Sabtu, 28 Maret 2009

He is REaL

Aku dan adikku, kami berdua, sering heran dan mentertawakan hidup kami. Hidup kita ini aneh y, dirumah cuma berdua, ga punya orang tua, ga punya sesuatu yang dibanggakan selain DIA.
Kami, terutama aku, selalu mengusahakan sendiri apa yang kami perlukan, supaya hidup kami terus berlangsung. Dari makan, pendidikan sampai tempat tinggal, harus mikir dan mengusahakan sendiri.
Sudah terbiasa dengan kondisi tersebut, kami berdua kadang suka berkhayal “enak kali ya, kalo saja kita bisa menunjuk seorang konglomerat, seorang berpangkat, seorang pejabat atau salah seorang dari kalangan cendikiawan dan selebritas “dia itu orang tuaku lo, mereka saudaraku lo, atau mereka itu masih ada hubungan keluarga dengan aku lo. Bukan untuk numpang hidup ato meminta-minta, tapi sekedar numpang bangga, orang jawa bilang “nunut mulyo”. Sekedar “nga-dem” Paling tidak bisa numpang menikmati sedikit fasilitas bila ada keperluan.
Entah masa sewa rumah pas habis. Atau ada kebutuhan yang sedikit birokratif.
Tidak tau apakah itu sebuah keluhan yang kami candakan atau apa. Yang pasti biasanya kami selalu menyambung dengan saling melempar pendapat, yang penting bahagia, tetap bisa menjadi berkat, tidak ngrepoti ato nyusahin orang lain. Kemudian kami tertawa lepas. Itu cara kami menyikapi kesesakan yang kadang menyergap kami, ketika melihat keanehan kondisi hidup kami.
Kesesakan, badai, kegagalan, itu adalah sebuah proses pendewasaan. Apapun penyebabnya dan bidangnya.
Untuk hal ini dalam keterbatasan aku sempat melontarkan pilihan konyol dengan nada canda dengan adikku, “apa sebaiknya kita tidak perlu menjadi dewasa ya, kalo prosesnya menuju satu kata itu harus melalui hal-hal tersebut. Kayaknya semuanya akan lebih asyik”. Beberapa saat adikku melihat kearah mataku, dan kami saling memandang. Untuk meyakinkan, setelah setuju, kemudian kami berdua melepas tawa.
Ups! Untung Cuma bercanda, sebab ini sebuah wacana yang enggak banget. Tapi itulah ungkapan kejujuranku.
Meskipun tidak setitikpun darah dari orang-orang impian diatas mengalir ditubuh kami, tapi 100% kami yakin ada DARAH Penguasa Jagat yang sudah dialirkan bahkan dicurahkan dengan sempurna dalam karya yang mulia.
Alasan itu yang membuat langkah kami tidak terasa berat.
Karena kami jadi mengerti, apa itu arti kata hanya DIA-lah jaminan hidup.
Dengan catatan harus selalu mengandalkan DIA dan bersamaNYA.
Aku sangat terkagum dengan segala perbuatan SANG PEMERHATI dan Penulis hidup kami. Sekali lagi, tidak pernah bosan dia menemui perjalanan hidup kami dengan kebaikan-kebaikanNYA. To show us, that HE is Real, HE is able.
Begitu kita menyadari ada Kasih yang hebat tersebut, tidak harus menjadi satu darah daging, tetapi kita diijinkan bertemu bahkan memiliki orang-orang hebat dan luar biasa di sekitar kita. Seperti yang kami rasakan.
Itu sebabnya kami selalu berjanji, untuk terus berusaha, selalu menjaga, tetap berjalan dan berjuang untuk mempertahankan hidup dalam takut akan DIA. Sebagai bentuk penghormatan kami atas hidup yang telah dianugerahkanNYA.
Wish all of u too, we pray.

Kamis, 26 Maret 2009

Berjumpa Kebaikan

Udara panas hari itu Jumat 20 Maret 2009, yang mengiringi perjalananku ke kantor pajak daerah atas, tidak menghentikan otakku, yang terus mengikuti urut-urutan jadwal pekerjaan yang menanti dan harus aku selesaikan hari itu.
Ada sedikit yang mengganggu, tentang waktu yang bakal kebuang di antrian panjang, karena waktu lapor adalah batas akhir.
Sesampai di pintu masuk, aku segera pencet tombol antrian, dan muncullah kertas bertuliskan 347. Aku tidak terkejut dengan angka tersebut, melihat buanyaknya manusia yang berkumpul diruang tunggu.
Tidak ada tempat duduk. Untuk menghabiskan waktu, aku iseng menuju tempat AR yang berada di seberang ruang tunggu untuk berkonsultasi tentang beberapa hal mengenai pajak yang aku belum jelas. Aku dipertemukan dengan AR yang baik dan sabar.
Setelah selesai aku kembali ketempat antrian. Tidak tempat buat duduk didalam ruangan. Aku ambil tempat duduk diluar ruangan.
Seperti biasa, aku asyik mendengar orang berbagi cerita. Tentang pengalaman mengantri dan perusahaan.
Baru 10 menit aku duduk tiba-tiba ada orang yang mengulurkan tangan menawarkan nomor antrian 216, karena dia tidak sabar menunggu. Spontan aku terima nomor itu dan sambil berucap terima kasih.
Sambil sesekali melirik nomor antrian, aku senyam senyum sendiri.
Aku tidak bisa menyembunyikan keterkejutan dan kegirangan aku. 10 menit kemudian nomor pemberian yang sudah ditanganku dipanggil.
Antrian yang semula aku prediksi akan selesai paling cepat pukul 14.30 wib.
Ternyata kondisi hari itu melawan kekuatiran yang ada dibenakku. 11.30 aku sudah berada dikantor lagi. Dan melanjutkan pekerjaan yang sudah antri untuk aku selesaikan hari itu.

Perkara kecil, tapi buat aku itu hal besar.
Kebaikan Tuhan tidak pernah bosan menemui kita setiap waktu. Di luar pikiran dan dugaan, tanpa kita minta. Apalagi kalau kita meminta.
Sebuah doa kecil mengiringi ucapan syukurku hari itu.
Aku akan terus menanti kebaikan Tuhan yang akan menjumpai aku berikutnya.

Tuhan tidak pernah memberi kita perintah tanpa memperlengkapi. Kalo DIA mengutus kita untuk memberitakan kabar baik, pasti kita akan terus dipertemukan dengan kebaikanNYA dan mengalaminnya. Untuk kemudian dapat membagi kebaikan itu dengan hati.

Selasa, 24 Maret 2009

Tentang Asa

Seandainya aku tidak pernah terlibat perbincangan itu,
seandainya waktu itu aku tidak mengumbar kekecewaan,
seandainya waktu itu aku peka,
seandainya ada mesin waktu yang dapat diputar,

seandainya… seandainya dan entah apa lagi yang akan mengalir dipikiran Asa untuk berandai-andai dan memikirkan kemungkinan lain yang akan terjadi selain kenyataan saat ini.
Ah sudahlah, memang semua harus terjadi, dengan atau tanpa adegan-adegan itupun, semua akan sampai pada saat ini. Cepat atau lambat semua hanya masalah waktu! Karena PEMERHATImu tau yang terbaik untuk hidupmu.
Kira-kira begitu Asa berdialog dengan dirinya sendiri.
Sebelumnya Asa sering jatuh bangun dalam beberapa kata, menyesal dan selfpity. Karenanya Asa sering dengan segera membentak hatinya untuk tidak kembali melewati dua jalur itu, dengan alasan apapun, no excuse batin Asa, ga capek apa…

today, I didn’t know exactly about d truth but… I feel, segala sesuatu dipulihkan begitu rupa. Onething have i desire of d Lord, segala yang terjadi semata-mata adalah pekerjaan TUHAN tanpa campur tangan manusia, siapapun dia. Supaya esensi kekal itu tetap ada. Satu per satu terurai tanpa Asa sadari, seperti janjiNYA.. Ia akan memunculkan kebenaranmu seperti terang, dan hakmu seperti siang..
Great! Go a head Asa…
Sekalipun kadang masih terasa ada yang ganjil, biar saja itu jadi urusan yang Maha Tau. Asa sudah sering mengingatkan hatinya, bahwa segala sesuatu di luar kontrolnya bukan urusan dia, semua mutlak urusan TUHAN, supaya Asa ga terkutuk dan tetap menjadikanNYA sebagai sandaran hidup, tempat persinggahan dan kekuatan hidup Asa.

Sekeping Cermin

Aku bahagia hari ini.
Ada damai, sukacita yang begitu adem mengalir. Jiwaku berkata., aku memuji TUHAN yang telah memberi nasihat kepadaku, ya pada waktu malam hati nuraniku mengajariku. Engkau memberitahukan kepadaku jalankehidupan, dihadapanMu ada sukacita berlimpah-limpah, ditangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa. Sudah sekitar satu bulan ini aku melalui hari yang begitu berat, sepertinya lebih berat dari hari-hari sebelumnya yang aku pernah bilang berat. Memang rasanya semakin hari semakin berat, namanya juga perjalanan. Mungkin karena dunia yang semakin tua dan TUHAN yang begitu sayang sama aq (orang sirik komentar GR.., jiwaku menjawab biar aja…hehe).Tuhan setia mengajar, menegur dan mengoreksi aku. Mengajari aku introspeksiprilaku dan tutur kata yang pernah meluncur dari lidahku. Yang tanpa sengaja dan tujuan apapun sudah melukai teman yang pernah berbagi cerita dengan aku. Ah, mereka terlalu banyak yang sungkan dengan aku, apalagi untuk menegur aku dengan kasih untuk sesuatu yang lebih baik dimasa yang akan datang. Mereka lebih memilih berkomunitas dan bersekutu mendiskusikan kesalah mengertian mereka terhadap aku dalam kepahitan. Aq pernah menangkap kalimat dalam suatu percakapan dengan beberapa teman, yang jika diteliti ulang ternyata mereka menyatakan kalimat yang mengandung sesuatu untuk aku. Sekilas terkesan bijak, karena mereka bertutur sepertinya dalam kelemahan dan kepasrahan tapi ternyata mengandung sesuatu. Aku tidak berani mengatakan apa tepatnya sesuatu itu, inti dari kalimat itu rata-rata berkata sok. Jenisnya beragam, ada yang ingin menyampaikan sok dipakai Tuhan, ada yang mau menyampaikan sok putih ato sok suci, etc,
Itu yang aku tangkap. Bebal! Aku mengumpat diriku seperti itu. Ternyata aku dungu, seharusnya saat itu juga aq bertanya “aku seperti itu ya?” tapi ini tidak. Dasar otak Pentium 0, ato aq memang ga mudengan kayak anak kecil. Yang aku bersyukur, sampai dengan saat ini aq ga pahit dengan itu semua. Tapi yang aq sayangkan masih belum ada yang bersedia menjadi saudara yang bisa menegur aq ato sekedar mengingatkan jika aq ada kesalahan. Mungkin mereka kurang menyadari bahwa hal ini sangat mempengaruhi atmosfer lingkungan sekitar. Karena bagi sebagian orang yang hanya mendengar secuil info terpacu untuk berpikir banyak sehingga merasa banyak tau. Dan bagi sebagian orang hal ini dianggap sebagai sebuah kebenaran baru yang sangat menggairahkan dalam memandang seseorang. Tentang kebenarannyaitu nomer kesekian yang penting blow up-nya. Sampai saat ini masih terbaca kebencian yang mengakar, right! aku pernah melakukankecerobohan dengan lidahku dimasa lalu. tapi aq juga sering mengucapkan kata maaf dengan tiba-tiba, malah kadang dalam suasana yang kurang tepat bagi kami (aku dan mereka), tapi tepat buat aku.Sebab kata maaf yang keluar dari aku tidak meluncur begitu saja, tapi biasanya berawal dari introspeksi (karya Sang PENJUNAN yang me-rework hatiku). Dan aku menerima jawab mereka dengan penuh kelegaan, karena menurutku ketulusan yang sebenarnya yang diberikan pada waktu itu.Tapi ternyata dari perbincangan masih sering terbaca kemarahan yang tidak disadari. Sebenarnya aku bisa tidak memperhatikan hal ini, karena yang menentukan bahagia dan tidaknya hatiku adalah diriku sendiri, tapi terus terang tetap terganggu.Aq punya temen share, orangnya easy going jadi sangat jarang aku ketemu dia melo. Banyak sekali celetukan dia yang bikin aku geli. Aku benci bahasamu terlalu rumit, terlalu tinggi, mbok yang simple gitu lo biar aq ga pusing. Kadang dia juga bilang kalimat yang sangat mengagetkan, dasar orang aneh, dicritain apa-apa gampang percaya, ngga irinan, spontan.ha4 kalo udah gitu aq cuma jawab, trus pie wong tinggal dengerin ‘n ngga dimintain pendapat. Waduh, too much, tapi thanks banget sist, aku bersyukur memiliki kamu, paling tidak aku ketemu sekeping cermin diriku dari kamu. Aku besyukur karena dia bersediamendeskripsikan diriku hanya dengan beberapa kalimat tapi berarti semua. Daripada aku dengar orang bilang, eh kamu dikatain dia begini, ato mereka bilang kamu begitu, dan semua tentang keburukan yang belum tentu kebenarannya. Kebanyakan dengan nada marah karena salah mengerti bahkan ada yang berisi fitnah… neraka banget kalo denger itu. Makanya aku sering menghentikan mereka, “sudah, besok lagi kalo kamu denger apapun tentang aq, yang baik ato yang buruk simpen buat kamu saja, tidak perlu disampaikan, kamu punya hak untuk kasi pendapat, aku tidak memerlukan pengakuan tentang pembenaran, apalagi pembelaan, aku juga tidak akan melakukan jumpa pers untuk klarifikasi, cape deh…tapi thanks untuk perhatiannya” begitu aqtutup kalimatku.Sebab aq sendiri kurang jelas dengan maksudnya, ya semua orang punya caranya masing-masing dan bebas mengekpresikan perasaannya, begitupun aku, bebas menentukan keputusan dalam ber-reaksi. Yang pasti aku akan memilih sesuatu yang tidak melukai diriku sendiri untuk hal-hal sepele seperti itu, meskipun dampaknyaakan sangat tidak baik. Adakalanya aku tidak sekokoh itu dalam mengambil keputusan, pada waktu lemah aku bisa langsung terjebak dalam ketidak mengertian yang sering membuat aku semakin terpuruk.Pada waktu kuat aku sering berkata dalam kepolosan, eh ternyata bagi sebagian orang ada permainan yang mengasikan dalam puzzle sas-sus dan ketidak pastian, kemudian bertanya dengan diri sendiri, diluar sana ada cerita apa lagi ya tentang aku. haha kayak iklan dancow.

Frameless

Hidup adalah suatu perjalanan, yangdipenghujungnya ada kekekalan. Hidup adalah suatu keputusan dari duaatau lebih pilihan yang selalu diperhadapkan setiap kali kita membukamata dan menghirup udara pagi. Benar salahnya pilihan kita menjadirangkain kisah hidup yang akan menentukan keadaan kita pada kehidupanselanjutnya. Seringkali kenyataan tidak sama dengan apa yang kitaharapkan, kadang malah jauuuuh sekali dari harapan kita. Tapi dalam keadaan seperti itu aku sangat dikuatkan dengan kalimat ini, "When the time hurled your dreams, and reallity smashed your hopes,remember onething.., that u still the perfection image of GOD."ada satu kalimat lagi yang senada dengan itu, "One said Life isbeautifull but the other side is hard. Just don’t judge from whatyou’ve looked ‘n knew, but look from what HE has done in u."
Wuuuiihh…dahsyat bangeet, kalimat iniselalu menguatkan hidupku dalam segala yang boleh aq alami diperjalanan waktu yang harus aq lalui. Tidak selalu tapi seringmembantu aq untuk lebih milih bersyukur daripada mengeluh, lebihmilih sabar daripada marah, and say i do daripada protes danmempertahankan pendapat., semuanya hanya sejauh kerelaan hatiku buatmelakukannya. Dengan segala proses yang sepertinya tidak pernahberhenti dalam bentuk apapun. Dari di salah mengerti, yang kadangmenimbulkan fitnah, perlakuan tidak menyenangkan dan tidak adil (duhkayak pasal hukum ya…but is d’ real…lanjutin ya., yuuk…!) yangbiasanya dilahirkan dari rasa iri, marah, dendam dari orang-orang disekitar. Itulah sekolah kehidupan (school of life) tepatnya sekolahhati (school of heart…hehe nggaya ik..), dan satu kata kunci yangbisa buat kita bertahan menikmati. Sebab menikmati itupun ternyatasuatu anugerah.
Kadang Duka datang seperti tamu takdiundang yang bisa saja terjadi dalam hitungan detik.tanpapandang suasana, mengusir asa dengan segala nafas yang menghidupinyadengan sangattiba-tiba, lenyap sama sekali begitupun bayanganyang mengikutinya.dan seketika pahit menjadi sesuatu yang begitu karib. Gelap dan tertutup sebagai penyempurnaketerpurukan.Fluktuatif, itulah kehidupan, segala sesuatu bisasaja terjadi dan berubah dalam hitungan detik. Perubahan perasaan,prilaku dan gaya hidupHal-hal diluar jangkauan dan perhitunganmanusia, bahkan rumus matematika yang pernah digunakan untuk penemuansehebat apapun tidak mampu memberikan prediksinya.Semua hanya adadalam kontrol penguasa alam dan kehidupan. Beragam penyebab yangmendahuluinya.,Bisa dari sebuah percakapan yang tidak disengaja,saling melempar pendapat tentang seseorang kemudian mendiskusikannyasebagai sebuah penemuan dan kebenaran baru yang bisa membuat hidupmenjadi lebih hidup. Darimana kita tau bahwa teman kita tidak sebaikatau setulus apa yang kita pikirkan, atau kita menjadi sakit hatikarena merasa dibohongi. Semua datang dari telinga yang lupa menutupdiri dan seijin hati yang menyediakan tempat bagi si "Luka"tamu tak diundang.
Apa yang salah…jawabnya…Tidak ada,kalau ada itu akibat dari ketidak mampuan kita untuk menghentikanotak yang berpikir terlalu berlebihan sehingga harus ada reaksi yangsalah.Akupun pernah terlibat dan menjadi bagian dalamperbincangan sejenis dimasa yang lalu, bahkan mungkin sampai denganhari aku menulis.Yang tidak saya mengerti aku jarang bisa sejalandengan kelanjutannya. Share sudah disalah artikan, berkembangmenjadi ajang diskusi tentang seseorang dengan tema kekurangan tanpamenghiraukan kelebihan dan nilai positif yang dimiliki, kemudianditutup dengan kebaikan diri sendiri. Padahal Menurutku share adakarena kebutuhan kita yang ingin menyampaikan tentang apa yang adadiperasaan, mungkin melibatkan seseorang atau lebih, tanpa berniatsupaya pendengar bersimpati untuk kemudian berpihak dan membenarkanpendapat kita. Inilah yang saya maksud share megikuti perkembanganjaman menjadi sebuah kampanye.Pendapat yang berseberangan bagisekelompok orang dijadikan alasan untuk memberi penilaian danpandangan bagi seseorang sepanjang masa, kemudian membingkai dengansebuah FRAME. tanpa menyadari bahwa hidup ini dinamis, mudah berubah. Mungkin akan lebih baik kita memandang seseorang tanpamemberi frame buram apalagi sebagai harga mati, istilah kerennyaframe-less.
Seperti dinamisnya kehidupan, Frame-less akan memberikebebasan kepada kita untuk tidak memenjarakan diri dengan kebenciankepada orang lain. Sebab kebencian hanya melahirkan dendam dandukacita yang tidak pernah habis.
Yang lebih parah lagi pendapatberseberangan yang membentuk amarah menjadi upacara peletakan batupertama untuk membangun sebuah mercusuar kebencian abadi bermahkotairi dan dendam.untuk kemudian menghuninya sebagaitawanan.Bebaskan diri dari penjara kebencian, supaya kita bisamemberi ruang yang lebih luas bagi hati kita sekaligus melatih otakuntuk terbiasa berpikiran positif dalam segala hal.
Akan terkesan aneh dan beda itu pasti, namanya jugapilihan…Tapi jangan takut menjadi beda, sejauh perbedaan itumembentuk kita menjadi pribadi yang excellent.

Hanya perlu satu menit untuk menghancurkan seseorang
satu jam untuk menyukai seseorang
satu hari untuk mencintaiseseorang
tetapi membutuhkan seumur hidup untuk melupakan
seseorang yg kita rasabegitu dekat dan berarti dalam hidup kita
hanya Tuhan yang mengetahui yang terbaik
akan memberikesusahan untuk menguji kita.
Kadang Ia pun melukai hati, supayahikmat-Nya bisatertanam dalam.
Jika kita kehilangan cinta, makapasti ada alasan di baliknya.
Alasan yang kadang sulit untukdimengerti
namun kita tetap harus percaya bahwa ketika Ia mengambil sesuatu,
Ia telah siap memberi yang lebih baik.

indie *21006

Rabu, 18 Maret 2009

Tentang Rasa...

Kejujuran seperti Ice Cream,
kalo tidak dilahap bakalan cepet meleleh...
hilang di telan hawa panas....

Bisep ditangan itu kan otot fisik... Nah!
Kejujuran itu otot mental...
Dan otot harus di latih terus biar kuat...

Untuk hari ini latihan kejujuran ku...
Jujur pada diri sendiri...
Kadang... aku takut, takut kalo intuisi ku mengenai banyak hal selama ini salah...
Kadang... aku takut, takut kalo aku bangun besok, matahari nggak muncul di Timur...
Atau..., gimana kalo aku bangun besok, Dan...aku baru tau, kalo..., kalo hati bisa salah...

hmm, in this case... i just want to say..., How do i live without YOU...
sebab dalam perjalanan untuk tetap percaya..., rasa itu pun bisa tiba-tiba muncul dan menyelinap begitu saja ...

Senin, 16 Maret 2009

Mahalnya Legalitas

Legalitas yang dilakukan Yesus
Legalitas, sebuah kata familiar buat anak-anak yang baru lulus sekolah kemudian ingin melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya, selalu butuh legalisir ijasah untuk bukti keaslian data fotocopy yang harus diserahkan.
Dunia bisnis juga perlu legalitas surat dan data yang ada sebagai jaminan keamanan.
Tapi saya tidak sedang membahas legalitas dalam arti yang sesungguhnya, melainkan mengenai legalitas yang sudah Tuhan buat bagi hidup kita seperti dalam Yoh 3:16.
“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal”
Bapa berpendapat bahwa hubungan manusia dengan Dia membutuhkan legalitas. Untuk itu Dia lakukan buat kita.
Ada 3 teladan atas korban yang bisa kita ambil dalam legalitas yang sudah Allah kerjakan.

  1. Melepaskan hak
    Dia harus merelakan haknya sebagai anak, dan turun menjadi manusia biasa dan mengambil alih seluruh dosa kita meliputi cela, rasa malu dan penderitaan, hanya supaya kita juga bisa memiliki hak yang sama seperti Dia, yaitu hak menjadi anak dan hak sebagai ahli waris kerajaan Surga. Mari sejenak berandai-andai, apa yang terjadi dengan kita seandainya kita di posisi Yesus, kemudian mempertimbangkan kehendak Bapa dan menolak menjadi manusia biasa, kemudian menolak kehendak Bapa dan memilih untuk tenang tinggal dekat Bapa dan menikmati kelimpahan, kedamaian Surga. Asli hidup kita pasti habis binasa dalam maut.
    Tapi kita harus bersyukur keputusan yang diambil Yesus dalam ketaatanNya kepada Bapa bagi kita, karena sobat hari ini masih bisa baca tulisan ini, itu berarti keselamatan berikut hak-hak Yesus beralih menjadi milik kita.
    Untuk itu kita harus kerjakan keselamatan dengan takut dan gentar kepada Tuhan. Yang terpenting meneladani apa yang sudah Dia buat.
  2. Mengambil alih dosa
    Menanggung dosa atas perbuatan manusia. Menanggung cela dan malu, sebab pengakuanNya. Pasti sobat pernah liat film the passion of Christ kan, kalau sobat simak dialognya pasti sobat menangkap dan bisa merasakan Yesus harus menanggung rasa malu karena olok-olok dan kepedihan karena beberapa saat harus merasa ditinggalkan Bapa pada waktu yang begitu berat. Dalam Mat 27:40-46
    27:40 mereka berkata: "Hai Engkau yang mau merubuhkan Bait Suci dan mau membangunnya kembali dalam tiga hari, selamatkanlah diri-Mu jikalau Engkau Anak Allah, turunlah dari salib itu!"
    27:41 Demikian juga imam-imam kepala bersama-sama ahli-ahli Taurat dan tua-tua mengolok-olokkan Dia dan mereka berkata:
    27:42 "Orang lain Ia selamatkan, tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat Ia selamatkan! Ia Raja Israel? Baiklah Ia turun dari salib itu dan kami akan percaya kepada-Nya.
    27:43 Ia menaruh harapan-Nya pada Allah: baiklah Allah menyelamatkan Dia, jikalau Allah berkenan kepada-Nya! Karena Ia telah berkata: Aku adalah Anak Allah."
    Dan itu tetap Yesus lakukan dalam ketaatan atas kehendak Bapa bagi kita.
  3. Menyerahkan kehidupan
    “Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan” (Yoh 10:10)
    Maut yang ditanggungNya adalah untuk sebuah kehidupan bagi kita, bahkan bukan hanya sebuah hidup tapi kita miliki dalam segala kelimpahan bahkan kekekalan.
    Teladan mulia yang harus kita hidupi sebagai hayat.
    Legalitas yang dilakukan manusia
    Sebenarnya ada pilihan, mengklarifikasi kesalah mengertian atau diam kemudian melakukanlegalitas pendapat.
    Sama seperti Yesus, Dia juga bisa mempertimbangkan dan memilih, tapi pilihan Yesus berdasar ketaatan atas kehendak Bapa demi penggenapan sebuah janji yaitu keselamatan dunia.

Sebenarnya manusia dengan segala keterbatasannya pun bisa memilih untuk melihat, menangkap dan melakukan yang baik dengan bantuan Roh Kudus, layaknya teladan yang sudah diberikan Yesus.
Tapi banyak dari kita tidak meneladani legalitas yang sudah dilakukanNya dan memilih diam kemudian melakukan legalitas atas dasar ego atau keinginan daging (hawa nafsu).
Disini letak kontradiksi antara legalitas yang dilakukan Allah dan legalitas yang dilakukan manusia.
Manusia melakukan legalitas hanya demi membenarkan pendapat. Sehingga teladanNya pun ikut diputar balikkan.

  1. Merasa berhak
    Ketika opini yang dilempar tidak mendapat respon yang baik dari yang bersangkutan, manusia merasa berhak untuk mencelupkan ybs ke dalam gudang WIPnya (hehehe, Work In Process) dan kemudian mempengaruhi orang-orang disekitarnya dengan berbagai cara, baik yang terpuji dan tidak terpuji (biasanya sih tidak terpuji) demi membuktikan kebenaran pendapatnya. Sampai pada titik dimana lingkungan yang dikehendakinya mengakui, kamu benar.
    Pertanyaannya, benar menurut siapa dan untuk apa, itu juga sebuah case yang mutlak harus dijawab.
    Kalau Yesus jelas untuk menggenapi kehendak Bapa dan untuk keselamatan dunia, termasuk sobat dan saya.
  2. Mengalihkan beban
    Sebenarnya, dalam hati kecil manusia pemberi opini tsb sudah menemukan jawaban, dan membuktikan bahwa opininya salah. Tapi beban atas rasa salah dan rasa tidak nyaman dari penemuan itu justru tidak digunakan sebagai rekonsiliasi atau penyelesaian dengan ybs tapi justru mengalihkannya kepada orang penerima opini dengan sebuah kalimat “biar tau rasa”. Yang dimaksud rasa disini hanya pemberi opini yang tau. Kalau yang dimaksud adalah rasa cela dan rasa malu dsb, untuk kita yang sudah memahami legalitas yang dilakukan Allah tidak perlu dijadikan beban. Tapi serahkan setiap perkara yang tidak kita pahami ke dalam tangan Tuhan, biar Tuhan yang berperkara.
  3. Mengambil kehidupan
    Karakter adalah sebuah kehidupan, dan pembuktian sebuah pendapat selalu berhubungan dengan pembunuhan karakter (hehehe, bahasanya anarkis ya, tapi saya tidak berhasil menemukan kata yang tepat selain itu).
    Biasanya dengan kalimat “kalau dia memang orangnya begitu, liat saja nanti akan begini”
    Ketika manusia berhasil membunuh karakter seseorang, saat itu juga manusia merasa bahwa karakternya sudah muncul dalam sebuah kebenaran yang dia ciptakan sendiri melalui sebuah legalitas opini yang sudah dia selesaikan.
    Padahal pemberi opini belum memahami dengan jelas penerima opini, even more pemberi opini belum memahami dengan jelas, apalagi lingkungan yang hanya melihat sebuah akhir tanpa tau sebenarnya dengan mudah berkata, ooo yang kamu bilang itu benar.
    Hm, kalo kesaksian tentang kebaikanNya yang dibagikan pasti menjadi berkat, tapi kalo hal tidak baik, itu akan jadi ragi dan mengkamirkan adonan.

Hari ini saya juga dipaksa menyaksikan dan menyetujui beberapa opini tentang saya itu, karena lingkungan yang mereka kehendaki sudah membuktikan legalitas opini tsb.
Saya hanya bersyukur, tersenyum kemudian berserah.
Karena saya menyadari betapa rumitnya mengumpulkan jawaban mengapa yang muncul didalam hati dan pikiran saya.
Tepatnya awal taon, 2 Januari 2008, saya melepas aktifitas dan kesibukan sia-sia saya mengumpulkan jawaban untuk setiap mengapa yang muncul.
Waktu saat teduh pukul 9 pagi, saya make a wish, dan saya menyelipkan beberapa mengapa, berikut jawaban yang terkumpul. Saya sampai pada batas ketidak mampuan untuk memahami semuanya kemudian saya menangis dengan ratapan. Di tengah isak saya yang panjang, ada sebuah pertanyaan lembut yang tertangkap dengan jelas oleh telinga secara audible dan telinga hati saya “apakah pertanyaanmu, membuat kamu sejahtera, dan jawaban yang terkumpul mengurangi bebanmu dan membuatmu damai?” saya spontan jawab “tidak” suara itu melanjutkan “siapa yang mengharuskan kamu melakukan itu”. Sejenak saya diam, kemudian menjawab “ga ada”. Selanjutnya suara itu hanya menitipkan pesan dalam hati tentang hal yang harus saya kerjakan.

  1. Tetap tinggal dalam hadiratNya disetiap kesempatan.
  2. Berusaha hidup baik dan benar dihadapan Tuhan dan manusia.
  3. Mazmur 37:1-8

Selebihnya hal diluar kemampuan dan kekuatan saya, akan diambil alih oleh kasihNya.
Sebuah pesan indah yang pasti saya bisa kerjakan selama saya mengandalkan Dia.
Sebab kuasaNya tetap berlaku atas hidup kita sejauh iman percaya kita dan mujizatNya pun tetap berlangsung bagi hidup kita sejauh ucapan syukur yang kita naikan dari hati yang mengasihi Dia.

Abigail Indiana

Foto saya
I am a product of GOD's Grace. Single, Simple person but will always be an extraordinary person. Just a nature, Truth lover, jazzy lover, coffee lover. Selalu mendefinisikan setiap fase hidup dengan ucapan syukur. I love my beloved Savior, He loves me unconditionally.