paling tidak bisa numpang menikmati sedikit fasilitas bila ada keperluan.
Entah masa sewa rumah pas habis. Atau ada kebutuhan yang sedikit birokratif.
Tidak tau apakah itu sebuah keluhan yang kami candakan atau apa. Yang pasti biasanya kami selalu menyambung dengan saling melempar pendapat, yang penting bahagia, tetap bisa menjadi berkat, tidak ngrepoti ato nyusahin orang lain. Kemudian kami tertawa lepas. Itu cara kami menyikapi kesesakan yang kadang menyergap kami, ketika melihat keanehan kondisi hidup kami.
Kesesakan, badai, kegagalan, itu adalah sebuah proses pendewasaan. Apapun penyebabnya dan bidangnya.
Untuk hal ini dalam keterbatasan aku sempat melontarkan pilihan konyol dengan nada canda dengan adikku, “apa sebaiknya kita tidak perlu menjadi dewasa ya, kalo prosesnya menuju satu kata itu harus melalui hal-hal tersebut. Kayaknya semuanya akan lebih asyik”. Beberapa saat adikku melihat kearah mataku, dan kami saling memandang. Untuk meyakinkan, setelah setuju, kemudian kami berdua melepas tawa.
Ups! Untung Cuma bercanda, sebab ini sebuah wacana yang enggak banget. Tapi itulah ungkapan kejujuranku.
Meskipun tidak setitikpun darah dari orang-orang impian diatas mengalir ditubuh kami, tapi 100% kami yakin ada DARAH Penguasa Jagat yang sudah dialirkan bahkan dicurahkan dengan sempurna dalam karya yang mulia.
Alasan itu yang membuat langkah kami tidak terasa berat.
Karena kami jadi mengerti, apa itu arti kata hanya DIA-lah jaminan hidup.
Dengan catatan harus selalu mengandalkan DIA dan bersamaNYA.
Aku sangat terkagum dengan segala perbuatan SANG PEMERHATI dan Penulis hidup kami. Sekali lagi, tidak pernah bosan dia menemui perjalanan hidup kami dengan kebaikan-kebaikanNYA. To show us, that HE is Real, HE is able.
Begitu kita menyadari ada Kasih yang hebat tersebut, tidak harus menjadi satu darah daging, tetapi kita diijinkan bertemu bahkan memiliki orang-orang hebat dan luar biasa di sekitar kita. Seperti yang kami rasakan.
Itu sebabnya kami selalu berjanji, untuk terus berusaha, selalu menjaga, tetap berjalan dan berjuang untuk mempertahankan hidup dalam takut akan DIA. Sebagai bentuk penghormatan kami atas hidup yang telah dianugerahkanNYA.
Wish all of u too, we pray.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Abigail Indiana

Foto saya
I am a product of GOD's Grace. Single, Simple person but will always be an extraordinary person. Just a nature, Truth lover, jazzy lover, coffee lover. Selalu mendefinisikan setiap fase hidup dengan ucapan syukur. I love my beloved Savior, He loves me unconditionally.